Skip to main content

Posts

Merayakan Desember: Refleksi, Relasi, dan Harapan di Penghujung Tahun

Memasuki bulan Desember, kita sebagai umat Kristiani mulai diselimuti berbagai nuansa Natal yang khas—dari hiruk-pikuk persiapan perayaan hingga kehangatan kebersamaan yang terasa di setiap sudut. Di tengah semua itu, hadiah Natal selalu menjadi salah satu highlights yang paling dinanti-nantikan. Momen tukar kado bukan sekadar tradisi, melainkan kesempatan langka di mana canda dan tawa menghiasi wajah kita, di mana ketulusan dan kegembiraan bertemu dalam satu bingkai sederhana. Tapi Natal bukan cuma soal hadiah atau pesta meriah. Natal adalah momen kita berkumpul—benar-benar berkumpul—dengan orang-orang yang berarti dalam hidup kita. Ini adalah waktu untuk bertukar cerita, berbagi sukacita, dan mengapresiasi perjalanan yang sudah kita lalui sepanjang tahun. Dan yah, rasanya baru kemarin kita menyambut 2025, tapi kini tahun ini sudah hampir berakhir. Masa-masa seperti ini perlu kita nikmati dengan penuh syukur, karena ini adalah karunia yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Pengkhotb...
Recent posts

Sampai kapan menunggu semangat itu tiba?

Bicara soal semangat, memang gampang-gampang susah. Kita seringkali disuruh untuk bersemangat, bersukacita, dan melakukan segala sesuatu dengan energi yang terbaik yang kita punya. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu. Pengkhotbah berkata, " Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya ." ( Pengkhotbah 3:1 ), lebih lanjut ( Pengkhotbah 3:4 ) " ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari. "  Jadi memang sebagai manusia, wajar ada waktu-waktu dimana kita tidak memiliki semangat atau antusiasme dalam melakukan banyak hal di hidup ini. Belum lagi kita bicara faktor keadaan sekeliling kita, Rasul Paulus berkata dalam 2 Timotius 3:1 , bahwa  pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Data yang ada menyatakan bahwa sekitar 1 dari 100 penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia mengalami depresi, dan 87% penderita depresi di Indonesia tidak berobat. Kondisi ini menggambarka...

Perspektif Lain atas Integritas

Sebagai salah satu value yang penting, integritas seringkali dibicarakan, tapi umumnya sebatas satu arah dari atas mimbar, karena saya menyadari bahwa tidak semua orang nyaman bicara soal integritas, apalagi dalam konteks rohani. Mempraktekkan integritas, bisa jadi sulit atau mudah tergantung lingkup yang kita terapkan. Semakin banyak kita kompromi dengan dunia, semakin sulit kita menjaga integritas kita. Misalnya kalau kita bicara soal kompromi, mungkin saya dengan yakin bisa mengatakan bahwa saya tidak pernah kompromi terhadap uang yang dipercayakan untuk saya kelola, tapi bagaimana dengan waktu? Sesekali saya jam makan siang saya melebihi ketentuan perusahaan.  Bagaimana dengan kualitas? Apakah kita pernah "terpaksa" memberikan kualitas pekerjaan/barang/jasa yang lebih rendah kepada seseorang karena berbagai "keterbatasan" kita? Atau pernahkah kita mencoba "mengakali" atau mencurangi sebuah sistem agar kita mendapat keuntungan yang seharusnya tidak kita...

Proses Pemurnian Hati dalam Hidup

Dalam Alkitab, salah satu aspek kehidupan yang sering dibahas adalah Hati. Daud pun bermazmur bahwa orang dengan hati yang murni akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Bahkan Daud berkata bahwa orang dengan hati yang murni boleh naik ke atas gunung TUHAN dan boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus. Selain itu, berkali-kali di Alkitab, rasul Paulus juga mendorong dan mengajar agar kita memiliki hati yang murni. KBBI sendiri memaknai kata 'murni' sebagai sebuah kondisi yang tidak bercampur dengan unsur lain. Dalam bahasa inggris, kata 'pure' juga dimaknai sebagai sebuah kondisi yang 'free of any contamination' Dari konteks ini, kita ada dua kesimpulan yang bisa saya tarik. Pertama, hati yang murni artinya hati yang konsisten dan penuh integritas sehingga tidak mudah dibuat bimbang oleh berbagai kejadian dalam hidup. Hal ini dijabarkan dalam Yakobus 1, dimana dikatakan dalam ayat 6 , "..orang yang bimbang sama dengan gel...

Pemuridan: Dari Mengetahui ke Menghidupi

Topik pemuridan seakan tak pernah lekang waktu. Di berbagai gereja, di berbagai belahan dunia, ia tetap menjadi sorotan utama. Bukan sekadar tren rohani yang baru muncul belakangan, pemuridan adalah cara yang Kristus sendiri jalani ketika Ia hidup di dunia—sebuah warisan yang menjadi fondasi gereja hingga hari ini. Tanpa murid-murid Kristus, mungkin kita tak lagi mengenal siapa Dia sekarang. Inisiatif pemuridan sendiri merupakan sebuah perintah yang Kristus berikan dengan kuasa penuh kepada kita semua, " Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. " ( Matius 28:18-20 ) Namun, di tengah derasnya aktivitas rohani zaman ini, saya melihat sebuah fenomena yang menggelitik: makna pemuridan sering menjadi kabur, bahkan terlalu fleksibel. Apakah cukup dengan hadir di cell group lalu kita dapat berkata sedang dimuridkan? Atau, secara lebih mendalam, apakah ...

More Than Just a Religion

Sadarkah kita bahwa menjadi seorang Kristen di Asia bukanlah sebuah keputusan yang menguntungkan. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari persekusi, kesulitan dalam beribadah, hingga tuntutan moral dan sosial yang tinggi. Data dari International Christian Concern menunjukkan ada sekitar 415 juta umat Kristen di Asia pada tahun 2024/2025, setara dengan 8% dari total populasi benua tersebut. Di Indonesia sendiri, angkanya mencapai 20,9 juta jiwa (Protestan), atau sekitar 7,40% dari keseluruhan populasi kita. Di tengah realitas ini, pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan: mengapa kita memilih untuk menyandang identitas sebagai seorang Kristen? Bagi saya, tidak mudah menjawab pertanyaan ini, tapi sebagian besar dari kita, menurut saya akan menjawab: karena kita percaya bahwa ini adalah kebenaran/jalan hidup yang paling meyakinkan. Kembali lagi kepada keputusan kita untuk menjadi orang Kristen, pertanyaannya, apakah kita benar-benar percaya?  Mungkin,  y...

Apakah Hidup Kita Bermakna Bagi Orang Lain?

Alkitab mencatat bahwa Tuhan tidak pernah memandang manusia sebagai makhluk kecil yang tak berarti. Sebaliknya, sejak awal penciptaan, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan " menurut gambar dan rupa-Nya " ( Kejadian 1:26 ). Itu berarti hidup kita—setiap pikiran, kata, dan tindakan—mengandung potensi untuk merefleksikan karakter Allah di bumi ini. Dalam konteks ini, pernah gak,  kita berpikir, apa yang akan terjadi, jika kita tidak ada di dunia ini? Jika suatu hari kita tidak ada, adakah lubang yang terasa kosong di keluarga, komunitas, atau tempat kerja kita? Apakah hidup kita membawa manfaat... atau hanya menjadi konsumen dari kebaikan orang lain? Ini bukan soal eksistensi, tapi soal kontribusi . Alkitab tidak hanya berbicara tentang keberadaan kita, tetapi menggarisbawahi betapa pentingnya fungsi kita bagi sesama . Tuhan menciptakan kita bukan hanya untuk "ada", tetapi untuk "berfungsi" dalam kasih dan kebenaran. Kita hidup di dunia yang terus-men...

Refleksi Paskah: Ketaatan Maria

Kita baru saja melalui peringatan Jumat Agung dan Paskah , di mana kita kembali diingatkan akan karya terbesar Kristus sebagai teladan hidup kita. Dari Kristus, kita belajar tentang pengorbanan , ketaatan , dan kasih yang luar biasa . Tak ada pribadi lain yang mau dan mampu menyerahkan diri-Nya sebagai ganti dosa-dosa kita. Seperti yang disampaikan-Nya dalam   Yohanes 10:10 , " Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. " Momen ini adalah saat yang tepat untuk kembali merenungkan makna pengorbanan dan ketaatan. Dan dari sekian banyak tokoh dalam Alkitab, Tuhan menaruh Maria, ibu Yesus Kristus, dalam hati saya—sebagai sosok yang bisa menjadi teladan ketaatan sejati dalam perjalanan kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dalam perenungan ini, saya mulai memahami lebih dalam berbagai nuansa emosional dalam hidup Maria, terutama sejak perjumpaannya dengan malai...

Menghadapi Goncangan: Apakah Iman Kita Akan Bertahan?

Belakangan ini, sepertinya banyak perubahan besar yang terjadi di dunia, beberapa mungkin terasa baik, beberapa mungkin terasa buruk. Ada perubahan yang memberi harapan, ada juga perubahan yang seakan mengubur harapan kita. Terlebih lagi, kita tidak bisa menghindari perubahan tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi dari berbagai sisi, baik ekonomi, relasi, keluarga, politik, pekerjaan, dan lain-lain. Sayangnya, semakin banyak kita dengar apa yang terjadi, sebagian dari kita semakin apatis dengan dunia ini. Pertanyaannya, bagaimana posisi kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus? Apakah kita bisa menghadapi situasi saat ini dengan baik, atau justru kita malah tergoncangkan oleh apa yang terjadi? Kalau bicara mengenai apa yang terjadi di dunia dalam 1 dekade terakhir, mungkin orang-orang yang mendeklarasikan diri sebagai pengikut Kristus seharusnya sudah dapat memperkirakan dan mengantisipasi hal ini, sebab hal ini sudah berulang kali disebutkan dalam Alkitab. Misalnya, dalam kit...