Skip to main content

Proses Pemurnian Hati dalam Hidup

Dalam Alkitab, salah satu aspek kehidupan yang sering dibahas adalah Hati. Daud pun bermazmur bahwa orang dengan hati yang murni akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Bahkan Daud berkata bahwa orang dengan hati yang murni boleh naik ke atas gunung TUHAN dan boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus. Selain itu, berkali-kali di Alkitab, rasul Paulus juga mendorong dan mengajar agar kita memiliki hati yang murni.

KBBI sendiri memaknai kata 'murni' sebagai sebuah kondisi yang tidak bercampur dengan unsur lain. Dalam bahasa inggris, kata 'pure' juga dimaknai sebagai sebuah kondisi yang 'free of any contamination' Dari konteks ini, kita ada dua kesimpulan yang bisa saya tarik.

Pertama, hati yang murni artinya hati yang konsisten dan penuh integritas sehingga tidak mudah dibuat bimbang oleh berbagai kejadian dalam hidup. Hal ini dijabarkan dalam Yakobus 1, dimana dikatakan dalam ayat 6, "..orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin." dan ayat 8, "Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."

Lalu yang kedua, hati yang murni mampu menghalau pengaruh dunia, seperti yang dinyatakan Firman Tuhan dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Secara nyata, artinya apa? Menurut saya, ketika hati kita murni, maka kebaikan tidak bercampur dengan maksud tersembunyi; Ucapan selamat tidak bercampur dengan iri hati; Rasa syukur tidak bercampur dengan ketamakan; dan Kebenaran tidak bercampur dengan kompromi.

Sadar tidak sadar kita sebagai makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, memiliki preferensi yang serupa juga. Misalnya, kalau kita mau membeli emas, kita tentu menginginkan emas yang paling murni. Dan kalau kita perhatikan, hampir semua hal yang tingkat kemurniannya tinggi, memiliki valuasi yang tinggi pula. Harga mineral apapun dengan tingkat kemurnian 99.9% tentu akan lebih tinggi daripada yang kadarnya lebih rendah (yang artinya masih terkontaminasi/tercampur dengan zat-zat lainnya). Batu berlian memiliki kadar karbon sekitar 99.95%, batu permata seperti rubi dan safir juga memiliki tingkat kandungan alumina mendekati 100%.

Di sisi lain, alasan mengapa sebuah zat yang tingkat kemurniannya tinggi diberi valuasi yang tinggi bukan hanya karena tingkat kemurniannya, namun juga karena tingkat kesulitan dalam pembuatannya. Secara umum, proses pemurnian dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu konversi bentuk dan pemisahan komposisi. Saya merasa proses pemurnian dalam ilmu pengetahuan, dapat juga diterapkan secara analogis dalam kehidupan kita.

Bicara soal konversi bentuk, bentuk yang paling mudah dalam proses pemurnian adalah bentuk cair (liquid). Zat dalam bentuk padat/keras seringkali perlu dilarutkan menggunakan zat asam. Semakin keras sebuah zat, semakin lama dan sulit proses konversinya. Dalam hidup, kita juga mengenal istilah "asam garam" kehidupan. Anak-anak muda yang biasanya cenderung "keras" seiring dengan bertambahnya kadar asam garam kehidupan akan menjadi lebih "fleksibel" menghadapi sulitnya hidup. Dari sini kita bisa belajar bahwa proses konversi ini bukan proses yang mudah.  Semakin keras hati kita, semakin lama dan berat prosesnya, sebaliknya, semakin lembut hati kita, semakin mudah dan cepat prosesnya. 

Masuk kepada proses yang kedua, adalah proses pemurnian yang sesungguhnya. Dalam proses ini biasanya sebuah zat akan masuk dalam sebuah autoclave (pressure cooker) dalam suhu & tekanan tinggi untuk memisahkan zat yang diinginkan dari zat lainnya yang dianggap sebagai kontaminan. Dalam kehidupan, banyak hal-hal yang Tuhan ijinkan terjadi supaya hati kita menjadi semakin murni. Misalnya, jika kita ingin memiliki kesabaran, justru kita seringkali menemukan berbagai kejadian maupun individu yang melatih kesabaran kita dan 'memaksa' kita membuang sifat ketidak-sabaran yang ada pada kita.

Dalam Alkitab, Yohanes pembaptis berkata dalam Matius 3:11, "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api." Saya pribadi merasa kedua proses ini to some extent bisa menjadi analogi yang mewakili baptisan Roh Kudus yang melembutkan, dan baptisan api yang memurnikan.

Pada akhirnya, hati yang murni bukanlah sesuatu yang kita capai sekali jadi, melainkan hasil dari perjalanan bersama Tuhan—dilembutkan oleh Roh-Nya dan dimurnikan oleh api kehidupan. Semoga kita terus bersedia dibentuk, agar dalam setiap ucapan, keputusan, dan tindakan, orang lain dapat melihat kemurnian Kristus yang hidup di dalam kita. (CBA)


Comments