Skip to main content

Merayakan Desember: Refleksi, Relasi, dan Harapan di Penghujung Tahun

Memasuki bulan Desember, kita sebagai umat Kristiani mulai diselimuti berbagai nuansa Natal yang khas—dari hiruk-pikuk persiapan perayaan hingga kehangatan kebersamaan yang terasa di setiap sudut. Di tengah semua itu, hadiah Natal selalu menjadi salah satu highlights yang paling dinanti-nantikan. Momen tukar kado bukan sekadar tradisi, melainkan kesempatan langka di mana canda dan tawa menghiasi wajah kita, di mana ketulusan dan kegembiraan bertemu dalam satu bingkai sederhana.

Tapi Natal bukan cuma soal hadiah atau pesta meriah. Natal adalah momen kita berkumpul—benar-benar berkumpul—dengan orang-orang yang berarti dalam hidup kita. Ini adalah waktu untuk bertukar cerita, berbagi sukacita, dan mengapresiasi perjalanan yang sudah kita lalui sepanjang tahun. Dan yah, rasanya baru kemarin kita menyambut 2025, tapi kini tahun ini sudah hampir berakhir.

Masa-masa seperti ini perlu kita nikmati dengan penuh syukur, karena ini adalah karunia yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Pengkhotbah mengingatkan kita dalam Pengkhotbah 5:18-20:

Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.

Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah.

Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.

Firman ini mengingatkan kita bahwa kegembiraan dan sukacita dalam hidup bukanlah sesuatu yang harus kita rasakan bersalah karenanya—justru itu adalah bagian dari berkat Allah yang patut kita syukuri.

Ketika Tahun Ini Terasa Berat

Tentu saja, tidak semua orang mengalami tahun yang menyenangkan. Mungkin sebagian dari kita justru sedang berada di tengah tantangan terberat dalam hidup—entah itu soal karier, kesehatan, keluarga, atau pergumulan iman yang mendalam. Kalau kamu merasa seperti itu, aku ingin kamu tahu: jangan menjadi tawar hati. Janganlah menjadi lemah dalam iman kita.

Tantangan yang kita hadapi hari ini adalah bagian dari perjalanan iman kita. Ini adalah perlombaan yang Allah sediakan bagi kita, bukan untuk menghancurkan kita, tapi untuk membentuk kita—supaya kita mendapatkan hadiah terbaik di ujung perjalanan kelak. Saya percaya bahwa pergumulan kita hari ini akan menjadi bagian dari jawaban bagi pertanyaan seseorang di masa yang akan datang. Penderitaan kita tidak sia-sia; kesaksian kita akan menjadi terang bagi orang lain.

Paulus mengingatkan kita dalam 1 Korintus 9:24-27:

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Kita tidak berlari tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap air mata, setiap pergumulan—semuanya ada artinya dalam rencana Allah yang lebih besar.

Momen untuk Menengok ke Belakang dan Menatap ke Depan

Terlepas dari apapun keadaan kita—baik sedang bersukacita atau sedang berjuang—saya percaya bahwa momen akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk melakukan recap dan evaluasi. Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali hal-hal penting yang sudah terjadi sepanjang tahun: pencapaian apa yang sudah kita raih? Kegagalan apa yang sudah kita alami? Pelajaran apa yang sudah kita petik?

Evaluasi ini membantu kita melihat dengan jelas di mana posisi kita berdiri saat ini, dan sejauh apa kita dari tujuan yang hendak kita capai di masa depan. Tanpa refleksi, kita hanya akan berlari tanpa arah—seperti yang Paulus katakan, seperti petinju yang memukul udara.

Relasi: Harta Karun yang Sering Terlupakan

Kalau ditanya apa elemen paling penting di tahun 2025 bagi saya, jawabannya adalah: relasi. Begitu banyak kejadian penting dalam hidup saya di tahun ini yang mendorong saya untuk lebih menghargai hubungan-hubungan baik yang dibangun dalam hidup ini—baik dalam konteks profesional maupun personal.

Ada hubungan-hubungan lama yang terus dijaga dengan setia, dan ada juga hubungan-hubungan baru yang mulai dibina dengan penuh harapan. Bagi saya yang selama ini punya pemikiran bahwa "people come and go, as seasons come and go," tahun ini mengajarkan saya bahwa kedua-duanya sama pentingnya. Orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup kita membawa pelajaran mereka masing-masing. Tapi orang-orang yang bertahan, yang memilih untuk tetap ada—mereka adalah anugerah yang luar biasa.

Saya jadi teringat sebuah cuplikan podcast yang sempat menggelitik pikiran dan perasaan saya beberapa waktu lalu. Di sana dikatakan bahwa orang yang bisa kita hubungi untuk bercerita ketika kita sedang dalam masalah memang penting dan berharga. Tapi tahukah kamu? Justru orang-orang yang bisa kita hubungi untuk mengabarkan hal-hal terbaik yang terjadi dalam hidup kita itu jauh lebih langka dan lebih berharga lagi.

Pikirkan sejenak: berapa banyak orang di hidupmu yang benar-benar bisa kamu ajak berbagi sukacita tanpa merasa bahwa kamu sedang pamer atau sombong? Orang-orang inilah yang akan menerima berita gembiramu dengan tulus, yang akan ikut bersukacita bersamamu, yang akan merayakan kemenanganmu seolah-olah itu adalah kemenangan mereka juga. Orang-orang seperti ini adalah harta karun yang perlu kita jaga dengan sepenuh hati.

Dekatkan diri kita dengan orang-orang yang membangun, yang lebih memilih memberikan teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Sebab, Alkitab mencatat: Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah. (Amsal 27:5-6

Di penghujung tahun ini, mari kita merayakan—baik sukacita maupun pergumulan kita. Mari kita bersyukur atas orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Dan yang paling penting, mari kita terus berlari dengan penuh harapan, karena kita tahu bahwa mahkota yang menanti kita di akhir perlombaan ini adalah mahkota yang abadi.

Selamat Natal, dan selamat menutup tahun 2025 dengan penuh syukur. 🎄

Comments