Skip to main content

More Than Just a Religion

Sadarkah kita bahwa menjadi seorang Kristen di Asia bukanlah sebuah keputusan yang menguntungkan. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari persekusi, kesulitan dalam beribadah, hingga tuntutan moral dan sosial yang tinggi.

Data dari International Christian Concern menunjukkan ada sekitar 415 juta umat Kristen di Asia pada tahun 2024/2025, setara dengan 8% dari total populasi benua tersebut. Di Indonesia sendiri, angkanya mencapai 20,9 juta jiwa (Protestan), atau sekitar 7,40% dari keseluruhan populasi kita.

Di tengah realitas ini, pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan: mengapa kita memilih untuk menyandang identitas sebagai seorang Kristen? Bagi saya, tidak mudah menjawab pertanyaan ini, tapi sebagian besar dari kita, menurut saya akan menjawab: karena kita percaya bahwa ini adalah kebenaran/jalan hidup yang paling meyakinkan.

Kembali lagi kepada keputusan kita untuk menjadi orang Kristen, pertanyaannya, apakah kita benar-benar percaya? 

Mungkin, yang jadi masalah, dan hal yang kerap kali ditegur oleh Tuhan, bukan karena kita tidak percaya, tapi karena kita KURANG PERCAYA. 

Hal ini persis tergambar dalam berbagai interaksi Kristus dengan pengikutnya:

  • Dicatat dalam Matius 6:30, ketika Kristus mengajar kepada orang-orang banyak yang mengikut Dia dan murid-muridNya, mengenai kekuatiran, Ia berkata: "Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?"
  • Dicatat dalam Matius 8:26, ketika murid-murid yang bersamaNya ketakutan dalam perahu yang diterpa angin ribut, Kristus berkata: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?"
  • Dicatat dalam Matius 14:31, ketika Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus, lalu ia mulai tenggelam, sehingga Kristus berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

  • Dicatat dalam Matius 17:20, ketika murid-muridNya bertanya-tanya mengapa mereka tidak mampu mengusir setan yang ada pada seorang anak, Kristus berkata: "Karena kamu kurang percaya."

Menariknya, hampir semua teguran Kristus terkait “kurang percaya” dicatat oleh Matius. Saya jadi berpikir—apa yang kita perhatikan dari ucapan orang lain, sering kali mencerminkan apa yang kita alami sendiri.

Matius, dulunya seorang pemungut cukai, kemungkinan besar pernah bergumul dalam hal percaya. Profesi pemungut cukai adalah profesi yang sangat “mengandalkan diri sendiri”—terbiasa hidup dalam sistem yang keras, penuh perhitungan, individualistik, dan seringkali dipaksa untuk tidak peduli pada pandangan atau perasaan orang lain. Bagi orang yang terbiasa mengandalkan kekuatan dan logikanya sendiri, tidak mudah untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

Namun justru dari hal inilah saya diingatkan, bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan luar biasa. Tahukah anda, bahwa struktur otak kita pun dirancang dengan sistem yang begitu kompleks dan indah—menggabungkan rasionalitas dan iman, logika dan kepercayaan. Seperti lirik lagu yang pernah dinyanyikan Mariah Carey: "There can be miracles, when you believe."

Otak manusia terdiri dari dua bagian utama:

  • Neocortex, lapisan terluar otak, yang mengelola pemikiran rasional dan analitis—bertanggung jawab untuk memproses kata-kata, data, dan fakta.
  • Limbic brain, bagian terdalam otak, yang berperan dalam mengelola perasaan, emosi, rasa percaya, kesetiaan, iman, kebiasaan, dan pengambilan keputusan.

Memahami ini membuat saya menyadari sesuatu: mungkin inilah alasan mengapa, meskipun kita bilang kita percaya kepada Tuhan, kita mungkin tahu banyak hal tentang ajaran Kristus—tentang bagaimana seharusnya kita hidup—kita tetap kesulitan untuk benar-benar menjalaninya. Karena bukan soal tahu atau tidak tahu. Tapi karena kita belum benar-benar percaya.

Kembali lagi kepada keputusan kita untuk menjadi orang Kristen, pertanyaannya, apakah kita benar-benar percaya? Lalu, kalau kita percaya, apa tandanya?

Dari yang saya pelajari, tanda-tanda seseorang mempercayai sesuatu adalah:

  • Konsistensi antara apa yang dipikirkan, diperkatakan, dan dilakukan dengan apa yang dipercayai.  Ketika kita mempercayai sesuatu, pikiran kita akan terus berputar pada hal yang kita yakini, dan ini akan tercermin dalam percakapan dan perbuatan kita juga, bahkan ketika hal itu sulit atau tidak populer. Misalnya, jika seseorang percaya pada hidup sehat, ia akan makan makanan bergizi dan berolahraga secara teratur. Jika ia percaya bahwa keadilan itu harus ada, ia akan berusaha untuk membela yang lemah.
  • Memberikan komitmen dan pengorbanan akan apa yang dipercayai. Ketika kita sungguh percaya akan sesuatu, maka kita juga akan bersedia menginvestasikan waktu, tenaga, sumber daya, atau bahkan kenyamanan pribadi untuk hal yang mereka yakini. Mereka menunjukkan komitmen yang mendalam terhadap keyakinan tersebut. Misalnya, ketika kita percaya bahwa untuk memiliki hidup yang baik, seseorang harus mendapatkan pendidikan yang baik, maka kita akan berusaha sebaik-baiknya agar anak kita dapat masuk dalam institusi pendidikan yang terbaik, walaupun biaya yang dikeluarkan cukup besar.
  • Tahan Menghadapi Tantangan. Ketika seseorang dihadapkan pada kesulitan, keraguan, atau oposisi, kepercayaan mereka akan diuji. Tanda percaya yang kuat adalah ketekunan untuk tetap berpegang pada keyakinan tersebut meskipun ada hambatan. Mereka akan mencari cara untuk mengatasi tantangan daripada menyerah.
  • Sudah Berusaha Mencari Pemahaman Lebih Lanjut. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan kemampuan kognitif paling tinggi, orang yang percaya biasanya tidak hanya berhenti pada "percaya saja." Sebelum seseorang benar-benar berkomitmen akan apa yang mereka percayai, orang itu biasanya akan mencari informasi, belajar, dan berusaha memahami lebih dalam tentang objek kepercayaan mereka. Ini menunjukkan keinginan untuk memperkuat dan memberikan validasi atas keyakinan mereka. Ini biasa kita lakukan ketika perlu membeli peralatan elektronik atau memesan hotel untuk wisata, misalnya.

Saya mencoba menyimpulkan, tanda bahwa kita semakin percaya akan sesuatu dapat dilihat dari seberapa intim kita dengan apa yang kita percayai.  Di sisi yang lain, keintiman kita dapat terlihat dari perilaku kita, atau "buah-buah" yang kita hasilkan. Sebab apa yang kita percayai akan kita internalisasi dalam berbagai tindakan dan perbuatan kita. Kristus sendiri berkata dalam Matius 12:33Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.

Pada akhirnya, kata Kristen atau Christian (Χριστιανός : Christianos) sendiri berarti "follower of Christ" atau pengikut Kristus. Dan sebagai pengikut Kristus, tujuannya bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi menjadi serupa dengan-Nya.

Dalam Roma 8:29-30 (MSG) dikatakan: God knew what he was doing from the very beginning. He decided from the outset to shape the lives of those who love him along the same lines as the life of his Son. The Son stands first in the line of humanity he restored. We see the original and intended shape of our lives there in him. After God made that decision of what his children should be like, he followed it up by calling people by name. After he called them by name, he set them on a solid basis with himself. And then, after getting them established, he stayed with them to the end, gloriously completing what he had begun.

Kalau diterjemahkan secara bebas: Tuhan tahu persis apa yang sedang Ia lakukan sejak awal mula. Ia memutuskan untuk membentuk kehidupan orang-orang yang mengasihi-Nya sesuai model kehidupan Putra-Nya. Dan setelah itu, Ia memanggil mereka secara pribadi. Ia menyertai mereka sampai akhir—dan dengan setia, menyelesaikan apa yang telah Ia mulai.

Keinginan Allah agar kita menjadi serupa dengan-Nya, menurut saya bukan keputusan yang terjadi on a whim, tapi sudah direncanakan dari awal sebagai grand plan, dalam Kejadian 1:26, Allah sudah berfirman, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.."

Dan untuk memastikan rencana-Nya terjadi, Allah mana yang dengan sengaja dan penuh kasih yang besar, mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal—bersama-sama dengan Dia. (Yohanes 3:16)

Terlebih lagi, jauh sebelum kita "memilih" untuk menjadi pengikut Kristus, Tuhan sudah terlebih dahulu memandang kita, seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:16Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.

Kepada Dia yang begitu mengasihi kita dan memberikan anugerah keselamatan yang berharga kepada kita dengan cuma-cuma, tidakkah kita rindu untuk mengenal-Nya lebih dekat? Atau malah kita take for granted? Rasul Paulus sendiri berkata dalam Filipi 2:12: kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.

Iman bukan sekadar tentang meyakini sesuatu yang benar.

Iman adalah tentang mengenal Pribadi yang kita percaya itu—secara utuh, intim, dan hidup.

Semakin kita mengenal-Nya, semakin mudah kita mempercayai-Nya.

Semakin kita mempercayai-Nya, semakin kita menyerahkan hidup kita dalam pimpinan-Nya.

Dan semakin kita menyerahkan diri, semakin serupa pula kita dengan-Nya—seperti yang memang telah dirancang-Nya sejak semula.

Jadi, mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa hari ini bukan lagi hanya “apakah saya percaya?”, melainkan “Apakah saya mau melangkah lebih dekat… dan menjadi lebih intim dengan Tuhan yang lebih dulu ada bagi saya?

Tuhan memberkati.

CBA.

Comments