Skip to main content

Sampai kapan menunggu semangat itu tiba?

Bicara soal semangat, memang gampang-gampang susah. Kita seringkali disuruh untuk bersemangat, bersukacita, dan melakukan segala sesuatu dengan energi yang terbaik yang kita punya. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu. Pengkhotbah berkata, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkhotbah 3:1), lebih lanjut (Pengkhotbah 3:4) "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." Jadi memang sebagai manusia, wajar ada waktu-waktu dimana kita tidak memiliki semangat atau antusiasme dalam melakukan banyak hal di hidup ini.

Belum lagi kita bicara faktor keadaan sekeliling kita, Rasul Paulus berkata dalam 2 Timotius 3:1, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Data yang ada menyatakan bahwa sekitar 1 dari 100 penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia mengalami depresi, dan 87% penderita depresi di Indonesia tidak berobat. Kondisi ini menggambarkan betapa banyak orang hari ini hidup dalam tekanan dan kehilangan semangat, meski dari luar hidup tampak baik-baik saja.

Dalam keseharian kita, kita semua pasti pernah mengalami masa ketika semangat kita padam. Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan, tapi hati terasa berat. Kita dengar suara Firman, tapi tubuh rasanya enggan bergerak. Kadang-kadang kita mencoba menyemangati diri sendiri untuk lebih antusias atau lebih semangat, tapi hasilnya tidak selalu memuaskan. 

Ingatkah akan kisah tentang seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit di dekat kolam betesda? (Yohanes 5:2-9) Tidak dijelaskan mengenai apa penyakit orang tersebut di Alkitab, tapi ada disebutkan, di dekat sana hanya ada 3 kelompok orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Tuhan Yesus sendiri mengetahui bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, dan bertanya kepadanya, "Maukah engkau sembuh?"

Orang yang penuh semangat, pasti dengan segera berkata, "Mau!" tanpa banyak basa-basi. Tetapi jawab orang tersebut, "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Dari sini, kita belajar bahwa kehilangan semangat (apathy) seringkali adalah hasil dari kondisi yang nyata melumpuhkan—rasa tidak berdaya, ketiadaan penolong, dan menunggu kesempatan yang tak pernah datang. Pria ini bukan malas atau pasif; kemungkinan besar ia adalah korban dari keadaan disekitarnya.

Saya pribadi berefleksi, bahwa saat saya kehilangan semangat dan malas melakukan sesuatu, seringkali saya punya banyak alasan sebagai justifikasinya. Saya biasanya fokus dengan hal-hal yang tidak ideal atau menyulitkan saya untuk melakukan hal tersebut. Ini menciptakan kondisi seakan-akan masalah kita lebih besar daripada Tuhan yang ada bersama dengan kita.

Kita juga akhirnya melihat bahwa 
selama bertahun-tahun, ia tahu di mana sumber kesembuhan itu — ia menunggu air bergolak, menunggu orang lain mau membantu, menunggu situasi ideal yang tidak pernah kunjung tiba. Di situlah semangat sering mati — bukan karena tidak percaya, tapi karena terlalu lama menunggu sesuatu di luar diri kita. Coba deh, cek hidup kita, seringkali kita baru bersemangat dalam melakukan sesuatu kalau-kalau situasi di luar sana itu ideal bagi kita, kalau tidak, pasti akan ada banyak analisa-analisa di pikiran kita, dan akhirnya selalu ada alasan untuk menunda atau menolak. Misalnya, kalau tahun depan kita diminta untuk menjadi pemimpin kelompok kecil di gereja, apa respon kita saat ini? Kita bisa mengeluarkan banyak alasan mengapa kita belum siap, orang lain yang lebih siap, dan sebagainya.

Semangat dalam menjalankan sesuatu biasanya muncul dari dua arah: dorongan dari dalam yaitu enthusiasm, dan dorongan atau stimulus dari luar, yaitu excitement. Sayangnya, manusia seringkali sangat bergantung dengan hal-hal eksternal yang seringkali tidak pernah ideal. Mengapa? sebagai manusia, kita seringkali sangat bergantung pada perasaan dan kondisi ideal. Semangat yang berasal dari perasaan (excitement) akan selalu naik turun. Padahal, semangat yang sejati (enthusiasm—'di dalam Tuhan') seharusnya bersumber dari anugerah dan identitas kita di dalam Kristus, bukan dari keadaan emosional kita. Kristus sendiri berkata dalam Yohanes 15:5, "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

Puji Tuhan, dalam kisah tadi, Kristus juga meresepkan jalan keluar bagi kita (yang kadang-kadang berlaku serupa dengan orang sakit dekat kolam betesda tadi). Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. (Yohanes 5:8-9)

Perhatikan apa yang terjadi, Ia tidak menunggu air bergolak. Ia tidak menunggu orang lain. Ia menanggapi suara Yesus dan bertindak. Inilah bagaimana seharusnya antusiasme dibangun — respon aktif terhadap firman Tuhan, bukan reaksi emosional terhadap situasi yang ada di depan mata. Pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya soal kondisi, tapi soal kemauan kita untuk taat kepada-Nya. Bahkan kegagalan dan masa lalu kita tidak membatasi kuasa Tuhan untuk memulihkan dan menyalakan kembali semangat itu di dalam diri kita.

Ini sangat terefleksikan dalam percakapan antara Kristus dengan simon petrus, dimana Kristus bertanya tiga kali berturut-turut, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Petrus menjawab secara konsisten, "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Dan tiga kali pula Kristus berkata, "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17

Bagi saya pribadi, percakapan ini bukan hanya pemulihan relasi setelah penyangkalan Petrus, tapi juga pemulihan semangat panggilan. Jika saya berada di posisi Petrus, mungkin saya akan merasa tidak layak, malu, enggan dan kehilangan keberanian untuk melayani. Namun, Tuhan tidak menegur atau mempermalukan Petrus — Ia menegaskan kembali panggilan itu. Kasih menjadi bahan bakar baru bagi semangat yang sempat padam. Api itu dibangkitkan kembali bukan oleh penyesalan, tetapi oleh kasih Kristus yang memulihkan.

Dari semuanya ini, saya belajar bahwa meskipun tidak mudah untuk mempertahankan semangat yang konsisten tanpa bergantung pada keadaan, kasih karunia Tuhanlah yang memampukan kita untuk memiliki hati yang taat kepada perintah-Nya — untuk melangkah kapan pun dan di mana pun, sambil tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika kita belum melihat kondisi yang ideal. Karena sering kali, ketaatan itu sendiri adalah langkah pertama yang menuntun kita menuju keadaan yang kita harapkan.

Ada tertulis di Alkitab pada Roma 12:11Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”

Tuhan memberkati (CBA).

Comments