Skip to main content

Perspektif Lain atas Integritas

Sebagai salah satu value yang penting, integritas seringkali dibicarakan, tapi umumnya sebatas satu arah dari atas mimbar, karena saya menyadari bahwa tidak semua orang nyaman bicara soal integritas, apalagi dalam konteks rohani.

Mempraktekkan integritas, bisa jadi sulit atau mudah tergantung lingkup yang kita terapkan. Semakin banyak kita kompromi dengan dunia, semakin sulit kita menjaga integritas kita. Misalnya kalau kita bicara soal kompromi, mungkin saya dengan yakin bisa mengatakan bahwa saya tidak pernah kompromi terhadap uang yang dipercayakan untuk saya kelola, tapi bagaimana dengan waktu? Sesekali saya jam makan siang saya melebihi ketentuan perusahaan. 

Bagaimana dengan kualitas? Apakah kita pernah "terpaksa" memberikan kualitas pekerjaan/barang/jasa yang lebih rendah kepada seseorang karena berbagai "keterbatasan" kita? Atau pernahkah kita mencoba "mengakali" atau mencurangi sebuah sistem agar kita mendapat keuntungan yang seharusnya tidak kita dapatkan (tapi kita rasa boleh kita dapatkan)? Selalu ada celah untuk menyerang integritas seseorang. Sadar tidak sadar, kita seringkali merasa dihakimi ketika bicara soal integritas.

Secara psikologis, reaksi yang umum terjadi pada manusia ketika diserang, adalah menghindar atau melawan, bukan? Makanya kita seringkali menemukan berbagai usaha pembelaan-pembelaan atau keheningan dalam diskusi mengenai integritas. Dan di sinilah tipu daya iblis bekerja: ketika kita sibuk membela diri dari rasa bersalah, kita lupa bahwa Tuhan tidak sedang mencari pembenaran diri, tapi pembentukan diri (Ingat apa yang terjadi pada manusia dan tercatat pada kitab Kejadian 3). Serangan-serangan penghakiman inilah yang digunakan oleh iblis untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Padahal kita sudah diberi tujuan agar kita menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Korintus 3:18).

Menjadi serupa dengan gambar-Nya berarti kita terus dibentuk menuju keutuhan dan kesempurnaan rohani, seperti Allah yang menjadi standar kesempurnaan kita. Hal yang sama dengan membangun integritas, yang memiliki kata dasar dari bahasa latin, integer yang artinya utuh atau tidak terpisah-pisah/terfragmentasi. Seorang manusia umumnya memiliki 3 komponen: (1) kepercayaan, (2) karakter dasar, dan (3) perbuatan. Semakin tinggi integrasi ketiga komponen ini, semakin tinggi juga kredibilitas dan damai sejahtera yang dimiliki seseorang; sebaliknya, semakin rendah integrasinya, semakin seseorang merasakan tekanan, rasa takut, bersalah, atau rasa munafik.

Ketika kita menjadi utuh, Firman Tuhan berkata dalam Roma 8:29-30, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." 

Emas dianggap sebagai logam mulia, karena tidak mudah berkarat atau bereaksi dengan unsur lain, sehingga tidak mudah rusak dan warnanya tetap berkilau dalam jangka waktu yang sangat amat lama. Emas tidak akan terkontaminasi oleh zat-zat lainnya. Sayangnya, mencapai standar ini bukanlah sebuah proses yang mudah. Seperti emas yang dimurnikan melalui api, iman dan integritas kita juga dimurnikan melalui berbagai ujian (1 Petrus 1:7).

Kabar baiknya, Tuhan kita sesungguhnya adalah pribadi yang lembut. Yesus Kristus berkata dalam injil Yohanes 14:16-17a, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran." atau dalam versi terjemahan TSI (Terjemahan Sederhana Indonesia), dikatakan 'Penolong itu adalah Roh Kebenaran yang akan mengajarkan hal-hal yang benar kepada kalian.'

Roh kudus, dikatakan dalam Yohanes 16:8, "akan menginsafkan (convict) dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman." Roh kudus akan berbicara dengan lembut di hati kita namun tegas, memberitahukan dengan jelas, mana yang benar di mata Allah, dan mana yang salah; bukan untuk menenggelamkan kita dalam penghakiman, tapi untuk menegur dengan kasih agar kita kembali ke jalan yang benar. 

Lebih lagi, Firman Tuhan sudah disiapkan bagi kita, seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 3:15-17, "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

Jadi meskipun membangun dan memelihara integritas itu bukan sesuatu yang mudah, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita berbagai-bagai pertolongan. Dan perlu kita sadari bahwa walaupun Tuhan memiliki standar kesempurnaan, oleh karena kasih karunia Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menjalankan proses menuju kesempurnaan itu. Maka dikatakan oleh rasul Paulus dalam Filipi 2:12, "..kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.." dan pada Filipi 3:12-14, ia juga berkata, "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Jadi integritas bukan tentang tidak pernah jatuh, tapi tentang berusaha untuk tetap utuh — tetap setia pada siapa diri kita sebenarnya, bahkan setelah kita jatuh. Integritas juga bukan bicara soal perfeksionis, Tuhan tidak menuntut kita untuk sempurna hari ini juga, tapi Tuhan mau kita jujur atas ketidak-sempurnaan kita dan terbuka untuk bergerak dan berubah menuju kesempurnaan.

  • Orang perfeksionis berkata, “Saya tidak boleh gagal/jatuh,” dimana setiap kesalahan meruntuhkan segalanya. Maka kesalahan/kegagalan itu disembunyikan dan ditutupi.
  • Orang yang berintegritas berkata, "Ketika saya gagal/jatuh, saya akan merespon dengan benar dan kembali melakukan apa yang benar," dimana kegagalan juga memberikan kesempatan untuk perbaikan. Disini, kegagalan dihadapi secara terbuka, ada akuntabilitas dalam perbaikan yang dilakukan.

Contohnya, Petrus dan Yudas Iskariot. Keduanya sama-sama gagal, sama-sama menyesal (Matius 26:75 & Matius 27:3). Tapi respon keduanya berbeda total. Yudas mengakhiri hidupnya dalam penyesalan, sedangkan Petrus datang kepada Tuhan, lewat perubahan dirinya, ia menjadi batu penjuru, melayani Tuhan dengan luar biasa hingga ia turut disalibkan atas imannya.

Tidak apa, kalau kita mengalami berbagai kegagalan, tidak apa kalau hidup kita seperti sebuah bejana yang penuh dengan retakan dan pecahan, asal kita terus mengizinkan Tuhan untuk merekatkannya kembali dengan kasih dan kebenaran-Nya. Dalam 1 Yohanes 1:9, Alkitab mencatat, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Sekalipun hidup kita terdiri dari kepingan-kepingan kecil yang terus-menerus direkatkan kembali, Tuhan tetap sayang dan setia dengan kita. Ada tertulis dalam Mazmur 34, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."

Selama kita hidup, integritas kita akan terus-menerus diuji oleh dunia. Tentu dalam setiap kegagalan kita, proses re-integrasi akan terus terjadi, yang artinya: Kita akan terus belajar untuk mengatakan yang sebenarnya, bahkan ketika itu tidak nyaman; kita belajar menerima konsekuensi kegagalan kita dengan rendah hati tanpa mendramatisasi konsekuensi tersebut, dan kita berusaha memperbaiki kesalahan, karena kita menghargai keutuhan hidup kita lebih daripada kenyamanan. Hal-hal ini terlebih penting bagi kita sebagai seorang pemimpin, sebab orang akan menaruh respek dan rasa percaya kepada pemimpin dengan integritas yang tinggi. Saya percaya, integritas adalah fondasi dari setiap pengaruh yang sejati dan berkelanjutan. Dunia tidak butuh pemimpin yang sempurna, tapi yang jujur, dan terus belajar untuk menjadi utuh di hadapan Tuhan.

Membangun integritas memang tidak selalu nyaman, karena seringkali Tuhan menuntun kita melalui hal-hal yang menantang ego, ambisi, atau kebiasaan lama kita. Namun, seperti seorang Bapa yang penuh kasih, setiap hal yang Ia minta dari kita sesungguhnya membawa kebaikan bagi kita dalam jangka panjang. Ia sedang membentuk karakter kita agar hidup kita kokoh dan layak dipercayakan hal-hal yang lebih besar. 

Untungnya dalam proses ini, kita tidak pernah berjalan sendiri. Selain Roh dan Firman-Nya yang menyertai kita, komunitas gereja juga ada untuk saling menopang, saling mengingatkan, dan menjadi tempat di mana kita belajar tumbuh bersama. Berjalanlah dengan penuh damai sejahtera, karena keselamatan adalah proses pribadi yang kita jalani bersama Allah yang setia — dan di dalam proses itulah kita sedang dibentuk menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Dia.

Tuhan memberkati. (CBA)

Comments