Skip to main content

Apakah Hidup Kita Bermakna Bagi Orang Lain?

Alkitab mencatat bahwa Tuhan tidak pernah memandang manusia sebagai makhluk kecil yang tak berarti. Sebaliknya, sejak awal penciptaan, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan "menurut gambar dan rupa-Nya" (Kejadian 1:26). Itu berarti hidup kita—setiap pikiran, kata, dan tindakan—mengandung potensi untuk merefleksikan karakter Allah di bumi ini.

Dalam konteks ini, pernah gak, kita berpikir, apa yang akan terjadi, jika kita tidak ada di dunia ini? Jika suatu hari kita tidak ada, adakah lubang yang terasa kosong di keluarga, komunitas, atau tempat kerja kita? Apakah hidup kita membawa manfaat... atau hanya menjadi konsumen dari kebaikan orang lain?

Ini bukan soal eksistensi, tapi soal kontribusi.
Alkitab tidak hanya berbicara tentang keberadaan kita, tetapi menggarisbawahi betapa pentingnya fungsi kita bagi sesama. Tuhan menciptakan kita bukan hanya untuk "ada", tetapi untuk "berfungsi" dalam kasih dan kebenaran.

Kita hidup di dunia yang terus-menerus mengagungkan self-fulfillment dan kenyamanan. Tanpa sadar, kita pun tergoda untuk menganggap hidup yang baik adalah hidup yang nyaman, diberkati, dan menyenangkan. Tapi Alkitab justru mengoreksi pemikiran ini: "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.(Matius 6:33)

Tujuan utama kita adalah hidup kekal bersama Allah. Kehidupan yang baik di dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bonus dari kehidupan yang terarah. Fokus utama kita adalah surga, bukan sekadar sukses di bumi.

Untuk mendapatkan tujuan akhir tersebut, tentu ada usaha yang perlu kita lakukan, ada misi yang perlu kita selesaikan. Yesus sendiri merangkum seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dalam satu panggilan besar: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40)

Perlu kita perhatikan, bahwa tanda kita sedang melangkah mendekat kepada tujuan itu terlihat dari relasi kita dengan sesama sekarang ini. Kristus sendiri berkata, Setiap kali kamu melakukannya untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Deklarasi mengenai kasih kepada Allah adalah palsu jika tidak disertai kasih kepada sesama, seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 4:20, Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Itulah sebabnya, ketika kita bertanya apakah hidup kita berarti, jawabannya tidak ditentukan dari seberapa banyak kita tahu, tetapi seberapa dalam kita mengasihi.

Tahukah kamu, dari ratusan perintah Allah yang tercatat dalam Alkitab, sebagian besar berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain—bukan hanya bagaimana kita berdoa, berpuasa, atau beribadah secara pribadi. Terdapat banyak sekali "one another commands" dalam Perjanjian Baru—perintah seperti “saling mengasihi” (Yohanes 13:34), “saling mengampuni” (Efesus 4:32), “saling menanggung beban” (Galatia 6:2), dan “saling menasihati” (Roma 15:14).

Ayat yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Kristus berkata dalam Yohanes 13:34-35: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Lalu ketika Tuhan Yesus mengajar mengenai perumpamaan akhir jaman, (Matius 25:31–46) Ia jelas berkata bahwa keselamatan diukur bukan hanya dari iman, tapi dari aksi nyata terhadap sesama.

Kita, terutama saya, sering terjebak dalam keinginan menjadi "istimewa" atau "diingat", padahal yang Tuhan inginkan adalah kita menjadi berfungsi. Bukankah Yesus sendiri berkata: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Matius 20:26)

Tuhan memanggil kita bukan untuk menjalani hidup yang nyaman, tetapi hidup yang berbuah (Yohanes 15:8).

Bukan hanya sekadar ada, tetapi berkontribusi.

Bukan hanya sekadar diberkati, tetapi menjadi saluran berkat.

"Sebab kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10)

Apalagi perintah Tuhan jelas, dalam 1 Yohanes 4:21 tertulis: "Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya."

Tentu, menjadi pribadi yang fungsional bagi sesama—yang bukan hanya ada, tetapi berdampak—tidak bisa terjadi dalam sekejap mata. Itu bukan hasil dari inspirasi sesaat, tetapi buah dari latihan, keteladanan, dan arahan yang berkelanjutan.

Inilah sebabnya mengapa komunitas kecil dalam gereja menjadi sangat penting. Komunitas adalah tempat di mana kita bisa belajar mengasihi secara nyata, saling menasihati, dan berlatih hidup sesuai firman Tuhan dalam konteks relasi. Seperti tertulis: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.(Ibrani 10:25)

Komunitas bukan hanya tempat kita belajar firman, tetapi tempat kita mempraktikkannya—dengan sabar, dengan konsisten, dan dalam kasih.

Bayangkan seseorang yang mendaftar ke gym karena ingin sehat dan memiliki bentuk fisik yang ideal. Tujuan itu jelas baik, tapi sangat sulit tercapai jika ia datang hanya sesekali, dan berlatih sendirian tanpa arahan.

Sebaliknya, proses itu menjadi jauh lebih efektif dan menyenangkan saat:

  • Ia datang secara teratur
  • Ia berlatih bersama teman-teman yang satu visi
  • Ia didampingi oleh Personal Trainer (PT) yang memberi arahan sesuai kebutuhan

Pemilihan PT juga menjadi penting, bayangkan jika ia meragukan sang PT, atau merasa lebih tahu daripada pelatihnya sendiri—maka latihan pun tidak akan efektif. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Kita membutuhkan:

  • Komunitas yang tepat: sehat dan saling mendukung
  • Pemimpin rohani yang mampu dan mau mengarahkan dengan kasih dan kebenaran
  • Kerendahan hati untuk belajar dan menerima koreksi

Saya percaya, formasi karakter Kristus dibentuk melalui interaksi, ketekunan, dan ketaatan dalam konteks komunitas. Saya juga percaya, semuanya ini termasuk bagian dari Ibadah kita, seperti yang tertulis pada 1 Timotius 4:7–8"Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

Kiranya kita semua, oleh anugerah Tuhan, dimampukan untuk menjadi pribadi yang hadir, berdampak, dan berbuah—bagi sesama, tapi dengan kesadaran penuh, bahwa semua yang kita lakukan adalah semata-mata demi kemuliaan Allah, dan sebagai bagian dari ibadah kita menuju hidup yang kekal. Ini selaras dengan apa yang tertulis dalam Alkitab: "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23)

Tuhan memberkati. 
(CBA)

Comments