Belakangan ini, sepertinya banyak perubahan besar yang terjadi di dunia, beberapa mungkin terasa baik, beberapa mungkin terasa buruk. Ada perubahan yang memberi harapan, ada juga perubahan yang seakan mengubur harapan kita. Terlebih lagi, kita tidak bisa menghindari perubahan tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi dari berbagai sisi, baik ekonomi, relasi, keluarga, politik, pekerjaan, dan lain-lain. Sayangnya, semakin banyak kita dengar apa yang terjadi, sebagian dari kita semakin apatis dengan dunia ini. Pertanyaannya, bagaimana posisi kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus? Apakah kita bisa menghadapi situasi saat ini dengan baik, atau justru kita malah tergoncangkan oleh apa yang terjadi?
Kalau bicara mengenai apa yang terjadi di dunia dalam 1 dekade terakhir, mungkin orang-orang yang mendeklarasikan diri sebagai pengikut Kristus seharusnya sudah dapat memperkirakan dan mengantisipasi hal ini, sebab hal ini sudah berulang kali disebutkan dalam Alkitab. Misalnya, dalam kitab Ibrani 12:26-29 ada tertulis, Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan. Pada kesempatan yang lain, Kristus juga sempat berkata dalam Matius 24:6, "Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru."
Lebih detail lagi, Rasul Paulus juga sempat mengatakan hal yang serupa dalam suratnya kepada rekan sepelayanannya, Timotius, "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang." (2 Timotius 3:1-9)
Yang sangat menjadi highlight bagi saya adalah janji Tuhan untuk menggoncangkan dunia ini, supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Terutama bahwa disini Tuhan BERJANJI. Ini menjadi signifikan, bukan sekedar perkataan Tuhan yang akan terjadi, namun ada pada tingkat divine commitment. Ada satu hal yang saya tangkap, bahwa seleksi sudah dimulai. Seperti yang dikatakan Kristus dalam Matius 24:32-33, "Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu."
Apa yang saya mau gali lebih lanjut adalah, bagaimana supaya kita tidak tergoncangkan, dan ketika goncangan sudah selesai, kita tinggal tetap (lulus dari ujian tersebut). Sederhananya, apa respon yang harus kita berikan ditengah goncangan ini?
Dari perenungan saya, hal pertama yang Tuhan taruh di hati saya adalah, jangan bersungut-sungut. Pada Yohanes 6:43, Kristus berkata kepada orang Israel, "Jangan kamu bersungut-sungut." Sedikit konteks pada Yohanes 6, Pada masa itu, masyarakat Israel di wilayah Yudea sedang berada dalam penjajahan bangsa Romawi, dimana pajak sangat tinggi sehingga menyebabkan kemiskinan dan kelaparan; kendali militer yang kejam; dan kekecewaan terhadap jajaran pemimpin Israel (orang Farisi dan Saduki) yang justru tidak berbuat banyak untuk masyarakat. Betapa desperate-nya bangsa Israel untuk keluar dari situasi tersebut, setelah melihat mujizat Kristus memberi makan ribuan orang, mereka datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja. (Yohanes 6:15)
Mengapa Kristus berkata, Jangan kamu bersungut-sungut? Karena orang Israel tidak puas dengan solusi yang Kristus berikan, dibandingkan mujizat (solusi instant) yang mereka harap-harapkan. Dalam Yohanes 6:26-27 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Ini memang masalah terutama manusia, hanya mau mencari dan menerima apa yang mereka mau. Ketahuilah bahwa sungut-sungut adalah tanda bahwa kita masih mudah tergoncangkan. Dalam Yohanes 6:61 dikatakan, Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Kemudian, Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. (Yohanes 6:66)
Perintah dan anjuran untuk tidak bersungut-sungut berulang kali muncul dalam Alkitab, menandakan betapa pentingnya hal ini.
- 1 Korintus 10:10, Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
- Filipi 2:14-16, Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
- Yakobus 5:9, Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
Sungut-sungut sendiri tidak hanya menandakan bahwa kita kurang iman, tapi juga kurang hikmat. Tercatat pada Pengkhotbah 7:10, Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.
Hal selanjutnya yang Tuhan taruh dalam hati saya dalam perenungan ini adalah, perhatikan akar kita. Bicara soal goncangan, kalau kita melihat kejadian-kejadian alam di sekitar kita seperti badai dan gempa, hanya pohon dengan akar-akar yang kuat dan luas yang tidak roboh dan patah. Bicara akar di Alkitab, jelas sekali dapat dipahami, bahwa tanda bahwa seseorang memiliki akar yang baik dan kuat, adalah orang yang dekat dengan Tuhan serta setia dalam melakukan apa yang jadi perintah dan kehendak Tuhan. Yeremia 17:7-8 mengatakan, Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Daud dalam Mazmur 1 pun mengatakan hal yang serupa, bahwa "Berbahagialah orang yang ... kesukaannya ialah Taurat TUHAN ... Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik ... tidak akan tahan dalam penghakiman.."
Dalam hal ini, Pengkhotbah memberikan nasihat yang luar biasa relevan bagi kehidupan kita, meskipun ia berkata segala sesuatu adalah sia-sia (Pengkhotbah 1:2), dan Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik ... (Pengkhotbah 9:2), Pengkhotbah berkata bahwa apapun yang terjadi, ...makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang... (Pengkhotbah 9:7) dan Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga... (Pengkhotbah 9:10).
Bukankah ini sama dengan pengajaran Kristus mengenai dua macam dasar? "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27)
Penghakiman yang dunia ini sedang terima jangan kita lihat sebagai sebuah kesusahan atau kesengsaraan belaka, namun pandang sebagai ujian yang merupakan sebuah kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita (value kita) yang sebenarnya. Pola pikir ini akan menentukan, apakah kita akan bersungut-sungut atau malah bersyukur dengan keadaan yang kita hadapi. Seperti ada tertulis, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18)
Pahamilah bahwa kekuatan akar kita tidak bisa terlihat dalam keadaan yang baik-baik saja, seperti kita sulit membedakan pohon dengan akar yang kuat dan yang lemah kalau tidak ada badai atau gempa. Memang sangat disayangkan, tapi tidak semua yang menerima Firman akhirnya memiliki akar yang kuat, seperti benih yang ditabur di tanah berbatu-batu, tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad (Matius 13:20-21).
Berhati-hatilah juga kalau kita menumbuhkan akar yang salah, Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15) Rasul Paulus berdoa bagi kita, seperti dalam suratnya kepada jemaat Efesus, "Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih." (Efesus 3:16-17)
Selain itu, jangan mengandalkan diri sendiri, kita bisa belajar dari pohon bakau atau pohon bambu. Kedua pohon ini akan semakin kuat ketika akar dari masing-masing pohon saling terhubung dan menguatkan, memampukan kedua pohon ini menahan gempuran air dan angin. Ini persis seperti kata Pengkhotbah dalam kitab Pengkhotbah 4:9-12, "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."
Memang saya sadar, tidak bersungut-sungut dan memiliki akar yang baik dan kuat tidaklah mudah, apalagi kita dikelilingi oleh banyak informasi dan narasi negatif yang kita lihat di media sosial, portal berita, dan cerita-cerita yang tersirkulasi setiap waktu. Tapi ingat, pada akhirnya keselamatan itu adalah anugerah Tuhan yang perlu kita usahakan. Ini seperti yang dikatakan dalam Filipi 2:12, "..tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.." Jangan bimbang akan goncangan ini, karena Tuhan sendiri juga memberi janji, "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10)
Tuhan memberkati! (CBA)
Comments