Kita baru saja melalui peringatan Jumat Agung dan Paskah, di mana kita kembali diingatkan akan karya terbesar Kristus sebagai teladan hidup kita. Dari Kristus, kita belajar tentang pengorbanan, ketaatan, dan kasih yang luar biasa.
Tak ada pribadi lain yang mau dan mampu menyerahkan diri-Nya sebagai ganti dosa-dosa kita. Seperti yang disampaikan-Nya dalam Yohanes 10:10, "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Momen ini adalah saat yang tepat untuk kembali merenungkan makna pengorbanan dan ketaatan. Dan dari sekian banyak tokoh dalam Alkitab, Tuhan menaruh Maria, ibu Yesus Kristus, dalam hati saya—sebagai sosok yang bisa menjadi teladan ketaatan sejati dalam perjalanan kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Dalam perenungan ini, saya mulai memahami lebih dalam berbagai nuansa emosional dalam hidup Maria, terutama sejak perjumpaannya dengan malaikat Gabriel. Ketika Gabriel menampakkan diri dan berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (Lukas 1:28)
Lukas 1:29 mencatat bahwa Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Pada terjemahan NRSV (New Revised Standard Version), dikatakan "she was much perplexed by his words and pondered what sort of greeting this might be." Kata "terkejut" atau perplexed dalam bahasa Yunani aslinya, διαταράσσω (diatarasso), memiliki makna "sangat terguncang" atau "gelisah secara mendalam".
Gabriel, seperti mengerti pergumulan hati Maria, melanjutkan:
"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah." (Lukas 1:30)
Lalu disampaikanlah berita besar:
"Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki... Ia akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi... dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:31–33)
Namun tampaknya Maria hanya bisa menangkap bagian pertama dari berita itu. Dimana kemudian ia berkata:
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34)
Pertanyaannya sangat masuk akal, mengingat pada zaman itu, kehamilan di luar pernikahan bisa dianggap sebagai perzinahan—dan konsekuensinya adalah rajam hingga mati (bandingkan dengan konteks Matius 1:19 dan Ulangan 22:23–24). Meskipun Maria dan Yusuf sudah bertunangan, namun belum menikah secara sah; apalagi anak yang dikandungnya bukanlah anak dari Yusuf, tunangannya.
Namun di tengah semua ketakutan, ketidakpastian, dan risiko sosial yang sangat besar, Maria memberikan jawaban yang luar biasa:
"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)
Ketaatan ini bukan berasal dari kenyamanan atau kepastian, melainkan dari iman yang tunduk dan berserah penuh kepada rencana Tuhan—meskipun rencana itu tidak sepenuhnya ia mengerti.
Seringkali kita membayangkan bahwa ketaatan Maria adalah sesuatu yang sederhana—langsung percaya, langsung berkata “jadilah padaku.” Namun, jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya ketaatan Maria jauh lebih besar dan berat dari yang biasa kita bayangkan.
Dalam Matius 1:18–19 (NRSV) dijelaskan: Now the birth of Jesus the Messiah took place in this way. When his mother Mary had been engaged to Joseph, but before they lived together, she was found to be pregnant from the Holy Spirit. Her husband Joseph, being a righteous man and unwilling to expose her to public disgrace, planned to divorce her quietly.
Artinya, meskipun masyarakat umum mungkin belum mengetahui, kedua keluarga besar mereka pasti tahu bahwa Maria mengandung sebelum menikah. Dan yang menarik, Alkitab mencatat bahwa hanya Yusuf yang mendapat penjelasan langsung dari malaikat. Maria sendiri—setelah menerima firman Tuhan dari Gabriel—tidak memiliki “bukti” atau jaminan bahwa Yusuf akan memahami dan tetap menerimanya. Toh, Yusuf sempat berencana menceraikan Maria.
Bayangkan tekanan batin yang dialami Maria.
Apakah Yusuf akan mempercayainya?
Apa kata orang tua dan kerabat?
Apakah ia akan dijauhi, dicemooh, bahkan dirajam?
Lebih menyentuh lagi ketika kita memahami bahwa usia pertunangan perempuan Israel pada masa itu rata-rata sekitar 12–13 tahun. Di usia semuda itu, Maria harus memikul beban sosial, keluarga, dan spiritual yang sangat berat—sendiri.
Tidak heran, setelah peristiwa itu, Maria segera pergi menempuh perjalanan kurang lebih 120 KM ke rumah Elisabet, sepupunya, di pegunungan Yehuda. (Lukas 1:39) Perjalanan ini merupakan perjalanan yang cukup panjang, sulit, dan mungkin cukup berbahaya pada masa itu—setidaknya untuk gadis sepertinya, dengan estimasi 9-10 hari pada masa itu. Bisa jadi ini bukan hanya kunjungan biasa, tetapi juga sebuah pelarian sementara dari tekanan yang luar biasa (selama tiga bulan Maria disana). Sebuah tempat aman, di mana setidaknya ada satu orang—Elisabet—yang bisa memahami karena sedang mengalami karya Tuhan yang juga tidak biasa.
Mungkin setelah Maria kembali ke Nazaret, situasi sedikit mereda. Tapi apakah semua orang benar-benar berhenti mencurigainya? Bisa jadi tidak.
Ada kemungkinan, bahwa seumur hidupnya, gosip tentang "perzinahan" Maria di dalam keluarga mereka tidak pernah hilang, bahkan bisa jadi menyebar ke beberapa orang di komunitas tempat mereka tinggal di Nazaret. Kalau asumsi ini benar, maka hal ini memberi nuansa yang dalam pada kisah di Lukas 4:22, dimana masyarakat Nazaret yang terheran-heran akan perkataan Yesus Kristus berkata: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"—Mereka menolak dan menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. (Lukas 4:29)
Pengorbanan Maria ternyata tidak berhenti pada saat ia menerima panggilan untuk mengandung Mesias. Setelah Kristus lahir, Maria dan Yusuf membawa-Nya ke Yerusalem untuk mempersembahkan-Nya kepada Tuhan, sesuai dengan ketentuan hukum Taurat Musa.
Di sana, mereka bertemu dengan Simeon, seorang yang benar, saleh dan dipenuhi Roh Kudus. Ia berkata kepada Maria: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan--dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Lukas 2:34-35) Dalam terjemahan NRSV: and a sword will pierce your own soul, too.
Kata “pedang” dalam konteks ini sangat dalam. Ia bukan hanya nubuat tentang penderitaan Yesus, tetapi juga menggambarkan rasa sakit terdalam yang akan dialami Maria sebagai seorang ibu—bukan karena anaknya gagal, tetapi karena anaknya harus menderita untuk tujuan surgawi.
Ketika Kristus sedang disalibkan, apa yang dirasakan Maria, ketika melihat anak laki-lakinya yang dihina, dicemooh, disiksa, dan dipermalukan di depan umum? Alkitab mencatat, Maria berdiri di dekat salib Kristus (Yohanes 19:25) ketika para prajurit romawi memperebutkan pakaian dan jubah Anak-nya. Apa yang dirasakan hati Maria, ketika Kristus berkata diatas salib, "Ibu, inilah, anakmu!" (Yohanes 19:26)
Ibu mana yang sanggup menyaksikan hal tersebut tanpa hancur? Tapi Maria—ia tidak pergi, tidak meraung, tidak melarikan diri dari kenyataan yang menyayat jiwa itu. Injil Yohanes mencatat, Maria berdiri disana.
Dan dalam berdirinya itu, tersimpan kekuatan seorang ibu, yang telah menyerahkan segalanya sejak awal—dan tetap berdiri hingga akhir. Bagi saya pribadi, Maria adalah potret kekuatanyang lahir dari ketaatan, dari pengorbanan, dan dari kasih. Kasih yang tidak mencari kemudahan dan kenyamanan diatas segalanya. Kasih yang tetap hadir bahkan saat tidak bisa berbuat apa-apa.
Sejak awal Maria tidak pernah sepenuhnya memahami apa yang akan ia hadapi. Ia tidak tahu bahwa panggilan untuk mengandung Sang Mesias akan diiringi stigma, pelarian, kesalahpahaman, dan bahkan derita sebagai seorang ibu yang melihat anaknya mati dengan cara yang paling hina. Namun, ia tetap berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan."
Dan dari sanalah semuanya dimulai.
Hari ini, saya pun bertanya kepada diri saya sendiri:
Apakah saya benar-benar bersedia taat, bahkan ketika saya tidak mengerti sepenuhnya?
Apakah saya bersedia memikul panggilan Tuhan, walau jalannya tidak nyaman, dan hasilnya tidak segera kelihatan?
Seringkali kita sebagai manusia ingin punya kendali atas setiap skenario. Kita ingin tahu lebih dulu ke mana arah cerita ini akan dibawa sebelum memutuskan. Tapi melalui kisah Maria, saya belajar bahwa iman bukan soal tahu segalanya, melainkan berani melangkah ketika hanya suara Tuhan yang terdengar.
Jika kita sedang berada dalam musim ketidakpastian, ketakutan, atau bahkan kesepian karena orang-orang di sekitar kita salah paham akan kita, izinkan teladan Maria menguatkan kita.
Tuhan tidak mencari orang yang paling kuat, paling siap, atau paling pintar.
Tuhan mencari hati yang bersedia berkata: “Aku ini adalah hamba-Mu.”
Mungkin itulah langkah pertamamu hari ini. Bukan langkah besar, tapi sebuah bisikan: "Tuhan, aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi aku bersedia."
Dan dari sanalah, seperti Maria, semuanya akan dimulai.
Tuhan memberkati. (CBA)
Comments