Bicara soal membangun karakter yang benar di hadapan Tuhan, saya selalu membayangkan proses pembuatan pedang. Saya percaya karakter itu tidak terbentuk secara instan. Butuh banyak proses yang dilewati dalam jangka waktu yang panjang, hingga karakter itu terbentuk. Ketika karakter sudah terbentuk, perlu usaha yang cukup serius untuk mengubahnya. Tapi Alkitab, dengan cara yang unik, menggambarkan proses ini melalui pembentukan bejana dari tanah liat (pottery). Dan, setelah saya renungkan, proses pembentukan sebuah bejana dari tanah liat itu merupakan sebuah proses yang sangat unik dan penuh pesan dari Allah.
Seperti kata Allah kepada Yeremia dalam Yeremia 18:2, "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu." Mari kita bedah proses pembentukan sebuah bejana tanah liat, dan melihat pesan Tuhan yang indah yang bisa kita dapatkan dari sana.
Pertama, kita perlu mengenal tanah liat sebagai bahan utama dalam pembuatan bejana. Tanah liat itu mewakili kita sebagai manusia yang perlu dibentuk agar memiliki nilai (values). Dalam Kitab Kejadian dijelaskan bagaimana Tuhan membentuk manusia dari debu tanah (Kejadian 2:7). Rasul Paulus juga mengibaratkan kita sebagai bejana tanah liat (2 Korintus 4:7), Dalam Ayub 10:9a juga dikatakan, "Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat…"
Saya belajar, bahwa tidak semua tanah kemudian menjadi tanah liat yang dapat dibentuk. Tanah yang tidak memiliki komposisi mineral yang tepat, ketika diberi air, hanya menjadi lumpur (mud), bukan tanah liat (clay). Biasanya, tanah bebatuan yang memiliki kandungan mineral yang sesuai, ketika bercampur dengan air, akan bertransformasi menjadi tanah liat seiring waktu. Tanah pasir, tidak peduli seberapa banyak air dan waktu yang diberikan, tidak akan berubah menjadi tanah liat. Saya jadi teringat akan ajaran Kristus, agar kita jangan sampai membangun rumah di atas pasir. Saya menangkap pesan bahwa jangan sampai kita bebal, terus-menerus memilih untuk tidak menerima air kasih karunia itu — membangun hidup di atas landasan penolakan terhadap Firman-Nya (pasir). Kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita, membedakan kita dengan pasir yang mati. Pasir tidak punya pilihan menjadi batu, tapi pintu keselamatan selalu terbuka bagi kita yang dengan sungguh-sungguh ingin mencari-Nya.
Lebih lanjut, proses pembuatan bejana merupakan proses pembentukan. Tanah liat diletakkan dalam piringan yang berputar agar pembuat bejana dapat membentuk bejana tersebut. Ketika tanah liat dibentuk, ia perlu terus-menerus diberi air. Tanah liat yang kering tidak mungkin dibentuk, karena akan pecah dalam tekanan dan tidak elastis. Sama seperti manusia, dalam proses pembentukan, tanpa kasih karunia Tuhan, kita bisa menjadi sangat keras kepala dan tidak bisa dibentuk. Sebaliknya, kalau kita menerima Kristus dan percaya kepada-Nya, Ia sendiri yang berkata dalam Yohanes 7:37-38, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."
Yang unik, air tidak bisa diaplikasikan sekali saja hingga penuh, tetapi harus terus-menerus dialirkan selama proses pembentukan berlangsung. Ini mengisyaratkan bahwa kita harus terus-menerus terhubung dengan Tuhan, atau proses pembentukan itu akan berhenti di tengah jalan, dan hasilnya tidak sempurna. Kristus berkata dalam Yohanes 4:13-14, "..barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
Dalam proses pembentukan, yang menjadi aktor utama bukan si tanah liat, tapi sang pengrajin, dalam analogi ini adalah Tuhan Allah. Ia memiliki desain terbaik dalam pikiran-Nya. Kalau kita sebagai tanah liat malah sibuk dengan rancangan kita sendiri, maka dalam prosesnya kita malah jadi kacau-balau. Pemazmur berkata dalam Mazmur 94:11, "TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka." Kita harus mau ditaruh di tengah piringan yang berputar. Dalam perjalanan hidup, kita sering kali lebih mudah menunjuk ke arah orang lain — bahwa situasi akan membaik kalau orang lain yang berubah lebih dulu. Tetapi proses pembentukan Tuhan selalu dimulai dari dalam: Ia memanggil kita untuk terlebih dahulu menempatkan diri kita sendiri selaras dengan posisi yang Ia kehendaki. Tanah liat yang tidak seimbang di atas piringan tidak bisa dibentuk dengan baik, seberapa pun terampilnya sang pengrajin. Tuhan akan berproses dengan setiap umat-Nya, dan dalam proses kita, Tuhan ingin berperkara dengan kita secara personal.
Namun, jangan takut. Sebab dalam proses pembentukan, tangan Tuhan akan secara konsisten bersentuhan dengan kita, perlahan-lahan membentuk kita sesuai rancangan-Nya. Tuhan sendiri berjanji dalam Yesaya 41:10, "…janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."
Sebagai manusia yang penuh keterbatasan dan tidak sempurna, dan terkadang karena kesalahan kita dalam menggunakan kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan, tentu proses ini sering kali berjalan tidak semulus yang kita harapkan. Banyak tantangan dan distraksi yang membuat kita keluar jalur dan mengharuskan kita mengulang seluruh proses. Kabar baiknya, jangan takut dan jangan merasa tidak layak, sebab Tuhan berkata dalam Yeremia 18:4, "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."
Bejana yang sudah dibentuk, kemudian akan menghadapi ujian panas yang tinggi. Ujian ini akan menginternalisasi karakter yang sudah terbentuk agar menjadi permanen dalam diri kita. Proses ini menentukan nilai bejana. Ini juga yang membedakan kita dari mereka yang belum atau tidak mau dibentuk oleh Tuhan. Ada di antara mereka yang perjalanannya mengenal Tuhan memang belum dimulai — kasih karunia-Nya sedang bekerja menarik mereka, walaupun mereka belum menyadarinya. Ada pula yang telah mendengar dan mengenal undangan-Nya, namun memilih berpaling. Keduanya berbeda, dan keduanya membutuhkan cara pandang yang berbeda dari kita. Proses ujian panas akan membuat karakter dan nilai mereka muncul, walaupun dalam bentuk yang tidak seharusnya. Sedangkan bejana yang dibentuk oleh Tuhan, pasti berbentuk indah, bernilai tinggi, dan jelas peruntukannya.
Tapi sekalipun terlihat terlambat, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kalaupun kita sudah memiliki bentuk yang tidak sempurna (broken vessel), Tuhan selalu punya jalan untuk membentuk kita kembali. Prosesnya memang tidak nyaman, karena bejana itu harus dihancurkan terlebih dahulu — bentuk lamanya harus hilang, tidak dipertahankan sedikit pun. Pecahan-pecahan bejana itu kemudian dihaluskan menjadi grog, dicampur dengan tanah liat yang baru, lalu dibentuk kembali menjadi bejana baru sesuai rancangan Tuhan. Yang tersisa dari bejana lama bukan bentuknya, melainkan substansinya (perjumpaan dengan Tuhan) — dan substansi itulah yang kini memperkuat serta meningkatkan kualitas bejana yang baru. Inilah yang Paulus nyatakan dalam 2 Korintus 5:17: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Tuhan kita yang luar biasa, mampu dan mau mengubah kita menjadi karya yang ajaib, dimungkinkan oleh kasih karunia penebusan yang Kristus lakukan di atas kayu salib.
Masa lalu kita boleh buruk, karakter kita hari ini boleh buruk, kita mungkin ada dalam lingkungan yang buruk, tapi kita bisa belajar dari kisah Yusuf. Ia dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Dijual sebagai budak. Difitnah dan dipenjara. Bertahun-tahun dalam kegelapan, tanpa kejelasan, tanpa jawaban yang terlihat. Namun di setiap titik itu, tangan sang Pengrajin tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah liat-Nya. Dalam Kejadian 50:20, ia berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Yang Yusuf saksikan di akhir bukanlah penghapusan penderitaannya, melainkan transformasinya — bahwa setiap tekanan, setiap proses yang terasa tidak adil dan tidak masuk akal, ternyata berada dalam rancangan yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan. Dan pertanyaan yang sama kini berdiri di hadapan kita: apakah kita mau dengan setia berjalan bersama dengan Tuhan, sebab ada tertulis dalam 1 Korintus 2:9, "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Selama kita mau berjalan dengan Tuhan, terlepas dari masa lalu dan kekurangan kita, kita bisa percaya bahwa tangan-Nya yang sama juga sedang bekerja dalam hidup kita saat ini. Dan rancangan-Nya atas kita akan selalu berakhir indah — pada waktu-Nya.
Comments