Kalau kita bicara soal kepemimpinan, saya rasa Alkitab sudah memberikan berbagai contoh-contoh luar biasa yang relevan dengan berbagai fase kehidupan kita. Mulai dari Abraham, Musa, sampai Rasul Paulus sudah sering kali jadi teladan yang baik. To some extent, kita didorong untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, minimal untuk diri kita sendiri dan keluarga terdekat kita.
Saya melihat biasanya ada 2 jenis orang yang sering kita temukan dalam proses menjadi seorang pemimpin. Yang pertama, adalah kategori orang yang merasa siap atau memang bersedia menjadi pemipin. Jenis kedua adalah kategori orang yang menghindar ketika hendak ditunjuk menjadi pemimpin. Ada banyak alasan mengapa orang menolak atau menghindar, tapi, kalau saya boleh berpendapat, ganjalan terbesar yang membuat seseorang enggan untuk menjadi pemimpin adalah perasaan tidak layak.
Memang tugas sebagai seorang pemipin itu bukan tugas yang menyenangkan, apalagi di Alkitab ditulis, Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. (Lukas 12:48b)
Kita mendapatkan contoh kasus dari Musa, ketika Tuhan Allah mengutus Musa kepada Firaun untuk membawa umat-Nya, orang Israel, keluar dari Mesir. Secara spontan Musa ingin menghindar dari tanggung jawab tersebut, sehingga ia mengeluarkan empat argumen untuk berusaha menolak:
- "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11)
- "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Keluaran 3:13)
- "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1)
- "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10)
Tentu, setiap argumen Musa memiliki kedalaman teologisnya masing-masing — misalnya pertanyaan tentang nama Allah bukan sekadar soal pengetahuan, melainkan soal otoritas ilahi. Namun dalam semangat aplikasi praktis, kita bisa melihat pola yang relevan dengan pergumulan kita hari ini. Saya pribadi melihat, dari empat argumen Musa, ada empat excuses yang kita sering pakai juga untuk menolak tanggung jawab sebagai pemimpin:
- Saya tidak punya kepercayaan diri (takut ada yang lebih baik--penolakan internal),
- Saya tidak punya pengetahuan (takut tidak bisa menjawab),
- Saya tidak punya pengaruh (takut ditolak--penolakan eksternal),
- Saya tidak punya kemampuan (takut gagal melakukan).
Buat saya pribadi, menjadi pemimpin bukan sesuatu yang mudah. Berkali-kali saya mempertanyakan diri saya sendiri akan posisi yang saya pikul ini. Apalagi sebagai pemimpin kelompok kecil dalam sebuah gereja. Setiap kali saya menghadapi tantangan dalam keluarga, ada bisikan yang menggunakan ayat Alkitab:
Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? (1 Timotius 3:5) Rasanya sungguh tidak layak, munafik, dan memalukan untuk terus berjalan maju.
Walaupun saya menyadari ayat ini dalam konteks aslinya berbicara tentang kualifikasi penilik jemaat secara khusus. Namun prinsip yang terkandung di dalamnya — bahwa integritas kepemimpinan dimulai dari rumah — tetap relevan sebagai bahan refleksi bagi siapapun yang dipercayakan memimpin orang lain.
Tapi setiap kali mau mundur, selalu juga ada suara yang mengingatkan, dimana Tuhan berfirman dalam 2 Korintus 12:9, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Saya pun belajar, kalau kita sudah dalam kondisi yang sangat siap untuk memimpin sejak awal, kita akan cenderung mengandalkan diri kita sendiri, bukan Tuhan. Kita merasa mampu berjalan tanpa bantuan. Kita merasa hebat. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 1:26-29 berbicara: Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Ujung-ujungnya, yang Tuhan kehendaki dari kita adalah keterbukaan hati dan kemauan kita. Seperti yang terlihat ketika Allah memilih Daud — bukan yang tertinggi atau terkuat secara fisik, melainkan yang hatinya tertuju kepada-Nya. Dalam 1 Samuel 16:7 Allah berkata, Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Tentu, ini bukan berarti kita membutakan diri terhadap area-area dimana kita masih belum layak tersebut. Namun, maju dengan pengertian, bahwa kita bisa meminta Bapa kita di Sorga untuk terus menyertai dan memperlengkapi kita, sebab ada juga tertulis, Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Matius 7:7-8) Ini bukan formula ajaib, tapi sebuah pengingat, bahwa selama kita berdoa dan meminta dengan motivasi yang benar di mata Allah, Allah akan bertindak dengan cara yang tepat di waktu yang tepat.
Dalam konteks sebagai pemimpin, untuk membantu kita menyelesaikan keempat tantangan tadi, sesungguhnya kita perlu belajar untuk mengelola empat area dalam hidup kita juga, supaya kita lebih siap menjalankan peran yang Tuhan berikan ini.
Pertama, mengelola hati. Firman Tuhan dalam Amsal 4:23 berkata, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Ketidak-percayaan diri kita seringkali bersumber dari perasaan kita. Saya percaya, isi hati kita sangat berpengaruh dalam menentukan sikap dan respon kita, dan lebih lanjut sikap dan respon kita menentukan posisi kita. Saya jadi ingat akan sebuah prinsip kepemimpinan yang populer: 'your attitude determines your altitude.'
Wajar jika kita sering merasa ada orang lain yang jauh lebih baik dari kita, dan ini merupakan fakta yang tidak bisa kita pungkiri. Diatas langit selalu ada langit yang lebih tinggi. Tapi pemimpin yang benar, seharusnya justru senang jika ada orang yang lebih baik dari kita dalam kelompok, karena mereka akan membuat kelompok menjadi lebih baik lagi.
Kedua, mengelola pikiran/hikmat. Firman Tuhan dalam Yakobus 1:5 berkata, Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Dalam pengalaman saya selama ini, sesungguhnya seorang pemimpin tidak selalu harus mengetahui jawaban untuk semua perkara. Tapi kita harus memiliki hikmat untuk merespon dengan benar, sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, seperti yang tertulis dalam Amsal 3:5, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Ketiga, mengelola komunitas. Firman Tuhan dalam Amsal 27:17 berkata, Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Rasa takut akan penolakan adalah hal yang nyata. Namun kita harus sadar, sebaik apapun kita memimpin, penolakan pasti akan terjadi—bahkan Tuhan Yesus pun ditolak. Itulah sebabnya kita butuh komunitas yang benar untuk menjaga kita. Kita tidak bisa menajamkan diri kita sendiri. Kita butuh orang-orang yang bisa memberikan teguran objektif saat kita salah, dan memberikan afirmasi saat niat baik kita disalahpahami oleh orang lain. Tentu kita tidak bisa sembarangan memilih partner; berhadapan dengan yang terlalu keras, kita bisa patah, berhadapan dengan yang terlalu lunak (asal setuju), kita justru menjadi tumpul. Memiliki inner circle yang tepat akan membuat kita mampu menyikapi rasa takut akan penolakan dari luar dengan lebih sehat.
Keempat, mengelola kemampuan. Setiap dari kita sudah Tuhan berikan talenta, terlepas dari jumlahnya. Seperti yang diajarkan Kristus dalam Matius 25 mengenai Perumpamaan tentang talenta. Tuhan mau kita mengusahakan talenta yang sudah dipercayakan-Nya kepada kita masing-masing menurut kesanggupan kita, bukan menjadi takut dan pergi menyembunyikan talenta itu di dalam tanah. Rasa takut gagal bisa membuat kapasitas kita mandek. Mengelola kemampuan berarti kita menolak untuk 'mengubur' modal, bakat, atau akal budi yang Tuhan berikan hanya karena kita merasa tidak sehebat orang lain. Sang Tuan dalam perumpamaan itu tidak marah karena hamba tersebut tidak bisa menghasilkan lima talenta; Tuan itu marah karena sang hamba membiarkan ketakutan menghentikan eksekusinya. Menjadi pemimpin berarti kita mengambil risiko untuk terus mengasah, mengelola, dan melipatgandakan apa pun yang ada di tangan kita hari ini. Rasa tidak mampu bukanlah alasan untuk berhenti; itu justru adalah alasan untuk terus melatih diri.
Pada akhirnya, saya belajar dari berbagai sejarah yang tercatat di Alkitab. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Yang ada hanya pemimpin yang mau membuka hati dan pikiran untuk terus memperbaiki diri dan mengandalkan Tuhan dalam segala yang mereka perbuat. Ada sebuah hikmat dari Pengkhotbah yang mengingatkan kita tentang pentingnya kerendahan hati untuk terus belajar: Lebih baik seorang pemuda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi. (Pengkhotbah 4:13)
Ijinkan saya meninggalkan sebuah pesan: Menjadi pemimpin bukan tanggung jawab yang mudah, bukan perjalanan yang selalu indah, namun juga bukan beban yang terlalu berat untuk dipikul maupun sebuah kesengsaraan.
Pada akhirnya, proses menjadi pemimpin bukan tujuan akhir itu sendiri. Ia adalah salah satu jalan yang Allah pilih untuk membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus. Itulah mengapa Paulus bisa berkata dengan penuh keyakinan dalam Roma 8:28-29, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Tuhan memberkati.
Comments