Bicara kepemimpinan, kita sering mendengar bahwa pemimpin yang baik harus mampu menginspirasi dan melayani. Kedua hal ini sering kali menjadi ganjalan bagi sebagian orang untuk mulai memimpin karena merasa belum mampu melakukannya. Perasaan ini wajar mengingat besarnya beban seorang pemimpin, namun kita perlu menyadari bahwa tidak ada orang yang terlahir langsung menjadi pemimpin. Lebih mendasar lagi, kepemimpinan bukanlah status eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang. Suka atau tidak, setiap dari kita sudah diberikan lingkup pengaruh, sekecil apa pun itu. Kepemimpinan diri adalah titik awal bagi semua orang, namun pengaruh itu selalu bergerak ke luar: kepada keluarga, komunitas, dan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.
Saya percaya bahwa dalam konteks sebagai seorang pengikut Kristus, inilah standar kepemimpinan yang Tuhan kehendaki: seorang pemimpin adalah orang yang bersedia melewati berbagai proses untuk menjadi pribadi yang dibentuk dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan.
Dunia sering kali memperlihatkan bahwa orang-orang terbaik dalam bidangnya—yang paling kuat, paling pintar, paling terkoneksi—lah yang kemudian menjadi pemimpin. Ini membuat kita sering merasa tidak memiliki kapasitas ketika melihat diri kita sebagai pribadi yang biasa-biasa saja.
Pertanyaannya, apakah pemimpin itu selalu pribadi yang paling unggul dalam segala hal? Saya melihat Alkitab memberikan referensi yang cukup objektif dalam hal ini. Banyak catatan Alkitab menceritakan bagaimana Tuhan berulang kali memilih kandidat pemimpin berdasarkan kemampuan yang tidak diakui, mengizinkan mereka menghadapi berbagai ujian, isolasi, atau kegagalan, dan pada akhirnya menghasilkan para pemimpin yang kuat, namun tetap bergantung pada penyertaan Tuhan.
Kisah Daud adalah salah satu contoh nyata. Daud awalnya tidak diperhitungkan, bahkan oleh ayahnya sendiri. Ketika Nabi Samuel datang ke kota Betlehem dan mengundang Isai serta anak-anaknya untuk hadir dalam upacara pengorbanan, Daud bahkan tidak diajak.
Di titik inilah Tuhan menegaskan fondasi kepemimpinan-Nya dalam 1 Samuel 16:7: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." Setelah Daud diurapi, 1 Samuel 16:13 mencatat: 'Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.'
Apakah proses yang dijalani Daud menjadi instan setelah ia diurapi? Rasanya tidak. Persepsi ayah dan kakak-kakaknya terhadapnya tidak otomatis berubah. Ketika Daud berada di perkemahan tentara Israel, kakaknya memarahinya dan meremehkan tanggung jawab masa lalunya dengan berkata: "Pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun?" (1 Samuel 17:28). Lebih jauh lagi, Daud harus menjalani hidup sebagai buronan Saul. Ia mengasingkan diri ke gua Adulam, dan di sanalah ia memimpin orang-orang yang berada dalam kesukaran, dikejar-kejar utang, dan sakit hati (1 Samuel 22:2). Daud tidak langsung memimpin sebuah struktur pemerintahan yang mapan; ia memimpin kelompok marjinal di tengah pelariannya.
Semua pencapaian Daud pada akhirnya tidak bisa diklaim sebagai kehebatannya sendiri. Kepemimpinannya adalah hasil campur tangan Tuhan yang direspons dengan kesetiaan Daud di tempat yang sepi dan tidak terlihat. Orang-orang pada akhirnya bersedia mengikuti dan dipimpin oleh Daud bukan hanya karena ia pahlawan yang kuat, tetapi juga karena sangat jelas terlihat bahwa Tuhan menyertai dia.
Kembali ke premis awal, ketika kita memandang kepemimpinan sebagai suatu keadaan keunggulan moral dan tindakan, kita cenderung menghindarinya karena kita berfokus pada hal-hal yang tidak kita miliki. Perasaan tidak siap itu nyata, dan tidak perlu disangkal. Yang perlu kita sadari adalah bahwa alasan kita tidak siap, tidak mampu, atau tidak cukup "kudus" adalah karena kita mengandalkan diri sendiri, bukan pada Tuhan. Ini bukan perkara kerendahan hati, justru merupakan bentuk lain dari kesombongan: merasa Tuhan tidak mampu berbuat apa pun atas ketidaksempurnaan kita. Apakah keterbatasan kita merupakan masalah bagi Tuhan kita yang tidak terbatas?
Suka atau tidak, kita semua sudah diberi peran sebagai pemimpin. Ketika Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, setiap orang diberi kesempatan untuk memutuskan bagaimana ia merespons — apa yang ia pilih untuk dilakukan berdasarkan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Kita bisa saja memilih menjadi "manusia biasa", tapi coba pikirkan lagi apakah sesungguhnya kita memiliki opsi tersebut, mengingat kita diciptakan secara luar biasa dan sudah diberikan talenta yang perlu kita kembangkan, termasuk kepemimpinan kita.
Menolak peran ini secara permanen dengan sengaja menutup diri dari proses pembentukannya, pada dasarnya sama dengan hamba yang memilih mengubur talentanya karena takut gagal. Pergumulan dan keraguan di tengah proses adalah manusiawi; yang menjadi masalah adalah ketika kita memutuskan untuk berhenti sama sekali dan tidak mau bergerak. Itulah yang sesungguhnya merupakan dosa. Dalam perumpamaan tersebut, Kristus menyatakan bahwa hamba itu akan menerima konsekuensinya: ia dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di mana terdapat ratap dan kertak gigi.
Konsekuensi yang Kristus gambarkan bagi hamba itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang apa yang Ia percayakan kepada kita.
Ada sebuah gambaran yang menarik dari bahasa Yunani asli Perjanjian Baru: kata yang digunakan untuk dosa adalah hamartia, yang dalam konteks aslinya menggambarkan seorang pemanah yang meleset dari sasaran. Gambaran ini bukan definisi teologis yang kaku, melainkan ilustrasi yang membantu kita memahami maksud Tuhan: ketika kita menghindari proses pembentukan kepemimpinan, kita meleset dari salah satu tujuan penciptaan kita.
Kalau selama ini kita membiarkan diri menjadi pemimpin yang tidak berfungsi secara maksimal, ada kabar baik: proses ini bisa dimulai kembali. Tuhan digambarkan dalam Yeremia 18:4 sebagai seorang tukang periuk yang, ketika bejana di tangannya rusak, tidak membuangnya—melainkan mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Ia tidak mencari tanah liat yang sempurna. Ia bekerja dengan apa yang ada di tangan-Nya.
Di sinilah apa yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam 2 Timotius 2:20-21 menjadi relevan: "Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." Perbedaan antara perabot yang dipakai untuk maksud mulia dan yang tidak bukan terletak pada kualitas bahan aslinya, melainkan pada kesediaan untuk melewati proses penyucian dan pembentukan itu. Tuhan yang sama yang membentuk ulang bejana yang rusak adalah Tuhan yang menguduskan dan menyiapkan kita.
Menjadi pemimpin bukan berarti kita harus langsung memiliki semua jawaban atau tidak lagi memiliki kelemahan. Kepemimpinan adalah keputusan sadar untuk menempatkan diri kita dalam proses Tuhan. Tanpa kemauan untuk melangkah, sekalipun kita memiliki semua pengetahuan di dunia tentang kepemimpinan, kita hanya menjadi penonton dalam pekerjaan Tuhan. Sebab dengan mengizinkan Tuhan membentuk kita menjadi seorang pemimpin, kita sedang mengizinkan Tuhan memulai proses pembentukan karakter yang Tuhan siapkan untuk kita.
Proses ini sangat spesifik bagi tiap-tiap orang; sebagian dari kita mungkin dibentuk dengan belajar menerima kritik, sebagian lewat kesetiaan dalam melakukan hal-hal kecil yang tidak diperhatikan orang lain, dan sebagian lagi dengan menekan ego ketika pendapatnya tidak didengar. Seperti jawab Tuhan kepada Paulus dalam 2 Korintus 12:9: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Keterbatasan kita bukan penghalang bagi proses itu. Keterbatasan kita adalah bagian awal dari proses.
Satu hal yang perlu kita ingat: tidak semua orang akan memulai proses ini pada waktu yang sama, namun semuanya akan disesuaikan dengan rancangan dan waktu Tuhan bagi masing-masing kita. Tuhan yang berdaulat atas proses pembentukan kita juga berdaulat atas waktunya. Yang perlu kita jaga adalah kesediaan hati untuk merespons saat waktu itu tiba.
Terlebih lagi, Tuhan jarang bekerja dalam kekosongan. Dalam berbagai catatan Alkitab, Ia menggunakan otoritas yang Ia izinkan hadir di atas kita sebagai instrumen pembentukan. Ini bukan otoritas yang random — melainkan orang-orang yang Tuhan tempatkan secara spesifik dalam hidup kita: pemimpin, pembimbing, atau komunitas yang Tuhan percayakan untuk membentuk kita. Kisah Elisa adalah contoh yang jujur. Ia sedang membajak sawah — di tengah rutinitas yang tidak spektakuler — ketika Elia lewat dan melemparkan jubahnya ke atas Elisa (1 Raja-raja 19:19). Tidak ada audisi atau presentasi. Tidak ada persiapan panjang yang Elisa rencanakan sendiri. Tuhan yang menentukan momen itu, dan Tuhan yang menempatkan Elia di sana. Tugas Elisa hanya satu: merespons.
Dan respons Elisa tidak setengah hati: sesudah berpamitan dengan orang tuanya, ia menyembelih lembunya dan menggunakan bajaknya sebagai kayu bakar (1 Raja-raja 19:20-21), sebuah tindakan nyata yang menutup jalan kembali ke zona nyaman.
Maka ketika kita berada di bawah otoritas seseorang — entah itu seorang pemimpin di komunitas, seorang mentor, atau bahkan atasan di tempat kerja yang Tuhan izinkan ada dalam hidup kita — ada baiknya kita bertanya kepada Tuhan: apakah ini salah satu cara Tuhan sedang membentuk saya? Bukan berarti setiap otoritas otomatis benar atau harus diikuti secara buta, tetapi saya percaya Tuhan cukup berdaulat untuk menggunakan relasi-relasi ini sebagai bagian dari proses yang sudah Ia rancang bagi kita. Dan di mana pun kita berada dalam proses ini — baru memulai atau masih berjuang untuk melangkah — ada satu hal yang bisa kita pegang: "Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Proses pembentukan kita adalah proses milik Tuhan. Ia yang memulainya, Ia juga yang akan menyelesaikannya pada waktu-Nya.
Tuhan memberkati. (CBA)
Comments