Bicara soal doa merupakan sebuah topik yang berulang kali dibahas di atas mimbar dalam pertemuan-pertemuan ibadah, pendalaman Alkitab, dan berbagai kesempatan yang ada. Sebagian besar dari kita mungkin sudah punya banyak pengetahuan mengenai definisi doa, mengapa kita harus berdoa, bagaimana cara berdoa, dan sebagainya. Tapi mengapa berdoa kadang-kadang masih menjadi tantangan dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus? Atau lebih tepatnya, mengapa kita terkadang “lupa” berdoa atau bahkan sebagian dari kita menghindari/tidak suka berdoa? Sedangkan kita sadar bahwa berdoa adalah salah satu bentuk komunikasi terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita.
Dalam perenungan ini, Tuhan membawa saya kepada satu kejadian di Alkitab yang menarik. Pada Kitab Kejadian 2 dan 3, diceritakan mengenai manusia mula-mula serta buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dikatakan bahwa setelah mereka memakannya, mata mereka akan terbuka dan mereka akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Pertanyaannya, sebelum manusia mengetahui apa yang baik dan yang jahat, apa yang dilakukan oleh manusia?
Baru kali ini saya benar-benar mencoba memahami hal ini, dan saya baru sadar bahwa sebelum manusia mengetahui tentang apa yang baik dan yang jahat, manusia simply bergantung penuh kepada Tuhan, karena mereka belum terdistraksi oleh ilusi bahwa mereka tahu apa yang baik untuk diri mereka sendiri. Alih-alih terbuka dan mendekat kepada Tuhan (apa yang seharusnya mereka lakukan), mereka terdistraksi oleh ketelanjangan mereka (apa yang mereka anggap jahat) dan mereka mencoba mengandalkan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka dengan menyematkan daun pohon ara dan membuat cawat [pakaian dalam], serta bersembunyi dari Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman (apa yang mereka anggap baik). Kejatuhan bukan semata-mata soal mendapatkan pengetahuan, melainkan soal manusia memilih untuk menjadi pusat dari pengetahuan itu — menggantikan posisi Tuhan sebagai referensi utama.
Note: saya menggunakan kata ‘anggap’ karena saya percaya meskipun manusia mendapatkan pengetahuan dari buah pohon tersebut, tidak kemudian secara instan membuat mereka memiliki kebijaksanaan/pemahaman (wisdom) yang Allah miliki.
Tentu, saya mengerti bahwa hal tersebut bukan satu-satunya alasan yang membuat kita menjauh dari doa. Kadang kita tidak berdoa karena kita tidak percaya bahwa Tuhan benar-benar mendengar. Kadang juga karena kita merasa kecewa dengan doa-doa yang rasanya tidak terjawab. Kadang karena kita merasa tidak layak. Tapi saya juga sadar, di masa kini, dunia terus-menerus mengajarkan hal-hal yang terkesan “baik” yang membuat doa semakin jauh dari prioritas kita.
Dunia mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus serba bisa, harus mampu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi, memprioritaskan waktu kita hanya untuk hal-hal yang memberi dampak yang besar atau signifikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mampu mengendalikan segala situasi dengan baik, harus selalu bertahan dengan kuat dan sabar ketika sedang dalam keadaan yang tidak baik, serta tidak memperlihatkan kelemahan kita secara sembarangan.
Setelah saya pikir-pikir, hal-hal “baik” tersebut justru membuat kita terlalu bergantung pada diri kita sendiri dan kadang-kadang merupakan inisiatif yang counterintuitive terhadap berdoa atau berkomunikasi secara dekat dengan Tuhan. Kalau kita lihat dalam berbagai kejadian yang tercatat di Alkitab, banyak komunikasi dengan Tuhan yang bermakna justru terjadi ketika manusia mengakui keterbatasan dan kelemahannya, di mana ilusi bahwa kita sedang memegang kendali atas hidup ini dihancurkan. Beberapa contoh yang menarik:
- Ketika Abraham diminta Tuhan meninggalkan negeri dan sanak saudaranya, menuju sebuah tempat yang asing baginya (Kejadian 12-22) [Keterasingan]
- Ketika Musa frustrasi dalam mengelola bangsa Israel, yang terus bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka (Bilangan 11:14-15) [Kelebihan Beban]
- Ketika Salomo diangkat menjadi raja, menggantikan Daud, ayahnya, ia sadar bahwa ia masih sangat muda dan belum berpengalaman dalam mengelola suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya (1 Raja-Raja 3:6-9) [Ketidakmampuan]
- Ketika Elia sedang dikejar-kejar oleh ratu Izebel untuk dibunuh, hingga ia merasa ingin mati (1 Raja-Raja 19) [Kehabisan Energi]
- Ketika Yosafat ketakutan saat bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. (2 Tawarikh 20:1-12) [Ketidakberdayaan]
- Ketika Yunus ditelan seekor ikan besar dan berada dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. (Yunus 1-2) [Jalan Buntu]
- Ketika Yesus Kristus di taman getsemani merasa sedih hingga seperti mau mati rasanya menghadapi penyaliban yang akan tiba sebentar lagi (Matius 26) [Kesedihan]
Tentu jawaban klisenya adalah mulailah berdoa. Tapi hal ini lebih mudah dibicarakan daripada dilakukan. Meski begitu, pemahaman ini saya rasa sudah merupakan sebuah langkah awal yang tepat, seperti yang dikatakan pada Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Nah, dari semua kisah di atas, ada satu benang merah yang saya dapatkan: mereka tidak menunggu sampai siap. Mereka datang apa adanya. Kisah-kisah Alkitab lainnya juga mengajarkan saya bahwa intensi untuk berdoa adalah esensi yang penting sebelum kita memikirkan cara kita berdoa. Keinginan hati kita untuk mencari Tuhan adalah fondasi penting yang menyambungkan kita dengan Tuhan. Sebab cara para tokoh Alkitab dalam berdoa pun berbeda-beda, namun dengan tujuan yang sama, datang dengan hati yang terbuka kepada Tuhan:
- Nehemia pernah berdoa dengan spontan sebelum menjawab pertanyaan dari Raja Artahsasta saat ia sedang menjalankan tugasnya untuk menyediakan anggur bagi Raja. (Nehemia 2:1-5)
- Musa pernah berdoa dengan menyampaikan argumen untuk melunakkan hati Allah (Keluaran 32:11-14)
- Ayub pernah berdoa untuk membela dirinya di hadapan Allah (Ayub 13:3; Ayub 23:3-4)
- Yeremia pernah berdoa dengan menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan setelah dipasung di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah Tuhan karena menyampaikan nubuatan dari Tuhan di Yerusalem (Yeremia 20:7-18)
- Daud pernah berdoa untuk mendapat jawaban taktis cepat, apakah ia perlu pergi berperang dengan bangsa filistin atau tidak (1 Samuel 23:2)
- Daniel membangun kebiasaan berdoa tiga kali sehari dengan berlutut mengarah kepada Yerusalem (Daniel 6:11-12)
- Ester membangun doa korporat bersama-sama (Ester 4:16)
- Nabi Habakuk pernah berdoa mempertanyakan diamnya Tuhan atas kejahatan yang terjadi di sekitarnya, dan ia menantikan jawaban Tuhan sambil menanti dan berdiri tegak di menara (Habakuk 1-2)
- Yesus Kristus pernah berdoa hingga bersujud, menyampaikan isi hatinya yang penuh kesedihan, dan keinginanNya agar Ia tidak perlu menghadapi penyaliban itu (Matius 26:39)
- Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. (Ayat 1)
- Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (Ayat 5)
- Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. (Ayat 7)
Comments