Kasih karunia Tuhan merupakan salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan dalam komunitas gereja sejak dahulu. Bahkan, kita bisa bilang bahwa salah satu fondasi paling penting dalam iman Kristiani adalah kasih karunia keselamatan yang Allah berikan. Kita mungkin bisa mengaitkan berbagai kejadian positif yang kita alami sepanjang hidup kita dengan kasih karunia dari Tuhan. Pertanyaannya, apakah kasih karunia hanya terbatas pada kejadian-kejadian positif tersebut?
Saya pribadi melihat kasih karunia Tuhan lebih dari itu, karena banyak kejadian di mana kasih karunia Tuhan bisa saja datang dalam bentuk kejadian yang menyulitkan atau tidak menyenangkan. Ingat kejadian yang dialami oleh Maria? Dalam Lukas 1:30-31 disebutkan: "Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus."
Saya berusaha menempatkan diri di sepatu Maria, di mana realitas permukaan kasih karunia Allah malah justru tampak seperti bencana lokal. Risiko dampak dari kasih karunia yang diterima Maria adalah rusaknya posisi sosial, ancaman perceraian, dan potensi hukuman mati di bawah hukum. Keselamatan dunia terasa sangat jauh dari Maria pada saat itu.
Selain Maria, kita juga bisa belajar dari Nuh. Dalam Kejadian 6:8 disebutkan: "Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN." Karena kita mengetahui ending dari kisah Nuh, kita mungkin bisa dengan lebih mudah memahami kasih karunia tersebut, tapi saya yakin Nuh tidak menjalani seluruh prosesnya selalu penuh sukacita. Bayangkan, kalian mengalami dan menyaksikan salah satu bencana paling masif di dunia yang pernah terjadi. Disebutkan di Alkitab bahwa hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya.
Rasul Paulus, dalam 1 Korintus 15:10, berkata, "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." Sedangkan Firman Tuhan yang turun kepada Ananias untuk Saulus pada Kisah Para Rasul 9:15-16 adalah: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku"
Kasih karunia yang Paulus terima turut berarti hilangnya status sosial elitnya, kekuasaan politiknya, dan keselamatan fisiknya. Ia menukar kehidupan nyaman sebagai seorang Farisi dengan kapal karam (Kisah Para Rasul 27-28), pemukulan, pemenjaraan, dan akhirnya eksekusi.
Dari berbagai pelajaran yang diberikan Allah lewat Alkitab, in my reflection, kasih karunia Allah sesungguhnya tidak bicara tentang kenyamanan jangka pendek; ini tentang bagaimana kita dipercayakan sebuah peran dalam rencana Tuhan yang luar biasa. Dalam prosesnya, anugerah terbesar bukanlah terbebas dari masalah, melainkan kepastian bahwa Tuhan menyertai dan memakai hidup kita untuk sesuatu yang bernilai kekal. Kalau dalam perjalanan tersebut ada berkat-berkat yang disalurkan lewat kita, itu merupakan bonus dari Tuhan, teaser dari kehidupan yang akan datang di mana Tuhan mengizinkan Surga turun ke bumi atas kita.
Pada akhirnya, meskipun kasih karunia diberikan secara cuma-cuma oleh Kristus bagi kita, selalu ada harga nyata yang harus kita bayar saat kita memutuskan untuk menghidupi dan memikul kasih karunia tersebut di dunia yang berdosa ini. Maria menukar reputasinya. Nuh menukar kehidupan normalnya. Paulus menukar statusnya. Mereka semua kehilangan kenyamanan jangka pendek demi sebuah hasil akhir yang mengubah sejarah keselamatan manusia.
Pertanyaannya bagi kita hari ini bukanlah apakah Tuhan sudah memberikan kasih karunia-Nya kepada kita, karena Ia sudah melakukannya di atas kayu salib ribuan tahun yang lalu. Pertanyaannya adalah: Ketika kasih karunia Tuhan datang dalam bentuk tugas yang berat, panggilan yang menuntut pengorbanan, atau posisi yang tidak nyaman, apakah kita bersedia menukar kenyamanan kita untuk menghidupinya?
Saya percaya bahwa kasih karunia bukanlah perisai yang menjauhkan kita dari realitas dunia yang keras. Kasih karunia adalah jangkar yang membuat kita tetap teguh berdiri dan menyelesaikan peran dan panggilan kita bersama Kristus.
Pada akhirnya, kasih karunia jarang membuat hidup kita lebih mudah, tetapi saya percaya kasih karunia selalu membuat hidup kita lebih bermakna. Jika hari-hari ini hidup kita terasa berat karena Anda sedang mempertahankan integritas, memikul tanggung jawab, atau taat pada firman-Nya, jangan buru-buru merasa Tuhan sedang meninggalkan kita. Kemungkinan besar kita sedang berdiri tepat di tengah-tengah kasih karunia-Nya. Kita bisa mulai bertanya, 'Tuhan, kasih karunia macam apa yang sedang Engkau percayakan kepadaku hari ini? Dan mampukan aku untuk memikulnya.'
Tuhan memberkati. (CBA)
Comments