Dalam Injil Matius pasal 22, Yesus mengajar melalui perumpamaan. Kata-Nya: Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Dalam perumpamaan yang Yesus ceritakan, ada tiga jenis orang yang memberikan tanggapan terhadap perjamuan kawin tersebut. Kelompok pertama adalah orang-orang yang diundang, tetapi tidak mau hadir. Kelompok kedua adalah orang-orang yang diundang dan hadir, namun tidak berpakaian pesta. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang diundang, hadir, dan sudah berpakaian pesta. Tuhan Yesus lalu menutup perumpamaan itu dengan: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
Perumpamaan ini sesungguhnya berbicara tentang perubahan hidup. Orang yang hadir berarti memberikan respons positif terhadap panggilan Tuhan dalam hidupnya, sedangkan baju pesta menandakan perubahan hidup yang diaktualisasikan melalui perbuatan nyata. Dalam hal ini, akan jauh lebih mudah menilai sesuatu yang berada di ekstrem kiri (tidak mau hadir) atau ekstrem kanan (hadir dengan mengenakan baju pesta). Yang jadi tantangannya adalah kita sering kali berada di posisi tengah, bukan?
Kita sering kali menginginkan transformasi kehidupan ke arah yang lebih baik, tanpa perlu mengubah perilaku secara drastis. Kita mau datang ke pesta, turut menikmati suasana dan hidangan yang ada di pesta, bertemu dengan orang-orang penting yang turut hadir dalam pesta tersebut, bahkan bertemu dengan raja yang mengadakan pesta tersebut. Namun, kita menolak untuk menanggalkan pakaian sehari-hari kita.
Perlu kita ketahui bahwa merujuk pada tradisi pada masa itu, ketika seorang raja mengadakan perjamuan besar—terutama setelah mengundang orang-orang dari jalanan—raja tersebutlah yang menyediakan pakaian pesta bagi para tamunya di pintu masuk. Artinya, tamu yang tidak berpakaian pesta bukan tidak punya baju; tetapi secara sadar menolak pemberian raja karena merasa pakaiannya sendiri sudah cukup baik, atau ia tidak mau repot mengikuti aturan sang raja.
Saya pribadi juga pernah merasakan hal tersebut dalam pengalaman nyata. Ketika mendapat undangan pesta, terutama dari orang-orang yang saya tidak memiliki hubungan dekat, ada perasaan bahwa dengan saya datang saja sudah cukup baik; tidak usah-lah kita berupaya terlalu serius sampai menggunakan pakaian pesta segala. Namun, istri saya selalu menegur bahwa untuk menghormati pihak yang telah mengundang kita, kita harus berpakaian yang baik dan sesuai. Saya belajar bahwa penghormatan sering kali menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman kita.
Pemikiran “sudah datang saja sudah cukup” inilah yang merupakan kesalahan, terutama bagi kita. Kita menilai standar baik/buruk dari perspektif kita, bukan dari Tuhan. Ini persis seperti apa yang diFirmankan dalam Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Dalam Matius 22:13, orang-orang yang tidak berpakaian pesta mendapat ganjaran: “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Ada dua kisah di Alkitab yang mungkin relevan untuk kehidupan kita. Pertama, dalam kisah seorang yang kaya (Markus 10:17-23), ia berlari-lari untuk mendapatkan Kristus dan sambil bertelut di hadapan-Nya, ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kita tahu bahwa orang kaya ini sudah melakukan banyak hal yang baik, bahkan sejak masa mudanya. Namun, Kristus berkata, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Bagi kita, mungkin orang kaya itu sudah melakukan segala sesuatunya dengan cukup baik; ia sudah menaati segala perintah Allah: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu. Namun, pada akhirnya Kristus berkata: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Setelah orang kaya itu menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Kita terkadang mengotak-kotakan hidup kita: sebagian kita rela memberikan kepada Tuhan sebagai pelayanan, sebagian lagi kita jaga dengan erat, yang kita rasa sudah kita perjuangkan dan bangun dengan susah payah. Kita merasa itu seharusnya sudah cukup, bahkan lebih banyak daripada orang lain. Sayangnya, Tuhan berkata: “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:7-9)
Kisah kedua yang saya pelajari adalah dari Saul dalam 1 Samuel 15. Setelah ia diurapi menjadi raja atas bangsa Israel, Tuhan memerintahkan Saul untuk mengalahkan orang Amalek. Tuhan pun memerintahkan Saul untuk menumpas segala yang ada pada mereka, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.
Atas perintah Tuhan itu, Saul pun pergi berperang dan menang atas orang Amalek, namun Saul tidak menjalankan perintah Tuhan sepenuhnya. Saul tidak menumpas Agag, raja orang Amalek; dan kambing domba serta lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga, tidak mau mereka tumpas. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk itulah yang mereka tumpas. (1 Samuel 15:8-9) Dalihnya adalah bahwa rakyat menyelamatkan kambing domba, dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan Allah.
Saul sepertinya sungguh-sungguh merasa bahwa ia sudah melakukan apa yang baik bagi Tuhan. Namun, Samuel justru berkata dalam 1 Samuel 15:22-23, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”
Kita terkadang suka mencoba “berimprovisasi” dengan pemahaman kita sendiri, menentukan apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang perlu dan apa yang tidak perlu, bahkan mungkin menggunakan standar kebiasaan dunia dalam mengerjakan hal-hal yang diminta oleh Bapa kita di Sorga, sedangkan Amsal 3:5-6 menyebutkan: “Trust in the Lord with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways submit to him, and he will make your paths straight.”
Dari kisah-kisah tersebut, kita menemukan satu benang merah yang sangat mengganggu. Mereka semua adalah orang-orang yang merespons panggilan Tuhan, tetapi mereka ingin menaati Tuhan dengan syarat dan ketentuan yang mereka buat sendiri.
Mereka menginginkan hasil dari Kerajaan Allah—keselamatan, takhta, dan kedamaian—tetapi mereka menolak harga total yang harus dibayarkan. Mereka melakukan kompartementalisasi: 'Ini ruang tamu untuk Tuhan, tetapi kamar tidur dan brankas adalah milikku.'
Kesalahan terbesar dalam hidup kekristenan kita bukanlah saat kita menolak Tuhan secara terang-terangan. Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita mencoba berimprovisasi dengan Firman-Nya. Kita mencoba membawa pakaian lama kita ke dalam perjamuan-Nya. Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukanlah sebuah proses negosiasi. Kita tidak sedang duduk di meja perundingan dengan Kristus untuk menentukan bagian hidup mana yang boleh Ia ubah.
Pertanyaannya bagi kita sekarang bukanlah apakah kita sudah hadir di gereja. Pertanyaannya adalah: apa 'pakaian lama', apa 'harta', dan apa 'kambing domba terbaik' yang masih kita sembunyikan dari Tuhan hari ini?
Menyerahkan hidup bukanlah negosiasi. Mari tanggalkan pakaian lama itu. Mari kenakan pakaian pesta yang telah Ia sediakan, dan melangkah masuk ke dalam rencana-Nya dengan ketaatan yang tak bersyarat.
Comments