Skip to main content

Memilih perspektif yang benar dalam hidup

Secara intrinsik kita paham bahwa secara umum manusia adalah makhluk dengan dimensi yang lebih kompleks dari hewan. Tapi, sadarkah kita, ketika Tuhan menciptakan manusia, aspek apa yang merupakan pembeda utama antara seorang manusia dan seekor hewan? Menurut saya pribadi, aspek paling signifikan yang membedakan kita dengan hewan adalah Kapasitas mental kita yang kompleks dan jauh lebih berkembang.

Hewan pada umumnya bergerak dan memutuskan berdasarkan insting semata, atau pada beberapa hewan dengan kemampuan pikir yang lebih baik, hewan juga turut memperhitungkan kejadian-kejadian pada masa lampau yang pernah dialami dalam pengambilan keputusan sederhana. Manusia, karena memiliki ukuran dan struktur otak yang lebih besar dan kompleks, secara umum mampu berada pada tahapan refleksi diri yang lebih tinggi daripada hewan. Hal ini membuat apapun yang manusia lakukan, selalu pada tahapan yang lebih tinggi daripada apa yang seekor hewan bisa lakukan. Meskipun berbagai penelitian membuktikan bahwa berbagai jenis hewan memiliki kecerdasan pikiran, mampu menunjukkan emosi, menyelesaikan masalah, berimajinasi dan belajar, namun penelitian-penelitian tersebut juga membuktikan bahwa tidak ada hewan yang mampu menunjukkan tingkat potensi kedalaman dan fleksibilitas mental yang setara dengan potensi mental seorang manusia.

Dalam perspektif rohani, juga ada perbedaan jelas dalam penciptaan hewan dan manusia. Tercatat dalam Kejadian 1:20 dan 24, Allah menciptakan hewan hanya melalui Firman-Nya, "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala." dan "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Namun, ketika Allah menciptakan manusia, Ia menggunakan teknik penciptaan yang sangat berbeda. Dalam Kejadian 2:7-8 dikatakan, "...TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu." dan dalam Kejadian 2:21-22, "Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu." Tuhan menciptakan manusia dengan cara yang jauh lebih personal dan penuh perhatian dibandingkan makhluk lainnya. Saya percaya, semua hal yang Tuhan lakukan itu dikarenakan visi yang Tuhan sematkan dalam penciptaan manusia, seperti tercatat dalam Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Sejak awal manusia diciptakan menjadi pemimpin atas segala ciptaan-Nya di muka bumi.

Sebagai pribadi yang akan dijadikan sebagai seorang pemimpin, tentu artinya kita perlu diberikan kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan yang lebih baik, dan aspek yang paling berperan dalam melakukan pengambilan keputusan adalah aspek mental kita, terutama bagaimana perspektif atau cara kita memandang dan memahami dunia. Perspektif manusia bertindak sebagai lensa yang kita gunakan untuk menafsirkan dan memahami apa yang ada di sekeliling kita, yang kemudian memengaruhi cara kita membuat keputusan. Sebaliknya, setiap keputusan yang kita ambil membentuk kembali dan memperkaya sudut pandang kita, yang menciptakan siklus pertumbuhan melalui pengalaman, pembelajaran, dan adaptasi.

Maka ini adalah pertanyaan yang sangat penting untuk kita renungkan bersama: Supaya kita dapat mengambil keputusan yang tepat dalam hidup, bagaimana kita memiliki perspektif yang benar?

Tentu berbagai hal seperti pengalaman hidup, pengetahuan, dan kondisi hidup kita berperan penting dalam membantuk perspektif kita, tapi saya percaya bahwa terlebih lagi, perspektif kita seringkali dibentuk oleh orang-orang yang kita ijinkan terus-menerus ada di sekeliling kita, kita dengarkan perkataannya, dan menjadi inspirasi, teladan, atau sekedar referensi kita dalam hidup. Pemazmur mencatat dalam Mazmur 1:1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh

Pergaulan dengan orang yang tepat akan membantu kita memiliki mentalitas rohani, bukan duniawi. Orang yang tepat akan membantu kita memiliki mentalitas pemenang bukan mentalitas sebagai korban (victim mentality). Orang yang tepat akan membantu kita selalu merasa berkelimpahan, bukan berkekurangan. Orang yang tepat akan membantu kita mampu mengampuni, bukan malah terus-menerus tenggelam dalam kepahitan. Kitab Pengkhotbah 4:9-12 menyatakan demikian, "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.Rasul paulus juga turut mengajarkan dalam 1 Korintus 15:33Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Selain itu, Raja Salomo yang bijaksana pun menuliskan dalam Amsal 13:20Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malangJuga dikatakan dalam Proverbs 22:24-25 (NIV), "Do not make friends with a hot-tempered person, do not associate with one easily angered, or you may learn their ways and get yourself ensnared."

Ada saatnya kita tidak bisa memilih lingkungan tempat kita berada, di mana kita berinteraksi dengan berbagai perspektif. Tapi saya percaya, kita selalu diberikan pilihan oleh Tuhan. Selama kita memilih dengan bijak, kita akan menuai hal-hal baik dari setiap waktu yang kita tabur bersama dengan mereka.

Yang menurut saya sulit adalah, bagaimana kita mengetahui apakah orang yang kita ijinkan dekat dengan kita adalah orang yang tepat atau tidak. Seperti yang dikatakan, dalamnya lautan bisa diukur dalamnya hati siapa yang tahu? 

Untungnya, Tuhan Yesus dalam Matius 7:15-20 mengajarkan, "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." Kata nabi-nabi palsu disini, dalam berbagai terjemahan, juga ditulis guru-guru palsu, false prophets, atau dalam bahasa aslinya (yunani) pseudoprophetes yang juga dapat diartikan sebagai orang yang terlihat baik atau benar, mungkin rohani, dan seringkali mengajarkan berbagai hal, yang seringkali adalah kebohongan atau kesia-siaan belaka. Kata 'prophet' sendiri erat kaitannya dengan 'prophecy' atau pesan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Orang-orang ini juga seringkali mengatakan berbagai hal mengenai masa depan kita.

Jadi kita perlu mengenali buah-buah yang mereka hasilkan sebelum mengijinkan mereka berbicara banyak dalam hidup kita. Kita perlu menguji (1 Tesalonika 5:21 - Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.), apakah mereka secara konsisten menunjukkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri dalam kehidupan mereka sehari-hari (Galatia 5:22-23). Selain itu, kita juga perlu melihat perkataan mereka, apakah ada perkataan kotor keluar dari mulut mereka, apakah mereka secara konsisten memakai perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya orang-orang yang mendengar perkataan mereka, beroleh kasih karunia (Efesus 4:29), sebab apa yang keluar dari mulut berasal dari hati (Matius 15:18).

Kita mungkin tidak selalu bisa menghindari lingkungan yang penuh tantangan, tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk menanamkan diri di dalam komunitas yang membangun, yang membantu kita untuk memiliki sikap hati yang benar, dan berorientasi pada kebenaran Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam Amsal 4:23, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Mari kita sama-sama belajar berkomitmen untuk terus-menerus membaharui mental (akal budi) kita dengan memilih pergaulan yang membantu kita untuk dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2) supaya kita semakin dekat kepada Tuhan dan visi-Nya bagi hidup kita.

Tuhan memberkati! (CBA)

Comments