Tuhan Yesus lewat setiap perbuatan-Nya adalah sosok yang menjadi teladan terbaik bagi manusia, khususnya bagi para pengikut-Nya. Sepanjang hidup-Nya, Kristus sudah menunjukkan banyak sekali kualitas personal yang bisa kita teladani. Salah satu kualias personal yang begitu kuat Yesus tunjukkan adalah bagaimana Ia menjadi seorang pelayan atau hamba atas manusia, dan hal ini pula yang terus Ia ajarkan kepada murid-murid-Nya seperti yang Yesus katakan pada Matius 20:28: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Dari ayat ini bisa saya pahami bahwa semua pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan sebuah ekspresi tindakan kasih yang nyata bagi kita semua.
Kalimat "melayani adalah sebuah ekspresi tindakan kasih" akan lebih mudah dipahami oleh sebagian dari kita yang sudah menjadi orang tua. Ketika seorang anak lahir, anak tersebut tentu belum dapat melakukan apapun, lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang tua? Tentu orang tua dengan senang hati mempersiapkan segala hal untuk anak itu dan menempatkan anak sebagai prioritas utama. Sebelum anak lapar, orang tua sudah mempersiapkan makan, menyuapi anak tersebut untuk makan terlebih dahulu sebelum orang tua makan, menyanyikan lagu agar anak mudah tertidur, membersihkan dan memandikan anak, menyiapkan segala keperluan anak sebelum menyiapkan keperluan diri sendiri, bekerja ekstra keras untuk memenuhi segala kebutuhan anak di masa yang akan datang, dan lain-lain. Bukankah itu merupakan sebuah pelayanan?
Selain sebagai ekspresi tindakan kasih kita kepada orang lain, Alkitab mencatat bahwa pelayanan yang kita lakukan sebenarnya memiliki banyak makna/tujuan:
Kalimat "melayani adalah sebuah ekspresi tindakan kasih" akan lebih mudah dipahami oleh sebagian dari kita yang sudah menjadi orang tua. Ketika seorang anak lahir, anak tersebut tentu belum dapat melakukan apapun, lalu apa yang bisa dilakukan oleh orang tua? Tentu orang tua dengan senang hati mempersiapkan segala hal untuk anak itu dan menempatkan anak sebagai prioritas utama. Sebelum anak lapar, orang tua sudah mempersiapkan makan, menyuapi anak tersebut untuk makan terlebih dahulu sebelum orang tua makan, menyanyikan lagu agar anak mudah tertidur, membersihkan dan memandikan anak, menyiapkan segala keperluan anak sebelum menyiapkan keperluan diri sendiri, bekerja ekstra keras untuk memenuhi segala kebutuhan anak di masa yang akan datang, dan lain-lain. Bukankah itu merupakan sebuah pelayanan?
Selain sebagai ekspresi tindakan kasih kita kepada orang lain, Alkitab mencatat bahwa pelayanan yang kita lakukan sebenarnya memiliki banyak makna/tujuan:
- Jika Tuhan Yesus memberi teladan dengan melayani semua orang (Matius 20:28), kita sebagai anak-anak-Nya tentu harus mengikuti teladan tersebut, layaknya kita ingin anak-anak kita mengikuti teladan yang telah kita ajarkan kepada mereka, dan kita pasti senang dan bangga jika anak-anak kita bisa dengan konsisten mengikuti teladan kita yang baik. Tentu saja tidak semua dari kita dipanggil serperti Yesus untuk memberikan nyawa kita, namun melayani tentu adalah sebuah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun, dimanapun. Rasul Paulus dalam 2 Kor 3:18 berkata "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar"
- Seorang anak yang berhasil pasti membuat orang-orang kagum dan hormat akan orang tuanya. Jika banyak dari kita sering berkata bahwa kita anak-anak Allah, maka tentu kita mau mempermuliakan Bapa kita di surga? Kitab Matius 5:16 berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka meilhat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Ini menjadi dasar bahwa kita dapat memuliakan Tuhan Allah kita lewat hasil dan dampak perbuatan kita. Sekali lagi, Tuhan sudah banyak memberikan kita arahan dan perintah tentang bagaimana kita harus berlaku dan bertindak dalam keseharian kita lewat teladan-Nya di dalam Alkitab.
Mengenai hati untuk melayani secara spesifik, dalam Yohanes 15:8 dikatakan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”. Sedang Galatia 5:22-25 menjelaskan mengenai buah yang dimaksud: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Kalimat "menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" berbicara tentang melepaskan keinginan dan kepentingan pribadi untuk dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. - Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita dengan luar biasa lewat pengorbanan-Nya di atas kayu salib, dan atas semuanya itu, tentu banyak dari kita sungguh berterima kasih dan mengasihi-Nya juga, dan pelayanan yang kita lakukan dalam keseharian kita merupakan salah satu tanda bukti kasih kita kepada Tuhan, seperti yang dikatakan dalam kitab Yohanes 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Dan dalam konteks pelayanan, Markus 10:43-44 dengan jelas Yesus mengajar kepada murid-murid-Nya (kita): "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya."
- Semuanya dimulai dengan mengasihi (melayani) Tuhan, Allahmu. Hal ini terutama dengan membangun manusia rohani kita, mendekatkan diri kita kepada-Nya dan melakukan segala kehendak-Nya.
- Hukum yang kedua berbicara tentang mengasihi sesama, namun perlu diperhatikan bahwa Yesus berkata "..seperti dirimu sendiri." Hal ini artinya, jika kita belum mampu mengerti caranya untuk mengasihi (melayani) diri kita sendiri dengan baik, bagaimana kita mampu mengasihi (melayani) orang lain? Mengasihi diri sendiri bukan berbicara tentang menjadi egois, namun berbicara tentang bagaimana menghargai diri kita sendiri dengan cara menjaga kesehatan, mengisi wawasan dan pengertian kita, merawat penampilan kita, dan menjadikan diri kita selalu lebih baik dari hari ke hari.
- Setelah semuanya itu dapat dilakukan dengan baik, barulah kita mulai dapat mengasihi (melayani) sesama manusia. Kita bisa mulai mengasihi (melayani) orang-orang terdekat kita terlebih dahulu, yaitu keluarga inti kita, mengapa? 1 Timotius 3:5 (AMP) berkata "for if a man does not know how to manage his own household, how will he take care of the church of God?" Setelah kita mampu mengasihi (melayani) keluarga kita dengan benar, barulah kita mulai mempraktekkan pelayanan kita kepada orang banyak.
Dan pada akhirnya dalam praktek agar bisa terus konsisten, kita perlu menjaga pelayanan kita sebagai sebuah tindakan kasih yang sederhana, dari hati, dengan cara:
#1 Perduli & terbuka
Rasul Paulus berkata dalam Roma 12:15 "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" sedangkan Amsal 17:17b berkata "... menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." Permulaan dari kasih adalah kepedulian dan keterbukaan, saling berbagi satu sama lain dalam hal apapun. Kalimat "Apa kabar?" dan "Apa yang bisa saya bantu dan doakan?" adalah pertanyaan yang baik untuk menumbuhkan benih kepedulian dan keterbukaan antara satu sama lain.
#2 Memberi untuk menjawab kebutuhan
Dalam hal ini Tuhan sudah memberi teladan, Ia memberi makan (Contoh: Matius 14), menyembuhkan yang sakit (Contoh: Lukas 8), menjamah (Contoh: Lukas 5), mengunjungi (Contoh: Lukas 19), mendoakan (Contoh: Yohanes 17), mengajar dan tentu saja yang terpenting, memberitakan kabar baik (Contoh: Matius 4).
#2 Memberi untuk menjawab kebutuhan
Dalam hal ini Tuhan sudah memberi teladan, Ia memberi makan (Contoh: Matius 14), menyembuhkan yang sakit (Contoh: Lukas 8), menjamah (Contoh: Lukas 5), mengunjungi (Contoh: Lukas 19), mendoakan (Contoh: Yohanes 17), mengajar dan tentu saja yang terpenting, memberitakan kabar baik (Contoh: Matius 4).