Topik kesehatan mental adalah topik yang berkembang dan mendapatkan perhatian khusus setelah dunia menghadapi pandemi COVID-19. Bahkan tulisan-tulisan dan berbagai konten pembahasan mengenai kesehatan mental dapat dengan mudah ditemui di berbagai platform saat ini. Namun dalam konteks iman Kristiani, bagaimana kita perlu menyikapi hal ini?
Mengingat keadaan bahwa kita ini adalah pribadi roh, yang memiliki jiwa, dan tinggal di dalam tubuh, tentu kesehatan mental atau jiwa kita juga hal yang perlu dikelola dengan baik. Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:23 berkata, "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." Artinya kita tidak bisa memelihara hanya sebagian dari hidup kita dan mengabaikan yang lainnya.
Tentu hal paling sederhana yang mungkin perlu kita renungkan pertama kali adalah, apakah kita sudah memiliki mental yang sehat? Dewasa ini, self-diagnosis sering dilakukan dengan mudah melalui media sosial atau dari berbagai artikel yang dipublikasikan. Meskipun bisa membantu meningkatkan kesadaran, namun tanpa bimbingan profesional, hal ini berpotensi memberikan perspektif yang tidak tepat. Kalau boleh saya mengusulkan, kita bisa mengukur kondisi diri kita dari sebuah parameter universal yang Tuhan inginkan dalam hidup kita, yaitu PERTUMBUHAN (Growth). Hal ini juga sejalan dalam apa yang tertulis dalam Efesus 4:13-15, "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala."
Tentu pertumbuhan tubuh/jasmani adalah sesuatu yang lebih mudah dilihat, namun pertumbuhan dari sisi roh dan jiwa tidak selalu kasat mata. Tapi, tertulis juga dalam Kolose 1:10, "sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah," Saya belajar bahwa pertumbuhan yang baik selalu sejalan dengan buah yang baik. Mazmur 1:3 mengatakan, "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."
Di dalam Alkitab memang tidak dituliskan, buah-buah yang dihasilkan jiwa atau mental yang baik itu seperti apa; tapi mengingat di dalam jiwa terkandung pikiran, perasaan, dan kehendak, maka apa yang tercatat pada Roma 12:2 saya rasa bisa menjadi koridor yang baik, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Versi The Message membawa pesan yang lebih kuat bagi saya, "Don’t become so well-adjusted to your culture that you fit into it without even thinking. Instead, fix your attention on God. You’ll be changed from the inside out. Readily recognize what he wants from you, and quickly respond to it. Unlike the culture around you, always dragging you down to its level of immaturity, God brings the best out of you, develops well-formed maturity in you."
Dari ayat tersebut saya belajar, bahwa roh dan jiwa/mental yang sehat akan mendorong kita untuk melakukan tindakan atau keputusan yang lebih baik dan benar dalam hidup. Kalau dunia saat ini penuh dengan manusia-manusia yang overthinking, dari jiwa yang sehat kita memiliki peace of mind, kalau dunia penuh dengan amarah, sarkasme dan sinisme terhadap berbagai hal negatif yang terjadi di sekitar kita, dari jiwa yang sehat kita justru mampu berpikir secara positif dan berkata-kata dengan kedewasaaan yang baik.
Dari perenungan ini, saya merasa kesehatan jiwa/mental dengan kesehatan roh kita berhubungan dengan erat sekali. Misalnya, seseorang yang seringkali overthinking (dikuasai oleh pikiran negatif), dan self-diagnosis lainnya yang belakangan populer di media sosial, adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), yang ditandai dengan kepribadian yang impulsif, gelisah atau tidak bisa diam, sulit berfokus dalam mendengarkan sesuatu, dan sering lupa dan kehilangan barang. Saya percaya bahwa dengan membangun roh yang sehat, kita akan lebih mampu menghadapi dan meringankan tantangan-tantangan tersebut, sebab buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23) Saya sangat percaya bahwa buah-buah Roh ini tidak hanya mencerminkan kesehatan rohani kita, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan mental kita secara positif.
Masalah mental seperti obsessive compulsive disorder (OCD) dan post-traumatic stress disorder (PTSD) seringkali disertai dengan berbagai pergumulan emosional yang mendalam. Salah satunya seperti kebiasaan self-blame (menyalahkan diri sendiri) atau dewasa ini dikenal dengan impostor syndrome, menandakan kondisi gambar diri yang salah atau belum pulih. Gambar diri yang salah seringkali menyebabkan kita menjadi takut, ragu-ragu, marah, khawatir, rasa bersalah yang palsu, rendah diri, dan minder yang merugikan. Kemudian, orang yang memiliki gambar diri yang buruk, bisa menjadi sangat rendah diri, akhirnya cenderung menarik diri dari pergaulan. Semua hal ini merepresentasikan kondisi hidup yang tidak ideal, bahkan orang-orang yang mengalami stress kronis atau depresi seringkali juga mengalami hal-hal tersebut. Akhirnya hal-hal ini kemudian menghambat kita mencapai potensi terbaik kita, yang telah diciptakan Tuhan dengan luar biasa baiknya.
Betapa ironisnya hal ini, sebab terkait gambar diri manusia, Daud menuliskan dalam Mazmur 139:13-16 seperti berikut, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya."
Pada kasus yang lain, ada orang-orang yang begitu dikuasai oleh ketakutan (anxiety disorder) sehingga tidak berani menghadapi berbagai hal dalam hidup. Saya pikir, sangat wajar manusia mengalami rasa takut, bahkan Tuhan Yesus sekalipun mengalaminya, seperti yang tercatat dalam Lukas 22:44, "Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." Tapi Yesus memberi teladan kepada kita, dimana Ia tidak dikuasai oleh ketakutan-Nya. Dalam iman, Kristus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39) Tiga kali, Yesus mengucapkan doa yang sama (Matius 26:44) sebelum akhirnya bangkit dan menghadapi ketakutan-Nya (Matius 26:46).
Tulisan ini jangan sampai mendorong kita untuk menjadi pribadi yang penuh penghakiman (judgemental) terhadap orang lain atas tantangan mental yang sedang mereka hadapi, bahwa apa yang mereka hadapi merupakan akibat dari kelemahan rohani mereka, justru saya ingin mengemukakan bahwa dengan mengusahakan kesehatan rohani kita, kita akan sangat terbantu dalam menjaga kesehatan mental kita, atau membantu dalam proses pemulihan dari kondisi mental yang sedang terluka atau tidak sehat. Tentu saya mendorong setiap dari kita yang membutuhkan pertolongan profesional untuk tidak mengabaikannya. Tuhan tidak pernah sekalipun mengajarkan kita untuk memiliki blind faith, tapi mempergunakan hikmat yang sudah diberikan-Nya dengan baik (Yakobus 1:5), dengan iman bahwa Tuhan juga dapat bekerja melalui tangan-tangan profesional yang terpercaya untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik.
Terlebih dari apapun, saya sadar, bahwa ditengah-tengah masa yang sukar ini (2 Timotius 3:1-4), menjaga kesehatan rohani dan jiwa/mental kita bukan perkara yang gampang. Tidak mudah untuk menjaga konsistensi dalam pertumbuhan rohani kita, tapi jangan sampai kita berhenti berharap kepada Tuhan, sebab ada tertulis bahwa pertumbuhan kita tidak terjadi karena kekuatan kita sendiri, namun oleh karya Roh Kudus yang memimpin kita pada kebenaran (Yohanes 16:13) dan usahakan agar diri kita terus dikelilingi oleh orang-orang percaya yang tidak jemu-jemu untuk saling menjaga dan membantu dalam menghadapi dunia ini, seperti yang dikatakan dalam Ibrani 10:23-25, "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."
Dengan dukungan banyak pihak, semoga kita dapat lebih mudah mencapai pertumbuhan yang Tuhan inginkan. Harapannya, jika dulu kita mudah marah namun sekarang bisa lebih sabar, atau jika dulu mudah kuatir namun sekarang lebih tenang dalam menghadapi masalah, ini bisa menjadi indikasi pertumbuhan yang sehat.
Akhir kata, Filipi 4:8 mencatat, "...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Sebab "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:7)
Tuhan memberkati! (CBA)
Comments