Skip to main content

Kindness, Giving, and Sacrifice

"Salah satu momen yang menyenangkan dalam hidup kita tentu adalah ketika kita menerima sebuah pemberian, apalagi kalau pemberian tersebut adalah pemberian yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan atau inginkan. Apa yang kita rasakan tentu adalah perasaan yang sama yang dirasakan oleh hampir semua orang ketika menerima pemberian yang baik. Tuhan Yesus pada salah satu khotbahnya, dalam Lukas 6:31 berkata, "..dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." Menariknya dalam apa yang dituliskan di Lukas 6, kita bisa mendapatkan beberapa perspektif pembelajaran dari Kristus. Ijinkan saya untuk membagikan apa yang saya pelajari, dengan harapan bisa menjadi pengingat yang baik dalam hidup kita bersama.

Dalam Lukas 6:17-18, Kristus memulai pengajarannya yang pertama kepada kedua belas rasul yang baru saja Ia pilih. Dikatakan bahwa, "Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.Tentu ini bukan pertama kali Kristus memberikan pengajaran, namun somehow bagi saya, this is where the real session begins, khususnya bagi para rasul yang kelak menjadi fondasi bertumbuhnya gereja setelah Kristus naik ke Surga.

Hal yang dapat saya pahami adalah ketika kita dianggap memiliki sesuatu, orang-orang selalu berekspektasi terhadap kita. Manusia kerap kali memiliki harapan, "apa yang bisa saya dapatkan?" dalam setiap interaksi. Dikatakan juga dalam Lukas 6:19, "Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya." Orang-orang tersebut bahkan tidak berusaha meminta ijin atau mempedulikan apa yang Kristus rasakan atau pikirkan, yang mereka pikirkan adalah mengenai diri mereka sendiri. Yang menarik untuk dipelajari adalah apakah Kristus kemudian menjadi marah atau kecewa? Yang Kristus lakukan adalah mulai mengajari murid-muridNya lewat apa yang sedang terjadi saat itu.

Kalimat pengajaran pertama yang Kristus lontarkan adalah mengenai kebahagiaan, seperti yang tercatat dalam Lukas 6:20-23, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Beberapa hal yang saya dapatkan pada bagian ini, Pertama, saya merasa Kristus sedang menunjukkan apa kualitas Allah, yaitu memberi dengan kasih karunia. Dari apa yang disampaikan Kristus, saya menemukan sebuah pola yang menarik, dalam Lukas 6:20-21, Kristus memberikan highlight pada 3 kondisi: Miskin, Lapar, dan Sedih (Menangis). Dalam ketiga kondisi ini, kata Kristus: "Berbahagialah." Disini Tuhan mengajarkan kepada saya pemberian dengan kasih karunia terhadap dunia yang serakah ini. Karena, kalau kita mengikuti teladan Kristus dalam memberi, kita berpotensi mengalami ketiga hal tersebut, seperti dalam 2 Korintus 8:9 dikatakan, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."

Dalam bagian selanjutnya, Kristus juga mengajarkan pada Lukas 6:27-31, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." -- Hal-hal yang diajarkan Kristus, hanya bisa diberikan dalam platform kasih karunia! Karena semuanya diberikan tidak dalam konteks untung-rugi atau lebih-kurang. Bayangkan, "barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu," orang yang mengambil Jubah, dalam berbagai konteks melambangkan otoritas, status, atau posisi, juga mendapatkan baju kita--yang saya tangkap sebagai diri kita. Sandang atau pakaian merupakan satu dari tiga hal paling dasar (sandang-pangan-papan) yang dibutuhkan oleh manusia untuk dapat hidup dengan layak. Lalu, "Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu" -- kata setiap, dalam bahasa Yunani πᾶς (pas) bermakna "all," "every," "whole," dan "always." Ini mengajarkan saya mengenai giving without boundaries. Dan semuanya ini on top of "sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka."

Semuanya itu untuk membedakan antara kita dengan dunia ini, karena Kristus sendiri berkata dalam Lukas 6:32-34, "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak."

Apa yang dikatakan Kristus, mengingatkan saya tentang apa yang terjadi pada bangsa Israel ketika masih terjebak di Mesir. Dalam Keluaran 12:21-22, diceritakan bahwa Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: "Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah. Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi." 

Perbuatan korban bangsa Israel melalui penyembelihan anak domba Paskah menjadi tanda yang membedakan antara bangsa Israel dengan bangsa Mesir, sehingga maut yang menimpa tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, tidak menimpa bangsa Israel melainkan mereka beroleh keselamatan dan hidup. Dengan esensi yang sama, maka pengorbanan kita melalui kasih karunia, menjadi tanda diatas pintu hidup kita, membedakan kita dengan dunia ini. Kristus berkata dalam Markus 8:35-36, "Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya." -- Kata nyawa, dalam bahasa Yunani ψυχή (psuchē) juga dapat berarti feelings, desires, affections, aversions -- hal-hal yang kita inginkan, sukai, dan dambakan.

Sekali lagi Kristus menekankan kepada para murid-muridNya seperti ini: Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Lukas 6:35-38) Jelas sekali apa yang Ia sampaikan, bahwa kita didorong untuk melakukan berbagai-bagai pemberian: kasih, perbuatan, pinjaman, pengampunan. Dan tidak sampai sana, juga dengan takaran yang baik, yang padat dan melimpah -- bukan pemberian seadanya. Lebih lagi, dengan murah hati, artinya dengan kerelaan yang luar biasa dari hati kita.

Sebaliknya Kristus menggambarkan apa yang terjadi ketika hal yang sebaliknya dilakukan dalam Lukas 6:24-26, "Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." Kesemuanya ini menggambarkan sebuah hidup yang hanya berfokus pada I, me, and myself.

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:4-8 (MSG) menggambarkan sikap kasih dalam hidup kita, yang menjadi sikap kita dalam memberi:

Love never gives up.

Love cares more for others than for self.

Love doesn’t want what it doesn’t have.

Love doesn’t strut,

Doesn’t have a swelled head,

Doesn’t force itself on others,

Isn’t always “me first,”

Doesn’t fly off the handle,

Doesn’t keep score of the sins of others,

Doesn’t revel when others grovel,

Takes pleasure in the flowering of truth,

Puts up with anything,

Trusts God always,

Always looks for the best,

Never looks back,

But keeps going to the end.


Kristus menutup pengajarannya dalam pasal tersebut dengan sebuah peringatan penting untuk tidak hanya mendengar, namun juga melakukan. Lukas 6:46-49, "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."

Kristus sendiri berkata dalam Lukas 6:45, "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." -- Hati orang yang penuh kasih akan meluap dengan perbuatan, pemberian, dan perkataan yang mencerminkan kebahagiaan mereka. Sebab orang yang bahagia pasti murah hatinya. Kalau pimpinan, sahabat, orang tua, atau pasangan kita sedang bahagia, pasti apapun yang kita minta dengan baik, pasti dipenuhi mereka, bukan?

Orang yang baik digambarkan Kristus sebagai pohon yang menghasilkan buah yang baik, menjadi manfaat bagi orang lain (buah ara & buah anggur). "Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur." (Lukas 6:43-44)

Sebab, pada akhirnya tidak ada gunanya bersikap munafik dan menyematkan nama Tuhan pada setiap perbuatan kita, kalau tidak ada buah yang baik yang kita hasilkan. Siapakah kita hendak menipu Tuhan dengan penampilan manis kita semata? Bagi saya, yang Kristus ajarkan bukan sesederhana soal perbuatan memberi, namun soal kasih dan sikap hati kita. -- sebab pemberian tanpa kasih, seringkali dilakukan untuk mendatangkan pujian bagi diri kita sendiri, sehingga dikatakan dalam Lukas 6:26, "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." Sebab sekalipun kita menyematkan nama Tuhan dalam perbuatan itu, pada akhirnya itu hanyalah sebuah kepalsuan semata.

Sebagai tambahan yang penting, saya juga ingin mengingatkan bahwa Tuhan mengajarkan kita untuk memberi hidup kita dalam kasih secara tulus, sekaligus dengan hikmat bukan dengan kebodohan. Kristus sendiri berkata dalam Matius 10:16, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." Dan ketika kita bingung dalam melakukan perbuatan kasih, mintakanlah hikmat dari Allah, seperti yang tertulis pada Yakobus 1:5: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." -- Sebab itu, penting bagi kita untuk hidup dalam Tuhan, dan Tuhan dalam kita, supaya kita berbuah banyak, sebab di luar Tuhan kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5)

Sekarang pilihan bagaimana kita hidup ada di tangan kita masing-masing, apa yang hendak kita pilih? Tuhan memberkati! (CBA)

Comments