Pernahkah kalian mendengar tentang terminologi inner landscape? Setiap orang mungkin memiliki detail yang berbeda ketika membayangkan inner landscape, namun sebagian besar orang akan mengatakan bahwa inner landscape merupakan sebuah ruang imajinasi di dalam diri kita yang menggabungkan memori, pikiran, perasaan, dan emosi yang kita alami. Inner landscape seseorang kemudian menjadi rumah dari inspirasi, kepercayaan, harapan dan pandangan orang tersebut mengenai hidup (worldview). Kata landscape sendiri berarti 'all the visible features of an area of land.'
Apa yang terbentuk dari inner landscape kita mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan segala hal. Jika kita memiliki inner landscape yang kelam dan sempit, maka terlepas dari apapun situasi yang ada di sekeliling kita, kita akan merasa bahwa dunia ini adalah sebuah tempat yang kelam dan penuh kesulitan tanpa ruang gerak. Sebaliknya, jika kita memiliki inner landscape yang luas dan beragam, kemungkinan besar kita akan memiliki rasa empati yang tinggi dan mampu menoleransi sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang muncul dalam hidup dengan lebih baik. Firman Kristus dalam Lukas 6:45 mengatakan, "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." Mungkin dapat juga dikatakan bahwa inner landscape kita adalah tempat tinggal jiwa (heart/soul) kita, atau dalam konteks alkitabiah, saya berpikir bahwa inner lanscape kita menunjukkan gambar diri kita.
Bagi orang dewasa, karena dibentuk dari berbagai kejadian hidup yang bertahun-tahun kita alami dan rasakan, tentu inner landscape kita bukan sesuatu yang mudah diubah. Tapi ini juga bukan berarti perubahan adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Justru inner landscape yang buruk seharusnya secara bertahap diubah menjadi inner landscape yang indah.
Salah satu kisah di Alkitab yang menceritakan perjalanan perubahan inner landscape adalah kisah tentang Gideon. Sebagai konteks, Gideon hidup pada masa dimana orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu (Hakim-Hakim 6:2). Orang Midian selama tujuh tahun terus mem-bully orang Israel dengan memusnahkan hasil tanah taburan orang Israel, dan tidak meninggalkan bahan makanan apapun di Israel (ayat 4).
Ketika Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Gideon, kita bisa melihat sebagian inner landscape milik Gideon, dimana diceritakan sebagai berikut pada Hakim-Hakim 6:12-13, "Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani." -- Jawab Gideon kepada-Nya: "Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian." Pada waktu itu, Gideon sedang mengirik gandum dengan sembunyi-sembunyi dalam tempat pemerasan anggur agar tidak terlihat oleh orang Midian. Sebagai konteks, gandum biasanya ditumbuk di tempat pengirikan pada area terbuka yang luas. Sebuah tempat pemerasan anggur adalah sebuah lubang besar di tanah, seperti seukuran kolam ikan atau kolam renang kecil. Gideon sedang berusaha agar tidak terlihat, agar gandum milik keluarganya tidak dirampas oleh orang Midian.
Lalu ketika Tuhan menyampaikan Firman bagi Gideon untuk menyelamatkan orang Israel dari cengkeraman orang Midian, jawab Gideon kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku." (Hakim-Hakim 6:14-15)
Tahukah kalian, bahwa Manasye, anak Yusuf nenek moyang suku Manasye memiliki kisah yang menarik? Pada Kejadian 48, Yakub yang kemudian disebut Israel pada akhir hidupnya hendak memberkati Yusuf dan anak-anaknya. Yusuf sendiri memiliki dua orang putra yaitu Manasye yang sulung dan Efraim yang bungsu. Saat Israel hendak memberkati mereka, Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye--jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung (Kejadian 48:14). Yusuf yang melihat itu dan mencoba memindahkan tangan Israel, Katanya kepada ayahnya: "Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya." (Kejadian 48:18) Tetapi ayahnya menolak, katanya: "Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa." (Kejadian 48:19) --- Bukan bermaksud overthinking, tapi kalau melihat bagaimana Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya hingga ingin membunuh adiknya (Kejadian 27:41), bayangkan apa yang menjadi perasaan Manasye pada waktu itu? Mungkin tidak mengherankan kalau rasa insecure dari Manasye juga terwariskan kepada keturunan-keturunannya. Perlu diketahui juga, bahwa Gideon bukan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, sebab ditengah-tengah kesulitan orang Israel, Gideon sendiri memiliki 10 orang hamba laki-laki (Hakim-Hakim 6:27).
Jadi, rasanya bisa kita pahami perasaan Gideon pada waktu itu, kan? Ditengah perasaan skeptisnya, Gideon pun meminta tanda, seperti yang diceritakan pada Hakim-Hakim 6:17, "Maka jawabnya kepada-Nya: "Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku."
Bagi saya, inilah yang menjadi turning point dari Gideon. Terlepas dari perasaan skeptisnya, menurut saya Gideon malah penuh dengan pengharapan. Tahu dari mana? Dari effort yang Gideon lakukan untuk menguji tanda dari Tuhan. Pada ayat 19, diceritakan, Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya. -- Mengingat pada masa itu orang Israel sulit mendapatkan bahan makanan karena seringkali dirusak dan dirampas oleh orang Midian, Gideon malah dengan sigap mempersiapkan dan menyuguhkan roti, lengkap dengan daging dan kuah dengan hormat kepada Tuhan. Setelah tanda yang diminta Gideon digenapi, langkah hidup Gideon mulai selaras dengan rancangan Tuhan bagi hidupnya.
Tentu perubahan yang dialami Gideon tidak berlangsung dalam sekejap mata. Perlu diketahui bahwa tidak hanya sekali Gideon meminta tanda untuk meyakinkan dirinya, bahkan setelah Tuhan menjawab dengan jelas sekali pada tanda yang pertama. Tanda kedua yang Gideon minta pada ayat 36-37, "Kemudian berkatalah Gideon kepada Allah: "Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu, maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering, maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan." Lalu tanda ketiga yang diminta Gideon pada ayat 39, "Lalu berkatalah Gideon kepada Allah: "Janganlah kiranya murka-Mu bangkit terhadap aku, apabila aku berkata lagi, sekali ini saja; biarkanlah aku satu kali lagi saja mengambil percobaan dengan guntingan bulu itu: sekiranya yang kering hanya guntingan bulu itu, dan di atas seluruh tanah itu ada embun."
Kita tentu sadar bahwa perubahan butuh proses, tapi kita juga belajar dari Gideon bahwa proses tersebut melibatkan Tuhan secara dekat, bukan proses asal-asalan yang kita lakukan dengan sesuka hati. Gideon menunjukkan komunikasi yang dekat dengan Tuhan, dimana Gideon secara konsisten berdoa dan menjalankan apa yang Tuhan firmankan kepada Gideon. Selebihnya? Alkitab mencatat, hanya dengan 300 orang yang dipilih Tuhan, Gideon mengalahkan orang Midian, menawan dan menumpas dua raja Midian (Hakim-Hakim 7:7 & 25). Bahkan ketika orang Israel meminta Gideon untuk memerintah atas mereka, dicatat dalam Hakim-Hakim 8:23, Jawab Gideon kepada mereka: "Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu."
Sejak turning point yang dialami Gideon, ia berubah dari orang yang insecure dan takut terhadap orang Midian menjadi pahlawan yang gagah berani seperti kata Malaikat Tuhan ketika pertama kali menampakkan diri pada Gideon. Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon. (Hakim-Hakim 8:28)
Abram, Daud, Musa, Matius, Zakheus, Perempuan yang berzinah, Perempuan samaria di sumur Yakub, Petrus, Paulus bahkan Kristus pun memiliki turning point mereka masing-masing. Maka saya juga sangat percaya bahwa setiap dari kita pasti punya turning point masing-masing yang membawa kita semakin dekat dengan rancangan Tuhan terhadap hidup kita. Jangan remehkan sekecil apapun turning point tersebut, Tahukah kalian, pada kapal yang besar, menggeser 1 derajat kemudi bisa menyebabkan pergeseran yang besar pada tujuan akhir kapal tersebut?
Betapa beryukurnya kita bahwa Tuhan tidak melihat kita seperti bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Kita bisa saja menggangap diri kita kecil dan tidak berarti, tapi rencana Tuhan sesungguhnya adalah menjadikan hidup kita berdampak besar (berbuah lebat), agar namaNya dipermuliakan. Tuhan memberkati! (CBA)
Comments