Skip to main content

Having enough in life.

Pernahkah Anda mendengar ungkapan, 'Christ is enough for me' dalam kehidupan kita sebagai orang percaya? Ungkapan tersebut mengajak kita untuk menyadari bahwa ketika kita hidup dalam Kristus, kita sesungguhnya sudah memiliki segalanya yang kita butuhkan—lebih dari sekadar berkat materi, kesuksesan, atau pencapaian duniawi.

Setiap orang mungkin memiliki definisi masing-masing mengenai rasa cukup. Porsi makan masing-masing saja sudah berbeda, ukuran rumah, fasilitas yang kita gunakan, opsi pakaian yang kita miliki, penghasilan yang kita terima, pencapaian karier atau jabatan, dan sebagainya. Tapi, sepertinya dewasa ini orang-orang cenderung sulit membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan kemewahan. 

Hal ini kemudian yang membuat kita seringkali memiliki rasa tidak puas terhadap situasi dan keadaan kita saat ini, bahkan mungkin beberapa kali merasa iri terhadap apa yang dimiliki atau dicapai oleh orang lain di sekeliling kita. Apalagi, di era teknologi dan sosial media seperti sekarang, dimana aksi flexing umum terjadi. Ini juga yang membuat orang menjadi bekerja lebih keras, menggunakan lebih banyak waktunya, tenaga, pikiran, dan perasaannya untuk menggapai lebih banyak hal dan pencapaian hidup dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Katanya, "Hustle culture."

Yang seringkali diperdebatkan adalah, masa' kita sebagai orang percaya ada di posisi atau pencapaian hidup yang lebih rendah dari orang-orang lain yang tidak di dalam Kristus? Ijinkan saya memberikan proposal perspektif yang berbeda, bahwa kita tidak dilarang untuk ada dalam posisi, kondisi, atau pencapaian tertentu dalam hidup. Justru pencapaian kita diharapkan bisa membanggakan atau menyenangkan hati Tuhan. Tapi, yang Tuhan ajarkan pada kita adalah, cara kita sampai kesana jangan sama seperti dengan apa yang dipraktekkan oleh dunia. Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi dua aspek yang diajakarkan pada saya dari Alkitab mengenai cara kita menjalani hidup dan tentang kekayaan.

Pertama, dunia mengajarkan kita untuk bekerja dan berusaha sekeras-kerasnya untuk mencapai hasil yang setinggi-tingginya atau uang sebanyak-banyaknya, namun Tuhan mengajarkan kita dalam Amsal 10:22Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Tentu Tuhan tidak menyuruh kita untuk bermalas-malasan, karena sebelumnya pada Amsal 6:6-8, dikatakan bahwa: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." Saya percaya bahwa Tuhan sesungguhnya ingin mengajarkan perspektif fokus yang berbeda. Kata "susah payah" pada Amsal tersebut berasal dari bahasa ibrani עֵצֶב (baca:eh'-tseb) yang artinya kesulitan, kesusahan, kesakitan, kesedihan, kesengsaraan (pain, hurt, toil, sorrow, labour, hardship). Hasil yang baik dari Tuhan tidak pernah disertai dengan hal-hal tersebut, karena Firman Tuhan juga mengajarkan kita untuk Bersukacitalah senantiasa. (1 Tesalonika 5:16)

Saya percaya, Tuhan mengajarkan kita bahwa harta bukan merupakan fokus dari perjalanan hidup kita yang singkat ini, dalam 1 Timotius 6:10 dikatakan: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 

Saya mencoba memahami, kenapa sih', kita mau mengejar kekayaan? Seringkali semuanya dimulai dari perasaan takut atau khawatir kalau-kalau kita tidak memiliki harta yang cukup ketika kita membutuhkannya. Saya juga menemukan bahwa orang yang memiliki masa lalu yang penuh dengan perasaan serba berkekurangan (sekalipun mereka sudah ada dalam posisi yang jauh lebih baik pada saat ini) punya kecenderungan untuk berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan harta agar tidak mengalami lagi masa-masa sulit tersebut di waktu yang akan datang. Seringkali ada perasaan, kalau tidak memiliki harta yang cukup, apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (Matius 6:31) Jika hati kita penuh dengan kekuatiran seperti itu, mana ada lagi ruang bagi kita untuk bersukacita?

Dalam Matius 6:25-34, Tuhan Yesus mencoba memperbaiki sikap hati kita yang penuh rasa kuatir tersebut. Pada ayat 32-33, Ia berkata, "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Hal ini baru masuk akal jika kita menghidupi ungkapan, 'Christ is enough for me.' Dalam terjemahan The Message, Tuhan Yesus berkata: "Give your entire attention to what God is doing right now, and don’t get worked up about what may or may not happen tomorrow. God will help you deal with whatever hard things come up when the time comes." (Matius 6:34Orang yang tidak mengenal Kristus akan mengalami kesulitan dalam memahami hal ini, mereka akan merasa bahwa hal ini tidak masuk akal, karena bagi mereka apa yang ingin mereka raih hanya bisa mereka dapatkan dengan mengandalkan kekuatan mereka sendiri.

Kedua, dunia mengajarkan kita bahwa harta adalah salah satu hal terpenting yang harus dimiliki manusia selama hidup, tanpa harta segala sesuatu adalah sulit adanya. Saya tentu menyadari betapa pentingnya memiliki uang, tanpa uang banyak hal yang tidak dapat kita lakukan. Tanpa uang, tentu sulit bagi saya untuk bisa menyekolahkan anak saya di sekolah yang baik atau memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga saya. Namun saya juga percaya bahwa harta itu sesungguhnya merupakan alat atau fasilitas yang Tuhan berikan sesuai kapasitas kita agar kita mampu menjalankan tujuan hidup kita dengan lebih baik. Harta yang Tuhan percayakan perlu diinvestasikan dengan baik, bukan semata-mata hanya untuk dikumpulkan dan digunakan untuk kenikmatan semata. Tuhan Yesus berkata dalam Markus 8:36: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?

Yakobus menegur orang-orang yang terus mengumpulkan harta dengan cara yang tidak benar dan tanpa tujuan yang tepat, dalam terjemahan The Message, James 6:1-3Come [quickly] now, you rich [who lack true faith and hoard and misuse your resources], weep and howl over the miseries [the woes, the judgments] that are coming upon you. Your wealth has rotted and is ruined and your [fine] clothes have become moth-eaten. Your gold and silver are corroded, and their corrosion will be a witness against you and will consume your flesh like fire. You have stored up your treasure in the last days [when it will do you no good]Disini saya baru kemudian menjadi jauh lebih paham akan perkataan Kristus pada Matius 6:19-21Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Apa sih' harta di sorga? Menurut saya, bukan hal yang sama dengan apa yang kita anggap sebagai harta di dunia, sebab dalam Wahyu 21:18-20, dikatakan bahwa pada kota Yerusalem baru di sorga yang dijanjikan bagi kita kelak, Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni. Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zamrud, dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung. Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening. Kita tidak pernah menganggap aspal, batu bata, dan paving block yang kita gunakan di jalan dan tembok kita sebagai harta, bukan?

Seharusnya, harta di sorga adalah hal-hal yang Tuhan anggap penting dan berharga, yang dicari-cari oleh Tuhan, yaitu setiap pribadi lepas pribadi yang mengenal Tuhan dengan dekat, memiliki sikap hati yang penuh penyembahan, taat dan hidup dalam teladan Kristus, yang kemudian memperoleh hidup dan keselamatan yang kekal. Bukankah ini yang berulang-ulang diajarkan oleh Kristus selama hidupnya?

Jadi, saya percaya, perkara mengumpulkan harta di sorga adalah bagaimana kita menggunakan fasilitas yang Tuhan ijinkan untuk kita kelola di dunia ini untuk menjalankan amanat agung-Nya, dimana dikatakan oleh Kristus dalam Matius 28:19-20 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Bagi saya, ini bukan semata-mata berbicara tentang persembahan dan uang yang kita berikan kepada Gereja, namun bagaimana lewat seluruh sumber daya yang kita kelola, waktu, tenaga, pemikiran, harta, posisi, hingga pengaruh yang kita miliki, bisa kita gunakan untuk menunjukkan betapa baiknya Tuhan pada orang-orang yang mungkin hanya tahu atau pernah mendengar, namun belum betul-betul mengenal Tuhan. Lewat ketaatan hidup kita dalam mengelola seluruh sumber daya tersebut, kita juga mengajarkan kepada mereka, bagaimana caranya mendapatkan hidup dan keselamatan yang kekal, which in turns, menjadi harta di sorga, bukan?

Bayangkan, kalau kita bisa kembali ke akhir tahun 2003 sebelum Facebook diluncurkan pada Februari 2004, atau kembali ke pertengahan tahun 1998 ketika Google didirikan, akankah kita menginvestasikan seluruh harta yang kita miliki sebesar-besarnya yang bisa kita kumpulkan dan membeli saham kedua perusahaan tersebut? Rasanya bahkan tidak aneh kalau kita menggunakan semua harta kita, dan hanya menyisakan pakaian yang secukupnya dan sejumlah kecil uang untuk makan dengan baik, agar keuntungan yang bisa kita dapatkan akan semakin maksimal, bukan?

Rasul Paulus pernah berkata dalam 1 Timotius 6:6-8, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."

Melalui perenungan ini, saya semakin sadar, seberapa jauh perbedaan Tuhan dengan dunia. Betapa bersyukurnya kita, dengan segala hal yang Tuhan ajarkan kepada kita, sehingga kita bisa memiliki hidup yang jauh lebih baik saat ini dan kelak. Rasul Paulus berkata dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Tuhan memberkati (CBA).

Comments