Skip to main content

Symphony in Worship

Kita sebagai bagian dari kumpulan orang percaya, tentu seringkali mendengar, membahas, atau merenungkan tentang penyembahan atau dalam bahasa inggris disebut worship, bukan? Kata worship sendiri dapat diterjemahkan menjadi "the feeling or expression of reverence, devotion, and adoration shown toward God, a person, a thing, or principle." Sedangkan KBBI mengartikan kata sembah sebagai pernyataan hormat dan khidmat atau kata atau perkataan yang ditujukan kepada orang yang dimuliakan.

Tentu sudah banyak diskursus yang muncul membahas bagaimana seharusnya pengikut Kristus menyembah Tuhan Allah. Banyak Firman Tuhan di dalam Alkitab memberi petunjuk dan arahan bagaimana Tuhan menghendaki kita untuk menyembah-Nya. Salah satu yang sering dikutip adalah Firman Tuhan dalam Yohanes 4:23-24 "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Jelas dari ayat tersebut, menggambarkan bagaimana Tuhan menginginkan kita untuk semakin dekat kepada-Nya, semakin serupa dengan-Nya. Dan dalam konteks yang sama, penyembahan kita juga menjadi ekspresi seberapa dekat atau seberapa menyatu kita dengan-Nya. Ijinkan saya dalam kesempatan kali ini untuk membagikan apa yang saya pahami mengenai penyembahan, yang saya harap bisa memberikan perspektif berbeda dan membuat kita mengevaluasi ulang cara kita menyembah Tuhan.

Dalam konteks penyembahan, sadarkah kita, bahwa manusia adalah makhluk yang mengejar penyembahan? Sebelum manusia mengenal Bapa melalui Kristus, manusia seringkali mengejar uang, orang, karier, kuasa, hobi, gairah, harta benda, dan apa pun yang menggantikan Tuhan di hati kita. Dan salah satu tanda kita melakukan penyembahan adalah dengan memberikan persembahan. Dari apa yang saya baca dan coba pahami di Alkitab, penyembahan adalah sebuah tindakan yang identik dengan pengorbanan (sacrifice). Dalam berbagai ayat, khususnya pada perjanjian lama, kegiatan-kegiatan penyembahan yang dilakukan selalu diiringi dengan persembahan yang layak. 

Ketika menyembah, manusia tidak sungkan untuk memberikan hal-hal terbaik seperti korban curahan atau korban sajian (Yesaya 57:6) bahkan hingga anak-anak mereka (Yesaya 57:5). Praktek ini pun masih dilakukan di berbagai belahan dunia sampai saat ini. Manusia tidak segan untuk mengorbankan sesuatu yang dimilikinya untuk sesuatu hal lain yang dianggap penting atau bisa menolong keluar dari permasalahan. Tidak sedikit bahkan yang menganggap ini sebagai sebuah transaksi, bukan?

Apa yang kita sembah sesungguhnya menunjukkan prioritas hidup kita. Yang sangat disayangkan adalah, jika Tuhan bukan yang menjadi prioritas dalam hidup kita, kita akan selalu merasa ada yang kurang dalam kehidupan. Seberapapun uang yang dicari tidak akan memuaskan, berapa banyak orang yang tamak akan uang dan jatuh dalam korupsi dan penggelapan uang? Berapapun banyak kasih sayang yang didapat tidak pernah menjadi cukup. Lihat berapa banyak orang melakukan perselingkuhan untuk mencari kasih dari orang lain? Namun ketika Tuhan menjadi prioritas, Tuhan adalah cukup bagi kita.

Pada Matius 5:6, Yesus berkata: 'Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.' Lalu dalam Yohanes 6:35, 'Kata Yesus kepada mereka: ”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. ' Firman Tuhan menyatakan bahwa Ia adalah solusi untuk segala sesuatu yang kita hadapi di dunia ini. Dari satu hal ini saja, menurut saya Tuhan layak menerima segala puji dan sembah kita.

Di masa modern ini, tentu bentuk persembahan sudah banyak berubah, tapi dengan esensi yang sama. Kalau kita bisa memberikan energi, waktu, harta benda, sumber daya, dan pikiran kita untuk mengejar sesuatu dan memuaskan keinginan pribadi kita, seharusnya hal yang sama bisa kita persembahkan kepada Tuhan yang telah menjadi prioritas tertinggi dalam hidup kita, bukan?

Rasul Paulus dalam Roma 12:1 berkata, 'Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.' -- dalam terjemahan NSRV: 'I appeal to you therefore, brothers and sisters, by the mercies of God, to present your bodies as a living sacrifice, holy and acceptable to God, which is your spiritual worship.'

Ketika kita bicara mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, tentu bukan berarti kita secara harfiah menggunakan tubuh sebagai korban bakaran seperti yang dilakukan pada jaman dahulu kala. Saya mencoba memaknai kata "mempersembahkan hidup" dengan refleksi pada Firman Tuhan lainnya, dalam Matius 22:37, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." dan dalam Kolose 3:23, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Sekarang, tantangannya adalah bagaimana kita memaknai kata "segenap jiwa, segenap hati, segenap akal budi" serta "apapun yang kamu perbuat"? 

Secara pribadi, untuk memudahkan saya dalam memahami hal ini, saya mencoba menggunakan analogi musik untuk memahami hal tersebut. Pernahkah anda menonton sebuah pertunjukan simfoni orkestra?

Kata "simfoni" secara harfiah berarti harmoni suara. Kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno sumphōnia atau sumphōnos yang terdiri dari kata sun yang berarti "bersama-sama" dan phōnē yang berarti "suara".

Kalau kita ibaratkan penyembahan kita kepada Tuhan seperti sedang bermusik, maka menurut saya, masing-masing aspek hidup kita itu dapat diibaratkan menjadi sebuah alat musik. Anggap saja, pelayanan kita di gereja itu menjadi gitar, doa kita dirumah seperti tepukan tangan, pekerjaan kita seperti keyboard, kesehatan jasmani kita seperti drum, dan lain sebagainya.

Dalam analogi ini, Tuhan adalah pemimpin atau konduktor dari orkestra hidup kita. Dan kita merupakan pengelola alat musik sekaligus pemain musiknya. Tujuan pertunjukan orkestra ini adalah untuk menampilkan simfoni aransemen musik yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan kepada para audiens, yaitu orang-orang di sekeliling kita dan dunia. Tentu saja, Tuhan sejak awal telah menjanjikan sebuah aransemen yang luar biasa indah, namun Tuhan tetap memberikan kita kehendak bebas, untuk menentukan alat musik yang ingin kita tampilkan dalam pertunjukan ini.

Seberapa lengkap alat musik yang kita sediakan bagi Tuhan adalah tanda seberapa besar kita mengasihi Tuhan. Nah, layaknya ketika kita ingin menunjukkan rasa sayang dan cinta kita kepada pasangan, tentu kita berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik, unik, spesial, paling lengkap yang bisa kita berikan, bukan? Kita tentu menghindari pemberian-pemberian yang generik, sederhana, dan yang biasa-biasa saja, yang dapat ditemukan dimana saja.

Tentu kita bisa saja mempersembahkan satu alat musik saja, dan Tuhan tetap bisa membuat sebuah pertunjukan yang baik. Namun semakin banyak alat musik yang kita sediakan bagi Tuhan, maka semakin indah potensi harmonisasi musik yang bisa diciptakan dan dipertunjukkan kepada dunia. Dipadukan dengan ketaatan kita kepada konduktor pertunjukan, yaitu Tuhan, kita mampu mempertunjukkan sebuah simfoni yang luar biasa baiknya. Inilah yang saya maknai sebagai "segenap jiwa, segenap hati, segenap akal budi" serta "apapun yang kamu perbuat."

Sayangnya manusia cenderung enggan memberikan hidupnya secara utuh bagi Tuhan. Manusia seringkali "memilih" mana yang mereka berikan, mana yang mereka simpan sendiri. Atau bisa saja manusia "terlihat" memberikan alat musiknya, namun tetap memainkan alat musik tersebut sesuka hati mereka. Salah satu contoh yang ekstrim yang sering terjadi, bahwa kualitas rohani yang dipertunjukkan seseorang hanya diukur dengan "aktivitas" di gereja saja. Sadarkah kita bahwa Yudas iskariot setiap hari juga menghabiskan waktunya dengan Yesus, tapi kemungkinan besar ia tidak mengijinkan Tuhan untuk benar-benar mempimpin hidup, hati, dan pikirannya.

Mari kita refleksikan kembali hidup kita, dan belajar untuk benar-benar membuka hidup kita secara menyeluruh, benar-benar menjadikan Tuhan sebagai juruselamat dan raja, memimpin hidup kita agar kita dapat menyatu dengan kehendak Tuhan, mempertunjukkan betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus bagi dunia. Ketika kita hidup menyatu secara utuh dengan Tuhan, kita sedang menjalankan Firman-Nya, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu." (Yohanes 15:4)

Tuhan memberkati. (CBA)

Comments