Setengah tahun sudah berlalu di 2024 ini. Banyak hal yang sudah terjadi, sebagian kita mungkin menghadapi ujian, ada yang sedang menjaring berkat, ada pula yang sedang berada diantara dua pilihan dalam hidup. Apa refleksi kita dari semua yang sudah terjadi pada semester pertama tahun 2024 ini?
Apa yang menjadi refleksi kita, umumnya adalah gambaran dari apa yang penting bagi diri kita. Refleksi kita juga menunjukkan pola pikir kita, apakah kita memiliki outward mindset atau inward mindset. Outward mindset adalah ketika kita sangat menyadari tujuan kelompok dimana kita berada dan bagaimana tindakan kita akan mempengaruhinya. Inward mindset adalah ketika kita sangat fokus pada tujuan pribadi kita dan tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di sekeliling kita. Orang yang berpikir secara inward tentu akan memaksimalkan keuntungan dan kepentingan pribadinya, sedangkan orang yang sudah berpikir dalam kerangka outward akan berusaha mencari kontribusi untuk kepentingan kolektif yang lebih besar.
Lalu, apa perspektif kita sebagai pengikut Kristus mengenai hal ini? Saya mempelajari bahwa, prinsip hidup pengikut Kristus sesungguhnya sangat outward mindset. Dalam Alkitab, kitab Matius 22:37-38 mencatat perkataan Yesus: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Dalam berbagai ajaran kehidupan di Alkitab, semuanya mendorong kita untuk mempertimbangkan "greater goods" atau kebaikan bersama. Rasul Paulus mengajarkan dalam 1 Korintus 12:12, "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." Keseluruhan perikop antara ayat 12-31 mengajarkan bagaimana kita sebagai anggota yang berbeda dalam tubuh Kristus yaitu jemaat untuk saling menghargai, saling berkontribusi, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
Kisah jemaat mula-mula juga memperlihatkan teladan yang serupa, beberapa ayat pada Kisah Para Rasul 2 menggambarkan pengalaman berikut: Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ayat 42), Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (ayat 44-45), dan Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (ayat 46-47). Para jemaat mula-mula melakukan hampir segala hal secara kolektif, bergerak secara korporat, harmonis, dan mencapai hal-hal yang luar biasa. Bukankah persatuan itu adalah sesuatu mampu membuka berbagai pintu dan kesempatan? Dalam Kejadian 11:6, Tuhan Allah sempat berfirman ketika melihat kesatuan manusia dalam membangun menara babel, "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana."
Dari apa yang saya renungkan, Tuhan menghendaki persatuan dan membenci perpecahan. Tentu, konteks persatuan ini adalah apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, atau apa yang telah mendapat perkenanan Tuhan untuk disatukan (Matius 19:6). Jika persatuan yang diadakan adalah untuk permufakatan jahat, tentu tidak ada perkenanan Tuhan diatasnya. Di sisi lain, persatuan adalah hal yang tidak mungkin terjadi bila kita seorang diri saja, bukan? Konteks Firman Tuhan Allah bahwa tidak baik manusia itu seorang diri saja (Kejadian 2:18), tidak hanya terbatas pada hubungan laki-laki dengan perempuan, tapi hubungan manusia pada umumnya. Bahkan, dalam Yohanes 11:52, Kayafas, imam besar yang mengadili Kristus sendiri bernubuat bahwa, kematian Kristus adalah untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.
Perenungan saya kali ini cukup straightforward, dimana saya diingatkan untuk belajar dan terus mendorong perubahan pemikiran saya yang inward menjadi outward, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Pemikiran yang berfokus pada diri sendiri seperti kanak-kanak, secara perlahan harus menjadi lebih dewasa, dimana kita didorong untuk menggembalakan domba-domba kepunyaan Tuhan (Yohanes 21:15-19) yang artinya mengubah fokus hidup kita untuk kepentingan orang lain yang Tuhan percayakan.
Tuhan memberkati. (CBA)
Comments