Skip to main content

Pekerjaan & Spiritualitas? Work-Life Balance?

Saya sebagai profesional kerja seringkali mendengar terminologi work-life balance diperbincangkan di sekeliling saya. Tema ini pun sering menjadi perhatian dan seringkali juga dibahas dalam berbagai seminar dan pelatihan. Lalu saya menjadi penasaran, apa yang Firman Tuhan ajarkan mengenai hal ini?

Mengapa hal ini menjadi menarik untuk diperbincangkan dalam konteks rohani? Ketahuilah bahwa pekerjaan/usaha memang sebuah aspek yang hampir tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dewasa. Sejak Tuhan menciptakan manusia dan menempatkannya di taman eden, Tuhan sudah mendorong manusia untuk dapat bekerja. Kejadian 2:15 mencatat demikian: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." Dalam berbagai versi terjemahan bahasa inggris, kata mengusahakan dipadankan dengan kata "cultivate" "work" dan "tend" Dalam Amsal 14:23, Salomo juga berkata, "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." Jadi, bekerja sesungguhnya adalah sesuatu yang alkitabiah. 

Pertanyaan selanjutnya, apa sih tujuan kita bekerja? Sesuatu yang dilakukan tanpa tujuan yang jelas cenderung sia-sia. Setiap orang bisa jadi memiliki alasan yang berbeda-beda untuk bekerja, namun setiap orang tentu setuju bahwa ada tujuan yang mereka ingin capai, yaitu kesuksesan. Rasanya tidak ada orang yang menolak kesuksesan dan mencari kegagalan, bukan?

Lalu mengapa dalam kumpulan orang yang percaya dengan adanya Tuhan, ada yang sukses, dan ada yang belum sukses? Padahal mungkin mereka berusaha, mereka berdoa, mereka melakukan banyak hal? Yakobus 4:2-3 menggambarkan keadaan ini dengan baik: "Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."

Jadi apa sebenarnya masalahnya? Menurut saya, seringkali kegagalan kita alami (walaupun tidak semua) karena kita tidak sejalan dengan rencana dan rancangan Tuhan untuk hidup kita. Kita bisa saja terjebak dan jadi asik dengan kemauan dan rencana pribadi kita sendiri, dan dalam rencana itu, kita mungkin memaksa Tuhan untuk menyetujui maunya kita, bukan melibatkan Tuhan sebagai Tuhan dan juruselamat untuk mengarahkan kita untuk sesuai dengan kehendak-Nya.

Saya percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang baik bagi manusia, dimana Tuhan sendiri berkata dalam Yeremia 29:11 "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Rasul Paulus dalam Roma 8:28 juga menuliskan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah"

Kembali dengan pembahasan work-life balance, saya merasa terminologi ini lebih tepat dalam konteks apakah komposisi di dalamnya memiliki keseimbangan yang tepat, antara kehidupan dari Tuhan dan usaha tangan kita (kerja) dimana masing-masing tidak berdiri sendiri namun tercampur dengan kadar yang tepat. Ini layaknya dua warna yang dicampur dengan persentase tertentu diaduk hingga tercampur dengan sempurna untuk menghasilkan warna yang diinginkan. Kalau kadarnya tidak tepat, pasti hasilnya meleset dari tujuan yang hendak dicapai.

Keluaran 31:1-6 menggambarkan, kondisi yang terbaik adalah ketika Tuhan terintegrasi dalam pekerjaan kita: "Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan. Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu." Ini adalah contoh bahwa aspek spiritualitas tidak seharusnya menghambat pekerjaan kita, namun justru membuat hasil kerja kita menjadi sesuatu yang memiliki kualitas terbaik.

Jika seseorang mampu mencampurkan kebenaran dan menghidupi Firman Tuhan dalam pekerjaannya, Mazmur 1:1-3 menggambarkan hasil akhir yang akan muncul: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."

Dari sini, saya menjadi sadar, ada makna tersembunyi dari pengajaran Tuhan Yesus pada Matius 7:24-27, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Saya belajar bahwa jika kita bekerja (membangun rumah) diatas dasar (selaras dengan) Firman Tuhan, ada sustainability dari pencapaiannya. Seperti yang saya pelajari dari Simon Sinek dalam bukunya The Infinte Game, bahwa sebenarnya marketplace lebih banyak bicara mengenai kondisi "last man standing" dimana bisnis yang sukses adalah bisnis yang masih ada dan bertahan ketika semua kompetitor lainnya tidak memiliki kekuatan lagi untuk berjalan.

Jadi, saya berkesimpulan bahwa balance yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu mencampur dengan indah, bukan justru memisahkan kedua hal ini. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yakobus 2:26) Ingat bahwa Iman bukan hanya berbicara kepercayaan kita, tapi bagaimana kita menunjukkan iman kita lewat segala perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam pekerjaan kita.

Tuhan memberkati! (CBA)

Comments