Kamu tentu pernah mendengar istilah medical check up, bukan? Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini, diharapkan gangguan kesehatan tertentu bisa terdeteksi sejak dini. Medical check up juga bisa dimanfaatkan oleh para penyedia layanan kesehatan untuk merencanakan dan menerapkan metode pengobatan yang tepat sesuai kondisi pasien.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah melakukan pemeriksaan kesehatan ini. Hasilnya? Ada salah satu indikator yang kurang baik hasilnya, dan cukup urgent untuk ditindaklanjuti. Mengapa demikian? Karena lewat pemeriksaan itu, kita sadar ada hal-hal yang jika kita abaikan akan berdampak fatal terhadap kehidupan kita. Tapi, sadarkah kita, bahwa yang perlu kita perhatikan bukan hanya tubuh jasmani kita saja, tapi juga rohani kita?
Rasul Paulus berkata dalam 1 Tesalonika 5, demikian: "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." artinya, bukan hanya jiwa dan tubuh yang harus dipelihara, roh kita juga merupakan aspek yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Kalau tubuh ada daftar check-up yang umum digunakan sebagai referensi, maka rasanya roh kita juga punya daftar check-up tersendiri. Saya mencoba melihat apa yang tertulis dalam Alkitab sebagai referensi yang relevan bagi roh kita.
Pertama, kita tahu kalau tubuh kita itu tidak dalam kondisi yang baik ketika kita merasa ada yang aneh, bukan? Ada vitalitas/kehidupan yang hilang. Kita yang biasa bersemangat menyantap makan siang kita menjadi tidak bernafsu makan, atau kita merasa lemas dan tidak ingin melakukan apapun. Rasul Paulus dalam Roma 8:5 berkata, "Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh." Dengan kata lain, kalau kita tidak lagi memikirkan hal-hal yang dari Roh, kemungkinan besar, roh kita sedang bermasalah.
Apa saja sih hal-hal yang dari Roh itu? Saya membayangkan hal-hal yang dari Roh tentu berhubungan erat dengan karakter dari Roh atau buah yang dihasilkan oleh Roh. Galatia 5:22-23 menyebutkan, bahwa buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Ini selaras dengan Firman Tuhan yang ada pada Roma 8:6, dimana disebutkan bahwa keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
Tentu, seperti tingkat sakit-penyakit tubuh yang berbeda-beda, masalah pada roh kita juga bisa ada pada level yang berbeda-beda. Yang sakit kepala/pusing sesekali, tentu berbeda dengan yang mengalami sakit kepala/pusing berhari-hari tanpa henti, bukan? Ada diantara kita yang hari ini damai sejahtera, besok penuh kekuatiran? Ada juga yang selalu dalam kondisi penuh kekuatiran dalam hidup. Ada yang sebentar lemahlembut, sebentar kasar. Ada pula yang selalu kasar dalam perbuatannya.
Orang yang sehat rohaninya, pasti secara konsisten hidup menurut apa yang dikehendaki Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak pernah berdosa lagi. Sebagai manusia yang terbatas, ada waktunya kita jatuh, tapi Firman Tuhan dalam Amsal 24:16 berkata, tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Hidup dalam Tuhan, sesungguhnya tidak serumit itu, kok. Roma 8:5-8 dalam terjemahan The Message menggambarkan dengan sederhana perbedaan orang yang hidup menurut roh dan tidak: Those who think they can do it on their own end up obsessed with measuring their own moral muscle but never get around to exercising it in real life. Those who trust God’s action in them find that God’s Spirit is in them—living and breathing God! Obsession with self in these matters is a dead end; attention to God leads us out into the open, into a spacious, free life. Focusing on the self is the opposite of focusing on God. Anyone completely absorbed in self ignores God, ends up thinking more about self than God. That person ignores who God is and what He is doing. And God isn’t pleased at being ignored.
Kedua, dalam tubuh yang sehat, pasti ada pertumbuhan. Anak bertumbuh menjadi remaja dan dewasa. Orang dewasa pun melihat terjadinya pertumbuhan baik secara kedewasaan mental maupun fisik (rambut, kuku, dll.) Kalau ada pertumbuhan yang terhambat/tidak terjadi, ini merupakan tanda ada yang salah dalam tubuh kita. Hukum yang sama juga berlaku dalam roh kita. Bagaimana melihat apakah roh kita bertumbuh dengan baik/tidak? Pada Matius 12:33 dalam terjemahan The Message tertulis demikian, “If you grow a healthy tree, you’ll pick healthy fruit. If you grow a diseased tree, you’ll pick worm-eaten fruit. The fruit tells you about the tree." Jika kita sudah ada di tempat dimana seharusnya pertumbuhan terjadi, namun tidak ada pertumbuhan terjadi, kita perlu meninjau lebih lanjut apa yang terjadi. Dalam Efesus 4:13-16 dikatakan bahwa Tuhan sudah mempersiapkan segala sesuatu bagi kita, supaya kita diperlengkapi "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."
Perlu dicermati bahwa bertumbuh adalah kata kerja, yang artinya tidak diam saja, tidak pasif, dan tidak berada business as usual selama bertahun-tahun. Bertumbuh dalam Kristus artinya menjadi lebih baik, lebih berfungsi, lebih dewasa dan mengerti apa peran serta yang seharusnya dijalankan di segala area kehidupan. Kita mau anak kita bertumbuh secara mental dan fisik bersamaan, bukan hanya salah satu saja, kan?
Ketiga, saya belajar bahwa pada manusia yang sehat, selalu ada pembaharuan. Darah kita terus diperbaharui dengan darah yang baru, nafas kita diperbaharui dengan oksigen yang baru, pengetahuan kita diperbaharui dengan informasi terbaru, kulit kita yang mati diperbaharui dengan kulit yang baru, dan sebagainya. Orang yang hidup dalam Kristus, rohnya juga terus mengalami pembaharuan. Dalam Roma 12:2 dikatakan bahwa, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam versi amplified bible, digunakan kalimat be transformed and progressively changed [as you mature spiritually] by the renewing of your mind [focusing on godly values and ethical attitudes].
Hasil check-up kita akan memberikan indikator baik apabila, pola pikir kita sudah selaras dengan kehendak Tuhan, tidak hanya dalam hal-hal agamawi saja, tapi terlebih dalam kehidupan sehari-hari, bagiamana kita bekerja, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita mengasihi, dan bagaimana kita akhirnya menyatakan Kristus yang ada dalam diri kita dalam hidup orang lain lewat berbagai pelayanan yang dapat kita lakukan. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan dalam Matius 5:14-16 bahwa Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Pembaharuan hidup kita merupakan showcase terbaik yang bisa kita perlihatkan pada dunia, betapa Tuhan kita itu hidup, berkuasa, dan mengasihi seluruh dunia. Sayangnya, ada kalanya kita malu mempertunjukkan pembaharuan itu, atau bahkan menghindari terjadinya pembaharuan itu. Agar gigi susu bisa diperbaharui dengan gigi yang baru, prosesnya tidak nyaman. Kulit yang buruk rupa karena terbakar harus melewati proses yang mungkin tidak nyaman agar kulit baru yang lebih cantik bisa tumbuh. Donor darah supaya tubuh kita lebih sering memproduksi darah yang baru juga bukan merupakan tindakan yang menyenangkan bagi sebagian diantara kita. Memang, pembaharuan yang dikehendaki Tuhan seringkali membuat kita berada dalam posisi yang melawan dunia, bahkan Tuhan Yesus berkata kalau Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Siapa yang mau dalam posisi dibenci semua orang? Terasa tidak menyenangkan, bukan? Tetapi Kristus berjanji bahwa orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat. (Markus 13:13)
Nah, jika check-up sudah dilakukan, dan ada hal-hal yang perlu diperbaiki, tentu ada tindakan yang perlu dilakukan sebagai treatment supaya kondisi kita membaik, atau minimal ada konsistensi yang perlu dipertahankan atau supplement yang perlu dikonsumsi agar kondisi yang baik itu bisa dipertahankan terus. Seringkali, dokter meresepkan berbagai obat dan vitamin yang perlu kita konsumsi. Puji Tuhan, Allah juga sudah memberikan obat mujarab yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kesehatan rohani kita selama transit perjalanan kita di bumi ini.
Pertama, untuk memastikan rohani kita sehat dan bertumbuh, kita tentu perlu memperhatikan konsumsi nutrisi rohani kita. Dalam Ulangan 8:3 Firman Tuhan mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan. Maka, kita perlu memperhatikan apakah kita secara rutin mengonsumsi Firman Tuhan? Secara harfiah, mengonsumsi berarti mencerna dan menyerap apa yang kita makan, menjadikannya nutrisi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tubuh kita. Menurut saya, Firman Tuhan, apalagi teladan-teladan yang diajarkan dan diperlihatkan oleh Yesus, adalah sangat penting untuk diperhatikan dan dipraktekkan secara rutin layaknya kita mengonsumsi makanan harian kita. Yesus berkata kepada orang banyak dalam Yohanes 6:35, ”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi."
Kedua, agar pertumbuhan dan pembaharuan terjadi dengan benar, maka kita harus belajar dari sumber yang benar juga. Kristus dalam Yohanes 5:5 berkata, Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika kita terus terhubung dengan Kristus sebagai sumber, Tuhan berjanji pada Yohanes 5:7, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Tapi ada caveat-nya, kalau kita tinggal di rumah orang tua kita, tentu kita ikut peraturan dan nilai yang ada disana, kan? Kalau kita tinggal di suatu daerah, namun kita melanggar aturan dan perundang-undangan yang ada, tentu kita bisa dikeluarkan dari daerah tersebut. Jadi, tidak mungkin kita mengaku bahwa kita tinggal di dalam Tuhan, tapi hidup sesuka kita. Tinggal di dalam Tuhan berarti mengikuti juga apa yang menjadi kehendak-Nya, taat kepada peraturan-Nya, dan mengakui Tuhan sebagai yang berkuasa.
Yah, tentu bagi sebagian diantara kita yang baru mulai tinggal di dalam Dia, tentu masih suka bertanya-tanya, mana yang boleh, mana yang tidak boleh, mana yang dikenan Tuhan, mana yang tidak dikenan oleh-Nya. Untungnya, segala sesuatunya ini tidak pernah jauh-jauh dari Firman Tuhan juga, kok. Hal ini tertuang dalam ayat Firman Tuhan pada 2 Timotius 3:16, Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Seperti pengalaman saya menanggapi hasil medical check-up saya yang lalu, perbaikan hanya akan terjadi kalau kita membuat keputusan lalu melaksanakan keputusan tersebut. Seringkali kita punya keinginan yang kuat, namun tidak menggunakan level kekuatan yang sama untuk melaksanakannya. Namun, biasanya rasa takut akan kematian atau sakit penyakit bisa menjadi dorongan yang kuat untuk memaksa kita bertindak/bergerak. Pertanyaannya, seberapa besar rasa takut kita akan Tuhan mendorong kita untuk taat dan hormat kepada Tuhan? Dalam Amsal 1:7 ada tertulis, Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
Tuhan memberkati. (CBA)
Comments