Umumnya, ketika dalam usia produktif, maka sebagian besar waktu yang kita miliki, kita investasikan dalam pekerjaan kita. Semua dengan tujuan supaya kita bisa berhasil, tiba di puncak kesuksesan, dan menikmati jerih payah kita dikemudian hari. Yah, manusia mungkin punya definisi kesuksesan masing-masing, punya standar sendiri terkait apa yang hendak dicapai/dimiliki pada titik tertentu. Tapi ada waktunya saya merasa penasaran, how should those who knows and follows God walk the path of successfulness?
Saya tertarik menggali hal ini dari perspektif Raja Salomo, yang konon merupakan raja paling sukses di bangsa Israel. Tuhan Allah sendiri berfirman kepada Raja Salomo: "...Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja." (1 Raja-Raja 3:12-13)
Lalu, seberapa sukses Raja Salomo setelah Allah berfirman? Dalam 1 Raja-Raja 4:21 dikatakan bahwa Salomo berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir. Mereka menyampaikan upeti dan tetap takluk kepada Salomo seumur hidupnya. Pada ayat 24 dikatakan bahwa ia dikaruniai damai di seluruh negerinya, sehingga orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, dari Dan sampai Bersyeba seumur hidup Salomo. Tidak cuma sukses, Salomo bahkan amat sangat terkenal karena hikmat yang dimilikinya, seperti yang tertulis dalam 1 Raja-Raja 4:29-34, Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya. Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima. Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan. Maka datanglah orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu. Bahkan Raja Salomo, pun berkata dalam Pengkhotbah 2:9-10 / Ecclesiastes 2:9-10 (Good News Translation), Yes, I was great, greater than anyone else who had ever lived in Jerusalem, and my wisdom never failed me. Anything I wanted, I got. I did not deny myself any pleasure. I was proud of everything I had worked for, and all this was my reward.
Begitu suksesnya Raja Salomo, tentu menarik melihat apa yang kita bisa pelajari dari pemikirannya, bukan? Setelah diperdalami, memang benar bahwa dalam hikmatnya, Raja Salomo memberikan sebuah perspektif yang unik dan berbeda. Raja Salomo berkata demikian dalam Pengkhotbah 1:2-7, Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.
Dalam terjemahan The Message, ayat yang sama berkata, Smoke, nothing but smoke. [That’s what the Quester says.] There’s nothing to anything—it’s all smoke. What’s there to show for a lifetime of work, a lifetime of working your fingers to the bone? One generation goes its way, the next one arrives, but nothing changes—it’s business as usual for old planet earth. The sun comes up and the sun goes down, then does it again, and again—the same old round. The wind blows south, the wind blows north. Around and around and around it blows, blowing this way, then that—the whirling, erratic wind. All the rivers flow into the sea, but the sea never fills up. The rivers keep flowing to the same old place, and then start all over and do it again.
Smoke atau asap adalah lambang kesia-siaan. Nilainya sangat rendah, cenderung hampir 0. Siapa yang mau membeli asap? Lebih lanjut, Raja Salomo berkata pada Pengkhotbah 1:14 (Amplified Bible), I have seen all the works which have been done under the sun, and behold, all is vanity, a futile grasping and chasing after the wind. What is crooked cannot be straightened and what is defective and lacking cannot be counted. Bahkan dalam kebijaksanaannya, dia berkata, Much learning earns you much trouble. The more you know, the more you hurt. (Pengkhotbah 1:18 - The Message)
Tentu Raja Salomo tidak mendorong kita untuk menjadi apatis dan tidak perduli dengan segala sesuatu, sebab ia sendiri berkata, "Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan. Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan," (Pengkhotbah 2:13-14a) Dalam kesempatan lain (Pengkhotbah 4:13-14 Good News Translation), Raja Salomo juga berkata, "Someone may rise from poverty to become king of his country, or go from prison to the throne, but if in his old age he is too foolish to take advice, he is not as well off as a young man who is poor but intelligent." walaupun ia mengakhiri kalimat sebelumnya dengan: "tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua." (Pengkhotbah 2:14b)
Menyelami buah tulisan Raja Salomo, saya perlahan mencoba mengerti apa yang menjadi dasar pemikirannya tersebut, dalam Pengkhotbah 2:17-19, Raja Salomo berkata, "Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia." Bahkan,secara khusus ia berkata bahwa manusia sejatinya tidak lebih baik dari hewan: "Humans and animals come to the same end—humans die, animals die. We all breathe the same air. So there’s really no advantage in being human. None. Everything’s smoke. We all end up in the same place—we all came from dust, we all end up as dust. Nobody knows for sure that the human spirit rises to heaven or that the animal spirit sinks into the earth." (Pengkhotbah 3:19-22 he Message)
Namun, begitu luar biasanya hikmat yang Tuhan Allah berikan kepada Salomo, justru dari kekecewaannya, dia mengerti apa yang sesungguhnya menjadi esensi dalam hidup manusia. Beberapa hal yang saya pelajari dari Raja Salomo:
- Pertama, bahwa Tuhan Allah berkuasa secara penuh. Raja Salomo berkata, "I’ve also concluded that whatever God does, that’s the way it’s going to be, always. No addition, no subtraction. God’s done it and that’s it. That’s so we’ll quit asking questions and simply worship in holy fear. Whatever was, is. Whatever will be, is. That’s how it always is with God." (Pengkhotbah 3:14-15). Walaupun hal ini terkesan membuat kita merasa tidak mampu berbuat apa-apa dalam hidup, dalam perspektif lain, ini justru adalah sebuah janji yang perlu kita pegang, seperti tertulis dalam Firman Tuhan di kitab Yeremia 29, bahwa Tuhan memiliki rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita yang setia dan taat sebuah hari depan yang penuh harapan. Kuasa Tuhan juga mengingatkan kita untuk tidak hidup seenaknya dalam hidup kita, dan menghormati Tuhan dengan benar. Raja Salomo berkata, No matter how much you dream, how much useless work you do, or how much you talk, you must still stand in awe of God. (Pengkhotbah 5:7 Good News Translation) Sepintar-pintarnya kita merencanakan hidup kita, who can tell any of us the next chapter of our lives? (Pengkhotbah 6:12 The Message)
- Kedua, bahwa bersukacita dalam apapun yang kita kerjakan adalah baik. Raja Salomo berkata, "I’ve decided that there’s nothing better to do than go ahead and have a good time and get the most we can out of life. That’s it—eat, drink, and make the most of your job. It’s God’s gift." (Pengkhotbah 3:12-13 - The Message) Banyak dari kita (yang terkadang juga saya lakukan) yang menggerutu dengan pekerjaan kita, atau bahkan bekerja begitu keras demi mendapatkan harta yang tidak terhingga banyaknya hingga mengorbankan aspek-aspek lain yang juga penting dalam hidup ini. Tentang ini, ia berkata, "I turned my head and saw yet another wisp of smoke on its way to nothingness: a solitary person, completely alone—no children, no family, no friends—yet working obsessively late into the night, compulsively greedy for more and more, never bothering to ask, “Why am I working like a dog, never having any fun? And who cares?” More smoke. A bad business." (Pengkhotbah 4:7-8 The Message) Jauh lebih penting menurut Raja Salomo untuk menjaga sukacita kita dalam pekerjaan, sebagai cara hidup terbaik "After looking at the way things are on this earth, here’s what I’ve decided is the best way to live: Take care of yourself, have a good time, and make the most of whatever job you have for as long as God gives you life. And that’s about it. That’s the human lot. Yes, we should make the most of what God gives, both the bounty and the capacity to enjoy it, accepting what’s given and delighting in the work. It’s God’s gift! God deals out joy in the present, the now. It’s useless to brood over how long we might live. (Pengkhotbah 5:18-20 The Message)
- Ketiga, fokus akan apa yang sesungguhnya bermakna dibandingkan mengejar harta, pengakuan, maupun dukungan dari orang lain semata. Ingat akan perkataan Raja Salomo tentang anak muda yang bijak dan raja yang bodoh? Dalam terjemahan lain, dikatakan, "A poor child with some wisdom is better off than an old but foolish king who doesn’t know which end is up. I saw a youth just like this start with nothing and go from rags to riches, and I saw everyone rally to the rule of this young successor to the king. Even so, the excitement died quickly, the throngs of people soon lost interest. Can’t you see it’s only smoke? And spitting into the wind?" (Pengkhotbah 4:13-16 The Message) Semuanya sia-sia menurut Raja Salomo, hal ini mengingatkan saya bahwa terkadang kita bisa menjadi terlalu fokus mengejar bentuk kesuksesan yang kita inginkan, yang seringkali diukur berdasarkan besar kecilnya harta, namun masih terus memiliki tidak merasa puas akan apa yang kita capai/miliki, sebab "Segala jerih payah manusia adalah untuk mulutnya, namun keinginannya tidak terpuaskan." (Pengkhotbah 6:7) Tentu, Tuhan adalah yang terutama, namun lebih dari itu, Raja Salomo juga mendorong kita untuk menjalankan hidup kita dengan baik, A good reputation is better than a fat bank account. Your death date tells more than your birth date. (Pengkhotbah 7:1 The Message) dan A person who fears God deals responsibly with all of reality, not just a piece of it. (Pengkhotbah 7:18b The Message) Hidup tidak selalu mengenai kemenangan dan kesuksesan semata, seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 7:11-12 (Good News Translation) "...in this world fast runners do not always win the races, and the brave do not always win the battles. The wise do not always earn a living, intelligent people do not always get rich, and capable people do not always rise to high positions. Bad luck happens to everyone. You never know when your time is coming. Like birds suddenly caught in a trap, like fish caught in a net, we are trapped at some evil moment when we least expect it."
Memang pada akhirnya, kita semua sadar bahwa menjalankan hidup bukanlah perkara yang mudah, tapi menurut saya apa yang dikatakan Raja Salomo dalam Pengkhotbah 7:14 (The Message) patut untuk kita renungkan:
On a good day, enjoy yourself;
On a bad day, examine your conscience.
God arranges for both kinds of days
So that we won’t take anything for granted.
Ijinkan saya menutup sharing ini dengan kutipan dari Pengkhotbah 9:7-10 (The Message):
Seize life! Eat bread with gusto,
Drink wine with a robust heart.
Oh yes—God takes pleasure in your pleasure!
Dress festively every morning.
Don’t skimp on colors and scarves.
Relish life with the spouse you love
Each and every day of your precarious life.
Each day is God’s gift. It’s all you get in exchange
For the hard work of staying alive.
Make the most of each one!
Whatever turns up, grab it and do it. And heartily!
This is your last and only chance at it,
For there’s neither work to do nor thoughts to think
In the company of the dead, where you’re most certainly headed.
Tuhan memberkati! (CBA)
Comments