Dibalik kisah ini, saya menemukan tiga hal yang bisa kita renungkan dan pelajari bersama, terutama mengenai harapan dan ekspektasi kita kepada Tuhan.
Para orang majus ini, tidak hanya terpelajar, saya berpikir mereka memiliki status yang cukup tinggi, bayangkan bahwa mereka bisa bertemu secara langsung dengan raja Herodes dan bertanya secara langsung pada raja. Bahkan menurut saya, mereka hadir ditengah-tengah para orang-orang penting dalam kerajaan, sebab dikatakan dalam Matius 2:3 seperti ini: "Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem." Menurut saya, kata seluruh Yerusalem ini tidak benar-benar merujuk kepada seluruh rakyat Yerusalem, namun merujuk pada orang-orang yang mampu merepresentasikan Yerusalem.
Bayangkan, dengan status dan situasi mereka, mereka secara pribadi datang mencari seorang raja berdasarkan sebuah nubuatan dan petunjuk bintang. Dalam terjemahan The Message (Matius 2:2), mereka berkata bahwa: "We’re on pilgrimage to worship him." Kata pilgrimage, dapat diterjemahkan sebagai: A journey to a sacred place, especially as an act of religious devotion. Bahkan Wikipedia menerjemahkannya sebagai: A pilgrimage is a journey, often into an unknown or foreign place, where a person goes in search of new or expanded meaning about their self, others, nature, or a higher good through the experience.
Keyakinan saya bahwa mereka sedang melakukan perjalanan mencari Tuhan dikuatkan dengan ayat Alkitab dalam berbagai terjemahan, dimana untuk menjawab pertanyaan para orang majus, Raja Herodes segera mengumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. (Matius 2:4)
Alkitab tidak menjelaskan dengan jelas lokasi dimana para orang-orang majus ini memulai perjalanannya, beberapa orang berasumsi bahwa para orang majus ini datang dari arah persia atau babilonia. Namun, saya menarik kesimpulan bahwa mereka tentu berasal dari tempat yang cukup jauh dan menghabiskan waktu setidaknya berhari-hari hingga berbulan-bulan dalam perjalanan mereka, mengingat ketika raja Herodes sadar bahwa para orang majus tersebut telah memperdayanya, tidak disebutkan ada hal negatif apapun yang terjadi kepada mereka (Matius 2:16). Dan kita bisa menarik kesimpulan bahwa mereka telah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pemikiran dalam sebuah perjalanan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Kedua, para orang majus datang dengan ekspektasi dan mindset yang benar. Pada awalnya, mereka datang ke Raja Herodes, mungkin berpikir bahwa Mesias lahir dari keluarga kerajaan. Namun, mereka kemudian harus pergi ke kota Betlehem, sebuah kota kecil di wilayah Yehuda. Di dalam perjalanannya, mereka menjaga hati mereka, dikatakan dalam Matius 2:10, Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. atau dalam terjemahan GNT, When they saw it, how happy they were, what joy was theirs!
Kadang kita sebagai manusia, punya ekspektasi terhadap Tuhan, kita bisa terjebak dengan keinginan kita, bahwa Tuhan harus melakukan sesuatu sesuai harapan, rencana, dan keinginan kita. Kalau itu tidak terpenuhi, sebagian dari kita menjadi kecewa, dan menjauh dari Tuhan. Lihat apa yang dilakukan para orang majus dalam Matius 2:11, Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Teladan yang saya dapat dari mereka adalah, bukan apa yang kita bisa dapat dari Tuhan, tapi apa yang kita persiapkan untuk dapat kita berikan kepada Tuhan.
Mereka tidak perlu melihat tempat yang megah. Ingat bahwa Yusuf dan Maria datang ke Betlehem hanya untuk mendaftarkan diri dalam sensus yang dilakukan oleh pemerintah romawi. Mereka bahkan tidak mendapatkan tempat dalam penginapan, dan Maria harus melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan sederhana (Lukas 2:1-7). Sikap mereka dalam memberi, adalah sikap memberi yang patut diteladani. Ketika dunia menunjukkan perilaku memberi harus dengan perhitungan untung/rugi, menghitung dahulu apa yang bisa mereka dapatkan dari pemberian mereka layaknya sebuah investasi, para orang majus yang terhormat dan terpelajar ini tanpa banyak pikir sujud menyembah, dan mempersembahkan apa yang sudah mereka persiapkan dengan baik sebelumnya (Kemenyan dan Mur bukan komoditas umum yang mudah didapatkan di wilayah itu, pada masa itu).
Ketiga, kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa penyembahan memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada persembahan berupa harta. Sikap hati serupa juga dapat kita temukan dalam teladan Daud dengan mazmurnya. Jauh sebelum Daud menjadi raja dengan kekayaan yang melimpah-limpah, Tuhan sangat menyukai sikap hati Daud yang ditunjukkan lewat mazmur penyembahannya. Ingat kisah dimana Tuhan Allah tidak mengindahkan persembahan Kain? Dalam Kejadian 4:6-7 terjemahan Amplified Bible, dicatat bahwa Tuhan berkata: And the Lord said to Cain, “Why are you so angry? And why do you look annoyed? If you do well [believing Me and doing what is acceptable and pleasing to Me], will you not be accepted? Jadi masalahnya bukan pada apa yang diberikan, tapi sikap hati kita ketika memberikan persembahan, apakah persembahan itu dibawa dengan sikap penyembahan yang benar? Memberi tanpa mengasihi adalah perbuatan yang sia-sia, tapi menurut pengalaman saya, kasih yang tulus selalu diikuti dengan pemberian yang baik. Ini selaras dengan apa yang dicatat dalam Markus 12:30, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Hal-hal ini tidak mudah untuk masuk dalam hati kita dan dilakukan secara nyata, sebab hal-hal ini bertentangan dengan apa yang seringkali dipraktekkan di dunia. Kita seringkali bersikap selektif dengan apa yang dituliskan dalam Firman Tuhan, apa yang mudah dan tidak menganggu keseharian kita, akan kita lakukan, apa yang menyusahkan dan tidak mudah dilakukan cenderung akan dihindari dengan berbagai alasan dan rasional yang dibuat oleh pemikiran manusia. Saya ingat dengan apa yang disampaikan Rasul Paulus dalam surat Roma 12:2, dimana ia berkata, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Semoga hari demi hari kita diubahkan menjadi semakin serupa dengan Kristus, semakin dekat dengan Bapa di Sorga. May you have a blessed day! (CBA)
Comments