Ketika berbicara mengenai relasi manusia, salah satu topik yang paling sering diperbincangkan di dunia adalah tentang kerjasama (teamwork). Dan ketika membahas mengenai hal ini, ada satu perikop yang menarik untuk kita bahas bersama, dari kumpulan kebijaksanaan raja Salomo.
Saya belajar, dari perkataan raja Salomo bahwa hidup seorang diri itu adalah kesia-siaan dan merupakan hal yang menyusahkan semata. A bad business, disebutkan dalam terjemahan The Message.
Sebagai seorang introvert, tidak mudah bagi saya mencerna Firman ini. Pasalnya, meskipun kita sesungguhnya berbicara banyak mengenai berbagai keuntungan kerjasama, semua itu baru bisa terjadi ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang yang mau kita ajak bekerjasama bukan? Saya mengerti bahwa kerjasama yang baik tidak mungkin dapat secara konsisten terjadi tanpa adanya rasa percaya antara satu sama lainnya. Dan esensi sebuah kerjasama adalah kegiatan saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lainnya.
Ingat kisah yang diceritakan dalam kitab Markus mengenai empat orang yang Menggotong si lumpuh datang kepada Kristus?
Kisah ini menggambarkan pentingnya rasa percaya antar pihak dalam bekerjasama. Jika tidak ada rasa percaya yang kuat diantara mereka, mungkin salah satu dari empat orang itu tidak mau membongkar atap rumah orang lain. Saya percaya bahwa kegiatan yang berpotensi merusak properti atau barang milik orang lain bisa mendatangkan hukuman bagi pelakunya. Kalau hal itu terjadi saat ini, mungkin mereka bisa dipenjara, atau setidak-tidaknya disuruh mengganti/memperbaiki atap rumah itu (yang tentu saja bukan pekerjaan yang mudah). Kalau si lumpuh tidak percaya dengan rekan-rekannya, mana mungkin ia mau dinaikkan ke atas atap rumah, dan diturunkan begitu saja? Bayangkan betapa beresikonya proses itu. Lima orang itu memiliki tujuan yang sama, namun tanpa rasa percaya, bukan kerjasama yang ada, namun keributan karena masing-masing bisa saja memiliki ego dan caranya masing-masing untuk mencapai tujuan tersebut.
Relasi-relasi ini dapat saya bayangkan sebagai kumpulan roda gigi, yang saling komplementer untuk berputar bersama-sama. Dalam kumpulan roda gigi itu, ada yang besar, ada yang kecil, namun dengan harmonis bekerja untuk tujuan yang sama (menggerakkan sesuatu). Hal ini terdengar indah, namun tidak mudah. Ingatkah tentang apa yang dituliskan dalam Amsal 27:17, Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Ketika dua atau lebih individu berinteraksi dalam kedekatan tertentu (secara emosional), akan ada "panas" yang muncul dari gesekan-gesekan yang terjadi selama interaksi itu dilakukan. Kita bukan Kristus yang memiliki "permukaan" yang mulus dan tidak bercacat cela. Kita memiliki "permukaan" yang terbentuk dari kelebihan dan kekurangan kita masing-masing, dan tidak ada satupun roda gigi yang sama persis, kan?
Interaksi-interaksi ini, jika tidak dikelola dengan baik, bukan hanya tidak produktif, namun bisa menjadi destruktif dalam relasi. Sayangnya, tidak ada pengaturan dan rumus yang tepat untuk mengelola interaksi ini. Namun, jika kita belajar dari apa yang ada di sekeliling kita, dalam sebuah mesin (baik motor maupun mobil), roda-roda penggerak itu dikelola dengan baik dengan sebuah substansi yang bernama minyak pelumas. Minyak ini memiliki fungsi utama yaitu untuk mengurangi atau mengontrol gesekan antara dua permukaan logam yang saling menempel. Berkat adanya pelumas, maka pergerakan logam akan semakin lancar.
Tahukah kamu? Dalam kehidupan kita, Tuhan juga sudah menyiapkan "minyak pelumas" agar kita bisa berinteraksi dengan baik satu sama lain. Minyak pelumas itu adalah kasih. Dalam Matius 22:37-38 tertulis: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." dan "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Hukum kasih yang pertama memastikan bahwa kita terkoneksi dengan sumber yang abadi. Kalaupun kita mampu menjalankan hukum kedua tanpa menjalankan hukum pertama (banyak orang yang diberkati dengan panjang sabar di luar sana), dengan segala keterbatasan kita, kasih yang kita miliki akan habis pada suatu titik. Minyak pelumas pun harus secara rutin diganti jika ingin dapat berfungsi, bukan?
Jika hanya mengandalkan diri sendiri, betapa pendeknya kasih dan kesabaran kita dalam menghadapi sesama manusia yang seringkali mengecewakan. Ingat bahwa Kristus berkata dalam Yohanes 15:5, Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus juga mengajarkan kita tentang beberapa trik pelumas alkitabiah dengan kasih dalam Roma 12, antara lain: "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama," "lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!" dan "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"
Tanpa kasih, tidak mudah bagi kita untuk membangun rasa percaya yang dibutuhkan dalam sebuah kerjasama. Tanpa rasa percaya, akan mudah bagi kita untuk menjadi curiga akan motif seseorang. Kita akan lebih mudah membangun narasi-narasi negatif akan apa yang dilakukan atau diperkatakan seseorang. Kita juga jadi lebih resisten dan menolak akan gagasan dan pemikiran yang dilontarkan oleh orang tersebut. Ujung-ujungnya, kita menjadi tidak nyaman, kesal, bahkan bisa jadi memupuk benih kebencian terhadap orang tersebut. Kalau sudah begitu, kerjasama akan sangat amat sulit untuk terjadi di kemudian hari.
Kerjasama tidak hanya berlaku dalam hubungan secara umum, tapi terlebih diperlukan dalam sebuah hubungan suami-istri. Bagaimana caranya? Diajarkan dalam 1 Korintus 7:3 (BIMK), Suami harus memenuhi kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya, dan istri harus memenuhi kewajibannya sebagai istri terhadap suaminya; masing-masing memenuhi kewajibannya terhadap yang lain. Konsep "minyak pelumas" untuk meregulasi gesekan dan panas yang muncul juga diterapkan disini, pada ayat 5 dikatakan, Janganlah menjauhi satu sama lain secara suami istri. Boleh untuk sementara waktu, asal dua-duanya sama-sama sudah setuju. Dengan demikian masing-masing dapat berdoa dengan tidak terganggu. Tetapi kemudian, haruslah kalian kembali saling mendekati secara suami istri. Kalau tidak begitu, nanti kalian bisa menuruti bujukan roh jahat, karena kalian tidak kuat menahan nafsu.
Semua hal ini tidaklah mudah, namun Rasul Paulus berkata, Hendaklah masing-masing mengatur kehidupannya menurut bimbingan Tuhan seperti yang sudah ditentukan oleh Allah baginya pada waktu Allah memanggilnya untuk percaya kepada-Nya. Itulah peraturan yang saya ajarkan di tiap-tiap jemaat. (1 Korintus 7:17 BIMK) Semua jadi sulit ketika kita mengandalkan diri kita sendiri, dan menjadi semakin mudah seiring dengan mendekatnya kita kepada Tuhan, dan menggantungkan hidup kita kepada-Nya. Tuhan memberkati (CBA).
Comments