Skip to main content

Apa arti Kesuksesan dari perspektif kitab Mazmur?

Dari berbagai hal yang diinginkan oleh hati manusia, salah satu yang paling sering muncul adalah kesuksesan. Dalam gereja, kata sukses sendiri seringkali diperdebatkan. Ada yang berpendapat bahwa sukses itu harus dalam konteks rohani, ada juga yang mengeluarkan pendapatnya masing-masing terkait definisi sukses.

Lalu sebenarnya, apa definisi sukses menurut Tuhan? Daud sebagai salah satu tokoh Alkitab yang bisa dikatakan sebagai orang yang sukses, menulis dalam Mazmur 1 sebagai berikut:

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Dari Mazmur ini, saya mencoba memahami apa ciri-ciri kita bisa mengatakan bahwa kita sudah sukses, atau minimal memahami arah kita mengejar kesuksesan.

Pertama, dan yang terpenting orang sukses itu berbahagia. Tuhan mau kita hidup dalam sukacita, seperti yang seringkali ditulis dalam Alkitab, Bersukacitalah senantiasa. (1 Tesalonika 5:16), Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4). Tantangan dan musim boleh silih berganti, namun Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. (Amsal 15:13). Hati yang penuh sukacita membuat kita mampu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih baik, apalagi sukacita dan damai sejahtera juga merupakan buah Roh yang merupakan tanda bahwa kita hidup dalam pimpinan Allah (Galatia 5:22) dan Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)

Kedua. Sukses adalah ketika seseorang menghasilkan buahnya pada musimnya. Kita kerap mengalami berbagai musim kehidupan, ada kalanya suasanya begitu indah pada musim "semi," ada kalanya hidup terasa sulit seperti pada musim "dingin." Lalu apakah ini artinya kita hanya 'berbuah' pada musim tertentu saja?

Ingatkah kamu tentang kisah dimana Yesus mengutuk pohon ara? 

Markus 11:13-14, Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya.

Sekilas terdengar aneh bukan? Ketika Yesus mengharapkan buah pohon ara bukan pada musim berbuahnya. Namun, tahukah kamu bahwa sejatinya pohon ara itu menghasilkan buah tiga kali sepanjang tahun, yang dimulai dari musim dingin (masa dimana buah awal dari pohon ara muncul), musim semi (masa buah ara yang rasanya sedikit masam), dan musim gugur (masa panen utama, yaitu masa dimana buah ara yang benar-benar nikmat rasanya). Inilah sebabnya pohon ara adalah sumber makanan pokok sampai saat ini di wilayah timur tengah, dimana para musafir umumnya bisa beristirahat di bawah pohon ara sekaligus melepas dahaga dan lapar dengan buah yang ada di pohon ara. Jadi ketika Yesus melihat bahwa pohon ara tersebut tidak menampakkan buah sama sekali, maka kemungkinan besar pohon itu tidak akan pernah berbuah.

Makna menghasilkan buah bagi saya adalah sebuah kondisi dimana kita memberikan sebuah nilai yang positif atau bermanfaat bagi sekeliling kita. Ini artinya, bahkan dalam kondisi "musim dingin" sekalipun, kita bisa menjadi platform yang baik bagi orang-orang di sekeliling kita. Saya percaya bahwa sekalipun dalam segala keterbatasan kita, kita tetap bisa membagikan sesuatu pada orang lain. Penulis favorit saya, Simon Sinek, pernah berkata seperti ini: "Asking for help, is an act of service. Don't deny the people who love you the honor of being there to support you."

Ketiga, orang sukses tidak layu daunnya. Daun yang sehat artinya selalu ada pertumbuhan. Selain itu, daun yang tidak layu juga artinya kita memberikan value, sebagai tempat berteduh bagi yang membutuhkan. Ini sejalan dengan apa yang tertulis dalam Efesus 4:16 (Message)No prolonged infancies among us, please. We’ll not tolerate babes in the woods, small children who are easy prey for predators. God wants us to grow up, to know the whole truth and tell it in love—like Christ in everything. We take our lead from Christ, who is the source of everything we do. He keeps us in step with each other. His very breath and blood flow through us, nourishing us so that we will grow up healthy in God, robust in love.

Keempat, tanda orang sukses adalah ketika apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kata apa saja merupakan sebuah ekspresi yang luar biasa, mengingat tidak ada manusia yang tidak pernah gagal, bukan? Satu-satunya kemungkinan ekspresi itu terjadi adalah ketika manusia melaksanakan rencana Tuhan. Ayub sendiri berkata: Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ayub 42:2) Keselarasan antara apa yang kita lakukan dengan kehendak Tuhan adalah satu-satunya pintu kesuksesan yang sesungguhnya, dengan pemahaman bahwa rancangan Tuhan atas kita adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11), ini juga selaras dengan Mazmur Daud, bahwa TUHAN mengenal jalan orang benar, sebab Ialah pribadi yang merancang jalan tersebut.

Terakhir, orang sukses adalah orang yang tahan dalam penghakiman atau tahan uji, sebab orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman. Dalam perjalanan kita menuju sukses, tentu ada masa-masa kita perlu bersusah payah dalam pendakian terjal. Seperti konsep adversity quotient pada psikologi, yang mengelompokkan 3 jenis manusia, quitter, camper, dan climber, hanya para climber yang akan mencapai puncaknya. Ada tertulis pada Yakobus 1:12Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. 

Luar biasanya Firman Tuhan, Ia sekaligus menjelaskan bagaimana caranya menuju kesana. Jelas dikatakan bahwa kelima ciri kesuksesan ini hanya dapat dicapai ketika kita tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. [Taurat - Scripture] Sesuai dengan Firman-Nya yang tertulis pada Yohanes 1:1Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah AllahIni artinya, hubungan pribadi kita dengan Tuhan menjadi elemen yang sangat penting. Tuhan sendiri berkata, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5)

Saya berharap empat pemahaman ini bisa membantu kita semua satu langkah lebih dekat dengan sukses yang sudah dipersiapkan Tuhan bagi kita, sebab Tuhan sendiri berkata, Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:9) Tuhan Yesus memberkati (CBA).

Comments