Kita tahu bahwa kehidupan sesungguhnya adalah sebuah proses jangka panjang yang memiliki beberapa tahapan penting yang perlu dilalui, diantaranya: Infancy (neonate and up to one year of age), Toddler (one to five years of age), Childhood (three to eleven years old), Adolescence or teenage, dan Adulthood. Sama seperti perjalanan hidup, aspek rohani kita juga sesungguhnya memiliki perjalanannya sendiri.
Semua perjalanan Rohani kita akan dimulai pada saat kita lahir baru. Tuhan Yesus secara gamblang berkata pada Yohanes 3:3 ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Perkataan ini tidak dikatakan kepada orang sembarangan, namun kepada seorang Farisi bernama Nikodemus. Dari literatur, kaum Farisi adalah sekelompok orang-orang yang digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti dan merupakan pemimpin spiritual Yahudi pada masanya. Mereka disebutkan melayani Tuhan di Bait Tuhan secara turun-temurun, menjelaskan Taurat kepada orang-orang, dan bahkan melakukan perjalanan ke segala tempat untuk menyebarkan Taurat tersebut. Jadi, dalam konteks tersebut, bahkan konsep lahir baru adalah sebuah konsep yang juga applied terhadap seseorang yang lahir, tumbuh, dan besar di sebuah keluarga Kristen.
Sama seperti bayi yang baru saja dilahirkan, saat roh kita lahir baru, kita menjadi seseorang yang sangat tergantung dengan orang lain. Jika tidak diberi makan, tidak bisa makan sendiri. Jika tidak diurusi, tidak bisa mengurus diri sendiri. Jika tidak diperhatikan dalam jangka waktu yang lama maka beresiko mati (padam rohani). Apa yang seorang bayi bisa lakukan? Hanya dapat menangis, dan melakukan gerakan-gerakan sederhana saja.
Ketika seseorang masuk dalam tahap balita, mereka sudah mulai mampu melakukan beberapa hal dasar seperti makan dan minum sendiri, namun sebagian besar dari ketergantungan itu masih ada. Balita cenderung lebih sulit diatur, harus berkali-kali diberi tahu, mulai tantrum jika keinginannya tidak dipenuhi, dan tidak bisa membedakan apa yang bermanfaat atau tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri (misal memasukkan benda-benda yang asing/kotor ke dalam mulut). Tapi balita sudah dapat mengenali orang tuanya dengan baik, cenderung mampu menghindari orang asing, dan sadar harus mencari siapa ketika membutuhkan sesuatu.
Seorang anak-anak, tentu sudah jauh lebih capable dibandingkan dengan balita. Anak-anak sudah mulai bisa mandiri melakukan hal-hal dasar seperti memilih makanan, bahkan mempersiapkan makanannya sendiri dengan sederhana, melakukan eksplorasi akan berbagai hal, bertanya pertanyaan-pertanyaan yang kritis, belajar dengan sangat cepat akan berbagai hal, mulai bersosialisasi dan bertukar pikiran secara intens dengan sesamanya, pada kasus-kasus tertentu para anak-anak ini sudah mulai belajar independen dalam pemikiran mereka. Sayangnya, anak-anak belum mampu dengan sempurna membedakan apa yang baik dan benar, apa yang bermanfaat maupun tidak. Sehingga peran orang tua masih sangat besar dalam membuat keputusan bagi para anak-anak.
Remaja sebagai tahap penyambung antara anak-anak dan dewasa, sudah mulai memiliki pemikiran yang kompleks. Mereka mulai dapat belajar memikul tanggung jawab, terlibat dan berkontribusi dalam komunitas kecil, mulai mampu mengambil keputusan akan aspek-aspek dasar kehidupan pribadi, dan mulai membangun aspirasi terhadap masa depan. Sayangnya, pada tahap ini, seringkali remaja mengalami masa-masa krisis identitas dan peran, sehingga seringkali disebut rebellious.
Saat seseorang menjadi lebih dewasa, kemampuan untuk memutuskan sesuatu menjadi lebih baik lagi, karena keputusan-keputusan yang diambil sudah tidak lagi terbatas terkait dirinya, namun sudah berpengaruh terhadap kehidupan orang-orang di sekelilingnya. Orang yang dewasa juga sudah memiliki kemampuan untuk mengelola/mengurus pribadi lain yang kedewasaannya berada di bawahnya, pada titik tertentu menciptakan keluarganya sendiri. Orang yang dewasa juga sudah berkontribusi pada lingkup yang lebih luas yaitu masyarakat. Dalam Ibrani 5:13 juga disebutkan, "Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat."
Fase-fase ini adalah fase yang perlu dilalui oleh seluruh manusia rohani. Tuhan Yesus dalam Matius 18:3-4 berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." Kata bertobat dan menjadi seperti anak kecil, dalam versi The Message diterjemahkan menjadi "return to square one and start over like children". Proses ini tentu tidak mudah, karena ditengah kedewasaan kita, sulit bagi kita untuk 'membuang' seluruh isi kepala kita dan mulai dari awal kembali. Diperlukan kerendahan diri seperti yang disebutkan oleh Firman Tuhan tadi.
Bagi yang sudah menjalani kelahiran baru, sama seperti pertumbuhan jasmani, pertumbuhan rohani yang benar hanya mungkin terjadi jika ada pengelolaan yang tepat dalam setiap tahapan-tahapan tersebut. Mengapa mengelola kehidupan rohani kita menjadi penting? Sadarkah kita, bahwa berbeda dengan tubuh jasmani yang kapasitas bertumbuhnya terbatas, menua, dan kemudian mati, Tuhan Allah menjanjikan kekekalan pada roh manusia. Kristus sendiri berkata pada Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ini merupakah sesuatu yang sungguh luar biasa! Bayangkan 'kerugian' yang bisa kita alami kalau kita bersikap careless terhadap masa depan kekal kita? Kuncinya adalah kita perlu memahami hal-hal yang kita butuhkan dalam pertumbuhan rohani kita, acknowledge it and act towards it. Bapa kita di Sorga sudah menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan dalam perjalanan kehidupan rohani kita.
Firman Tuhan berkata, Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17)
Tentu dalam perjalanan ini, kita juga perlu sadar bahwa menjadi dewasa tentu disertai dengan beban dan tanggung jawab yang perlu dipikul. Makanya, orang-orang cenderung lebih menyukai fase anak-anak dan remaja dibandingkan fase dewasa. Namun, dengan pemahaman yang benar, kita sadar bahwa dewasa berbicara tentang kapasitas menerima dan menggunakan kebijaksanaan, serta mawas diri. Kebijaksanaan dan hikmat yang datang dari Tuhan itulah yang kemudian membuat kita dapat menikmati hidup yang sesungguhnya. Firman Tuhan dalam Amsal 16:16 berkata Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak. Firman Tuhan dalam Pengkhotbah 10:10 juga berkata, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.
Marilah kita bertumbuh bersama-sama kedalam kedewasaan dan keserupaan seperti Kristus. Seperti yang disebutkan pada Surat 1 Korintus 13:11: Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Have a blessed life! (CBA)
Comments