Ketika saya mengikuti ibadah Minggu yang lalu, Firman yang disampaikan berbicara mengenai kasih mula-mula. Dimana kita dihimbau untuk kembali kepada kasih kita yang mula-mula kepada Tuhan. Hal ini membuat saya berpikir, apa kira-kira hal yang membuat kasih seseorang menjadi pudar atau menjadi suam-suam kuku, bahkan menjadi dingin?
Firman Tuhan dalam Matius 24:12 berkata "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." Disini Kristus sedang berbicara mengenai tanda-tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia, dimana keadaan dan kondisi dunia menjadi semakin buruk.
Hal ini senada dengan apa yang dituliskan pada surat 2 Timotius 3:1-4, yang berbunyi: "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah."
Semua itu menunjukkan kondisi dimana manusia telah kehilangan kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Manusia kemudian meletakkan kasih itu pada dirinya sendiri. Disini saya belajar, bahwa ketika kita mulai mementingkan diri sendiri, saat itulah kita telah kehilangan kasih kita yang mula-mula. Apa tandanya kita telah menjadi pribadi yang mementingkan diri sendiri?
Tanda pertama, adalah ketika prioritas kita berubah. Kita tidak lagi menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi. Allah sendiri telah berfirman, Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Hal ini berarti kehendak Tuhan adalah yang terutama. Namun, kita seringkali menemukan banyak hal yang memiliki urutan pemenuhan prioritas lebih tinggi dari Tuhan di hidup kita. Contohnya? Kita hanya mau melakukan perintah Tuhan yang tidak menganggu kenyamanan hidup kita, dan menghindari seluruh perintah atau Firman yang membuat kita merasa tidak nyaman. Artinya, kehendak diri kita menjadi prioritas yang lebih tinggi daripada kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Tanda kedua, adalah ketika kita tidak lagi peduli dengan Tuhan. Kita hidup selayaknya orang yang tidak memiliki Tuhan atau tidak membutuhkan Tuhan. Firman Tuhan dalam Ulangan 6:4-5 berkata: "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Tanda ini terlihat ketika kita tidak pernah lagi punya hati untuk mencari Tuhan terlebih dahulu dalam keseharian kita. Kita tidak lagi pernah melibatkan Tuhan dalam pemikiran-pemikiran dan rencana kita. Ketika kesulitan tiba, kita mengarahkan seluruh kekuatan kita bukan untuk mencari Tuhan, namun untuk mencoba menyelesaikan semua masalah seorang diri.
Ingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kita yang seringkali menjauh dari hadirat-Nya. Tidak pernah sekalipun kasih-Nya kepada kita menjadi pudar. Sebab, Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia (1 Korintus 1:9).
Satu-satunya cara agar kita bisa kembali kepada kasih Tuhan adalah dengan kembali kepada komitmen kita. Ingat dan mulai lakukan kembali apa yang kita lakukan pada masa-masa terdekat kita dengan Tuhan, seperti pesan Firman Tuhan kepada jemaat di Efesus, Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan (Wahyu 2:5). Ketika kita kembali kepada komitmen kita, artinya kita memaksa diri kita untuk berjalan lagi bersama Tuhan, memahami apa yang Ia inginkan, melihat apa yang Ia lihat, dan melakukan apa yang telah diajarkan sebagai teladan kepada kita. Saya percaya, dalam prosesnya kita akan kembali mengalami betapa baiknya Tuhan kepada kita, dan ketika kesadaran itu kembali, kita tidak lagi butuh justifikasi atas kasih kita kepada Tuhan.
Bagi sebagian dari kita yang memang belum pernah mengalami kasih mula-mula, kita tidak akan bisa kehilangan hal yang sebenarnya tidak pernah kita miliki, bukan? Ini juga berarti bahwa kita sesungguhnya belum mengerti mengapa kita harus mengasihi Tuhan Allah kita. Hubungan dengan Tuhan menjadi seperti sebuah rutinitas dan sebuah kebiasaan semata. Satu-satunya cara untuk mengalami kasih adalah dengan mengenal dan mengalami kasih itu sendiri. Daud, pada masa-masa tersulitnya berkata dalam Mazmur 34:9, Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Kecap (rasakan) kebaikan Tuhan lewat apa yang alami sehari-hari, lewat hal-hal "kecil" yang seringkali kita take-for-granted. Dari sanalah baru kita dapat 'melihat' betapa baiknya Tuhan itu. Kristus sendiri berkata, Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29). Saya percaya bahwa ketika kita telah benar-benar merasakan kasih-Nya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hidup kita.
Saya berdoa agar setiap dari kita mengalami Tuhan secara terus-menerus dalam hidup kita. Mengalami Tuhan berarti berinteraksi langsung dengan Tuhan. Terdengar tidak mungkin? Tidak kok. Tertulis dengan jelas pada Yohanes 1:1 bahwa Firman itu adalah Allah. Maka, berinteraksi dengan Firman lewat membaca Firman, mendengar Firman, merenungkan Firman, dan melakukan Firman, artinya kita sedang berinteraksi dan mengalami Tuhan dalam keseharian kita. Hal ini tidak tentu mudah, bahkan mungkin kita akhirnya perlu melewati beberapa lembah kelam terlebih dahulu sebelum benar-benar memahami apa yang menjadi kehendak-Nya, namun selama kita memegang teguh komitmen kita, kita akan sadar bahwa Tuhan kita yang adalah setia tidak sekalipun meninggalkan kita dalam keadaan apapun. (CBA)
Comments