Skip to main content

Hal-hal terkait hubungan antar manusia

Limitasi yang dihadapi seseorang dalam melakukan banyak hal seorang diri adalah sangat besar. Dengan bertambahnya jumlah orang, sesungguhnya banyak limitasi dapat dihindari, dan jika dikelola dengan tepat maka hasil yang dapat dicapai bisa menjadi jauh lebih baik. Tuhan Allah sendiri berkata, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja."

Nah, supaya hal tersebut bisa terjadi, maka kita perlu memiliki hubungan yang baik terlebih dahulu. Sebab, tanpa hubungan yang baik, bukan kerjasama yang kita dapatkan namun pertengkaran dan keributan. Saya percaya bahwa ini adalah salah satu prinsip utama dalam kehidupan kita sehari-hari. Masalahnya, tidak mudah untuk memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia. Manusia itu pada suatu titik pasti saling melukai. Tidak ada satupun tokoh Alkitab yang tidak pernah melukai sesamanya, entah melalui perbuatan maupun lewat tindakan. Lalu bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang baik?

Saya percaya kunci dari sebuah hubungan yang baik dengan sesama kita adalah memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Coba bayangkan sebuah salib. Tanpa balok yang vertikal, tidak mungkin balok horizontal bisa berfungsi dengan semestinya. Tanpa Tuhan, tidak mungkin kita bisa memiliki hubungan yang seharusnya dengan sesama kita. Sebenarnya, di dalam Alkitab, banyak pelajaran yang diajarkan oleh Tuhan tentang mengelola hubungan dengan sesama, saya akan coba berbagi dari pemahaman saya yang terbatas.

Pada Kejadian 2:18, TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Pelajaran utama bagi kita dari Tuhan. Kita perlu membangun hubungan dengan orang yang sepadan dengan kita. Kata sepadan (neh'-ghed) disini menggambarkan posisi yang berhadap-hadapan sehingga kita bisa bertatap muka. 

Artinya bagi saya yang pertama, kita berdiri di titik yang sama dan memiliki level perspektif yang sama pula. Level perspektif yang sama bagi saya berarti memiliki tingkat kedewasaan yang sama juga. Tidak mungkin seorang anak-anak memiliki level perspektif yang sama dengan orang tuanya, bukan? Tanpa level perspektif yang sama, tidak mungkin diskusi yang sehat dapat dilakukan. Tanpa diskusi yang sehat, masalah utama sebuah hubungan antar manusia, yaitu komunikasi pasti akan berulang kali terjadi sehingga mustahil memiliki hubungan yang sehat juga. Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 13:11Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Inilah yang menyebabkan mengapa perbedaan tingkat kedewasaan seseorang sulit sekali diperbaiki. Umumnya, butuh peran mediasi dari pihak lain dan usaha yang besar dari pihak 'anak-anak' untuk dapat cepat dewasa sebelum hubungan bisa menjadi lebih baik. 

Arti kedua, adalah kita ada di posisi yang sejajar, berpijak di tanah yang sama. Jika level kedewasaan dua orang adalah sama, namun mereka berada di bidang tanah yang berbeda, banyak kesulitan akan terjadi, dimana salah seorang akan menahan beban yang lebih besar atau mengeluarkan energi yang lebih besar dalam mengerjakan sesuatu. Tentu dalam perjalanan jangka panjang, hal ini sulit dihindari, ada masa-masa dimana seseorang ada di posisi lebih tinggi maupun lebih rendah. Kuncinya, siapapun yang berada di posisi lebih tinggi harus dengan segera membantu yang lainnya untuk naik ke posisi yang sama. Jika perbedaan pijakan terus terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka masalah dalam hubungan akan terus terjadi.

Lalu arti ketiga buat saya, sepadan juga berarti memiliki tingkat "kekerasan" yang sama. Keras disini tentu bukan tentang keras kepala. Dalam sebuah khotbah yang saya dengar, disebutkan bahwa kita perlu berani untuk dilukai namun tidak terluka. Ingat Firman Tuhan dalam Amsal 27:17, Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Perlu kita ketahui bahwa, jika ada 2 roda gigi logam, jika kedua logam memiliki tingkat kekerasan yang sama maka kedua roda gigi tersebut bisa saling mendorong satu sama lain menciptakan daya yang eksponensial. Namun, jika salah satu roda gigi berasal dari logam yang lebih lunak, maka logam yang lunak akan cenderung 'hancur' dan pergerakan mesin menjadi terhenti. Dalam hubungan, yang lebih "lunak" seringkali lebih sering mengalami sakit hati dan kekecewaan.

Terakhir, sepadan juga berarti ada di wilayah yang sama. Disebutkan dalam 2 Korintus 6:14Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Sulit bagi seseorang yang berada di wilayah yang sama untuk dapat berhadap-hadapan dengan baik. Kondisi, situasi, dan keadaan yang berbeda membuat keputusan yang sama tidak memberikan hasil yang sama, kalimat yang sama menjadi berarti berbeda, dan kebutuhan yang berbeda membuat tujuan menjadi berbeda. Bagaimana sekelompok orang yang memiliki tujuan yang berbeda dapat memiliki hubungan yang sehat dan benar? Menurut saya, tidak ada solusi bagi kondisi ini. Pada Mazmur 1:1-3 disebutkan, Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Tentu sebagai manusia yang tidak sempurna, Tuhan Allah memberikan berbagai petunjuk supaya kita yang tidak sempurna dapat memiliki hubungan yang baik, seperti layaknya balok vertikal yang menyeimbangkan balok horizontal. Apa saja contohnya? Firman Tuhan seperti:

  • Saling mengasihi seperti Kristus mengasihi (Yohanes 13:34
  • Memberikan usaha lebih bagi sesama (Matius 5:41)
  • Mengampuni kesalahan orang lain (Matius 18:21-35)
  • Mengajarkan apa yang benar (Matius 28:19-20)
Namun, tanpa menjadi pribadi yang sepadan, sulit bagi sebuah hubungan untuk dapat terus dikelola dengan baik, ditingkatkan, dan menjadi berkat yang sesungguhnya. Baiklah kita terus memperbaiki diri kita setiap waktu, dan menghindari ada di kelompok yang membuat kualitas hubungan kita cenderung turun terus menerus. Semoga hubungan-hubungan yang kita miliki terus naik kualitasnya, agar kita bisa menikmati waktu-waktu terbaik pada masa hidup kita di dunia yang terbatas ini. Tuhan memberkati! (CBA)

Comments