Skip to main content

Kita ini domba atau kambing sih?

Sadarkah Anda bahwa domba adalah seekor hewan yang cukup sering disebutkan di dalam Alkitab, bahkan Kristus Yesus juga disebut sebagai gembala dari domba. Mengapa dari begitu banyak hewan yang diciptakanNya, domba yang dipilih sebagai analoginya? Berawal dari rasa penasaran ini, saya mencoba mencari tahu mengenai fakta-fakta mengenai domba yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya, apalagi tidak mudah menemukan domba di Indonesia dibandingkan dengan hewan ternak lainnya seperti ayam, sapi, atau babi. Dari pencarian saya, ada beberapa hal unik yang saya temukan.

Diantara berbagai fakta-fakta unik tentang domba, ada satu hal yang sangat menarik domba bagi saya, yaitu domba adalah hewan yang memiliki kecerdasan emosional yang kompleks, beberapa penelitian menyebutkan bahwa domba dapat mengalami berbagai jenis emosi, seperti kemarahan, ketakutan, kebosanan, dan kesenangan. Tidak hanya itu, penelitian juga menemukan bahwa domba bisa memiliki kepribadian yang berbeda (optimis maupun pesimis). Domba juga mampu membedakan ekspresi sesama domba bahkan manusia dan mengingat wajah yang berbeda dalam jangka waktu tertentu. Hal ini juga yang menyebabkan domba menjadi hewan yang sangat sosial dan mampu membangun kedekatan emosional antara satu dengan lainnya. Begitu sosialnya mereka, domba yang terpisah dari gerombolannya menunjukkan perilaku menyerupai depresi seperti terus menunduk dan melakukan tindakan-tindakan yang cenderung negatif. Inilah yang menyebabkan domba tidak memiliki perlindungan diri diluar kawanannya.

Sebagai hewan yang memiliki insting yang kuat untuk saling mengikuti sesamanya, hal inilah yang menyebabkan kehidupan domba itu sangat tergantung dengan pemimpinnya. Kemanapun pemimpin domba pergi, seluruh kawanan akan mengikutinya (follow the leader instinct). Begitu kuatnya insting mereka untuk mengikuti, bahkan jika hal tersebut membuat seluruh kawanan dalam keadaan bahaya (berjalan di pinggir jurang hingga terjatuh) Maka sampai saat ini, gembala domba sangat menentukan kehidupan dari domba-dombanya. Ini sesuai dengan apa yang Yohanes 10:27, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku."

Manusia seringkali dianalogikan sebagai domba di Alkitab, sehingga pertanyaan penting bagi kita adalah, gembala mana yang akhirnya kita ikuti? Apakah kita menjadi domba yang telah ditebus lunas oleh Allah, seperti Tercatat dalam Yesaya 40:11, bahwa "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati." Bersukacitalah sebab Janjinya pada domba-dombaNya, yaitu: Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. (Yehezkiel 34:14-16)

Atau kita adalah domba-domba lain yang hanya mengikuti orang upahan yang sesungguhnya tidak perduli dengan kita? dimana orang upahan itu "ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:12); jika kita adalah domba-domba lain ini, bersukacitalah sebab ada anugerah di hadapan kita, dimana Ia berkata bahwa "..domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yohanes 10:16)

Atau jangan-jangan kita berperilaku seperti kambing yang agresif, bebal, dan bandel. Berbeda dengan domba yang taat pada perintah, Kambing cenderung ingin mendominasi, tidak mau tunduk pada perintah, dan senang menyerang atau bahkan berkelahi antar sesamanya. Jika kita berperilaku seperti kambing, maka berhati-hatilah, sebab dalam Matius 25, Kristus berkata bahwa Anak Manusia akan memisahkan kambing daripada domba (Matius 25:33), dan mengusir kambing dari hadapan-Nya, ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. (Matius 25:41)

Sebagai mahkluk yang diberikan kehendak bebas oleh Allah Bapa, kita diberikan kesempatan untuk memilih apa yang hendak kita perbuat dalam hidup kita, entah menjadi domba ataupun menjadi kambing. Pilihlah apa yang benar dalam hidupmu, agar kita tidak menyesal ketika tiba waktunya bagi kita untuk di-review oleh Tuhan atas kehidupan kita kelak. Tuhan memberkati! (CBA)

Comments