Skip to main content

Apa yang salah dengan suam-suam kuku?

Bagi para penikmat kopi, tentu masing-masing punya preferensinya sendiri dalam menikmati kopi. Ada yang senang mengonsumsi kopi seduh yang panas dan masih beruap wangi, ada juga yang senang mengonsumsi es kopi yang dingin dan menyegarkan tenggorokan. Tapi saya jarang menemukan orang yang senang meminum kopi dalam keadaan suam-suam kuku, tidak panas juga tidak dingin, jika kopi panas atau es kopi yang dibeli sudah menjadi suam-suam kuku, biasanya sudah tidak akan diminum lagi.

Analogi tersebut mungkin bisa lebih jauh menjelaskan apa yang tercatat dalam kitab Wahyu 3:14-16Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Bagi saya sebenarnya, ayat ini cukup sering saya dengar atau baca. Tetapi kali ini saya mendapatkan dua perspektif baru yang ingin saya bagikan.

Pertama, tentu saja ketika membaca ayat ini, fokus kita akan terbawa kepada kondisi suam-suam kuku yang disebutkan oleh Firman Tuhan. Mengapa kondisi ini menjadi sesuatu yang salah di mata Tuhan? Bahkan sampai Firman Tuhan berkata: Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Yang saya pahami disini adalah Tuhan punya preferensi, all or nothing at all, seperti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra, All or nothing at all, Half a love never appealed to me, If your heart, never could yield to me, then I'd rather have nothing at all

Saya tidak pernah mendengar lagu ini sebenarnya, tapi ketika membaca liriknya, saya seakan mengerti perasaan Tuhan. Salah satu perintah Tuhan yang terutama adalah mengasihi (mencintai) Tuhan, Allah kita, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Perhatikan kata: SEGENAP. Artinya Tuhan menghendaki sesuatu yang utuh. Jangankan Tuhan, kita sebagai manusia juga menghendaki pasangan kita untuk mencintai kita seutuhnya bukan? Apalagi kondisinya, bukan Tuhan yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan Dia.

Sayangnya, dalam keseharian hidup, kita seringkali bersikap suam-suam kuku terhadap Tuhan, seakan-akan ada garis yang kita ukir antara kita dengan Dia, yang enggan untuk kita lewati. Garis itu seakan-akan memberi tahu kita bahwa lewat dari situ akan ada komitmen yang ingin kita hindari. Padahal garis itu juga yang membedakan apakah kita hanya mengetahui keberadaan Tuhan disana atau kita sesungguhnya mengenal Dia dari dekat.

Di jaman modern ini, makna seorang pengikut (follower) telah terdilusi hingga pudar tanpa makna yang serius lagi. Mudah bagi kita untuk menekan tombol 'follow' di media sosial kita untuk memberikan kita status sebagai seorang follower dari orang/brand/organisasi tertentu. 

Lain halnya dengan Kristus. Orang yang hendak mengikut Tuhan, seharusnya sadar apa yang menjadi kesukaanNya. Firman Tuhan berkata dalam Hosea 6:6Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. Tuhan mau kita kenal dengan Dia, bukan sekedar tahu dan dibatasi oleh garis batas yang kita ukir sendiri. Sekali lagi, sayangnya kebanyakan diantara kita mau kenal Tuhan tapi tidak mau menjalani komitmennya. Apa yang dikatakan Firman Tuhan bagi orang-orang seperti ini? Disebutkan dalam 1 Yohanes 2:4Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran

Orang-orang inilah yang ditunjuk dalam pengajaran Kristus yang tercatat pada Matius 7:21-23Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! Pada saat ini saya mengerti, alasan mereka tidak diperkenankan masuk dalam Kerjaan Sorga adalah karena mereka tidak memiliki kebenaran. Daud sendiri berkata dalam Mazmur 15:1-2TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya. Daud sekali lagi berkata dalam 2 Samuel 22:21TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku

Disini saya kembali diingatkan dengan keras, bahwa jika kita memberi 'kasih' yang suam-suam kuku kepada Tuhan, balasan Tuhan pada kita adalah dengan memuntahkan kita dari mulut-Nya.

Perspektif kedua yang saya dapatkan, adalah mengenai jemaat di kota Laodikia. Dulu saya tidak pernah terlalu memperhatikan bahwa ayat ini merupakan teguran bagi jemaat di Laodikia. Namun kali ini saya merasa tertarik dengan kota ini. Mengapa dari sekian banyak kota yang menerima Injil, kota ini yang disebut secara spesifik dalam Firman Tuhan.

Kota Laodikia adalah suatu kota perdagangan penting di lembah Likos daerah Frigia. Suatu kota di propinsi Romawi wilayah Asia. Letaknya di bagian barat negara Turki yg sekarang. Karena letaknya begitu strategis, maka kota ini menjadi pusat perdagangan yg sangat makmur, terutama pada zaman pemerintahan Romawi. Ketika kota itu hancur karena gempa bumi yg hebat thn 60 M, kota itu sanggup menolak tawaran bantuan biaya pembangunan kembali dari kaisar. Laodikia menjadi pusat yg penting untuk perbankan dan pertukaran. Kota ini dikelilingi oleh tanah yg subur dan juga terkenal sebagai pusat ilmu kesehatan mata.

Lalu apa hubungannya antara fakta-fakta tersebut dengan Firman Tuhan tadi? Saya seringkali menemukan, orang-orang yang hidup dalam kondisi atau lingkungan yang berkecukupan cenderung merasa tidak punya masalah yang berarti, dimana hampir segalanya bisa diselesaikan dengan usahanya sendiri. Tentu tidak semua orang seperti ini jahat, banyak yang juga sadar bahwa berkat yang mereka terima datangnya dari Tuhan, mereka beribadah dengan baik, dan banyak melakukan hal-hal yang baik. Mereka hidup dengan nyaman dan akhirnya, tidak merasa memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Tuhan. Toh, sepertinya tanpa melibatkan Tuhan pun, hidup rasanya akan tetap baik-baik saja. Nyatanya bagi orang Laodikia, gempa hebat pun tidak membuat mereka kesulitan, kok. Akhirnya, seringkali menjalankan perintah Tuhan menjadi sesuatu yang sifatnya opsional bagi orang-orang seperti ini. Jika perintah Tuhan menjadi sesuatu yang memaksa mereka keluar dari zona nyaman, atau bahkan menjadi conflict of interest dengan apa yang mereka inginkan, maka mereka akan 'dengan berat hati' meninggalkan Tuhan, layaknya yang dilakukan oleh orang muda yang kaya dalam Matius 19:22Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Mungkin ini yang membuat kita seringkali mendengar cerita atau kesaksian dimana seseorang menemukan hubungan yang dekat dengan Tuhan justru setelah terjadi sesuatu yang membuat semua harta kekayaan yang dimiliki hilang atau menjadi tidak berguna. Lebih lanjut, Matius 19:23-24 mencatat dimana Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Tentu menjadi kaya bukan masalah bagi Tuhan, Paulus pun berkata dalam 2 Korintus 8:9, Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Yang jadi masalah adalah ketika 'kekayaan' itu justru menghalangi kita dari apa yang sesungguhnya harus kita prioritaskan, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Semoga kita tidak justru terbalik dan akhirnya put the cart before the horse, namun meletakkan Tuhan sebagai prioritas dalam setiap pemikiran, waktu, keputusan, dan perbuatan kita sehari-hari. Memang hal ini terlihat 'radikal,' tapi justru menjadi bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita tidak suam-suam kuku. Anyway, Iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah mati bukan? (Yakobus 2:7) Tuhan memberkati. (CBA)

Comments