Skip to main content

Ekspektasi dan Respon dalam Memberi

Pernahkah kamu berusaha memberi sesuatu kepada seseorang namun respon orang yang menerima tidak sesuai dengan harapanmu? Apa yang kamu pikirkan dan rasakan setelah itu? Tahukah kamu bahwa apa yang kemudian kita pikirkan dan rasakan menjadi gambaran seberapa mampu kita menguasai diri kita sendiri? Hari ini kita akan belajar dari Kain dan Habel tentang menguasai diri kita sendiri, khususnya mengenai mengelola ekspektasi dan respon kita ketika memberi.

Kejadian 4:3-7 
Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Banyak orang mungkin berdebat mencari alasan mengapa Tuhan tidak mengindahkan persembahan Kain. Perdebatan-perdebatan itu menyebabkan banyak pendapat bermunculan akan hal ini. Namun kita tidak ingin berfokus pada hal tersebut dalam tulisan kali ini. Yang mau saya angkat adalah respon Kain ketika persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan.

Disebutkan dalam Alkitab bahwa hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram saat kejadian tersebut. Kalau ada orang berkata bahwa Kain tidak sungguh-sungguh dalam memberikan persembahannya, saya mencoba percaya bahwa sesungguhnya Kain mencoba memberikan yang terbaik dari hasil tanahnya, apalagi Kain tahu bahwa persembahan itu akan diberikan kepada Tuhan. Jika saya mencoba menilik kepada kehidupan saya, justru saya punya potensi lebih besar untuk marah ketika pemberian terbaik saya untuk seseorang tidak diindahkan, dan justru orang tersebut lebih menghargai pemberian orang lain. Memang hal serupa juga mungkin terjadi sekalipun pemberian yang kita berikan bukan yang terbaik, tapi jika melihat tingkat kemarahan Kain yang begitu luar biasa (hingga benar-benar membunuh saudara kandungnya sendiri - Kejadian 4:8), rasanya kekecewaan dan kemarahan yang muncul pada Kain karena usaha terbaiknya tidak diindahkan lebih masuk akal bagi saya.

Jika kita melihat Firman Tuhan kembali, sesungguhnya ada sebuah detail yang mungkin sering kita lewatkan. Disebutkan bahwa Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan. Disini saya belajar bahwa sebelum melihat persembahan yang diberikan, Tuhan melihat karakter yang memberikan persembahan terlebih dahulu. Sejatinya tidak semua yang kita anggap sebagai yang terbaik yang dipersembahkan kepada Tuhan itu akan Tuhan terima. Tidak percaya? Mari kita lihat apa yang terjadi dengan raja Saul dalam 1 Samuel 15 dimana dalam peperangan antara bangsa Israel dengan Amalek, Saul dan rakyat Israel memisahkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Akan hal tersebut, justru nabi Samuel berkata dalam 1 Samuel 15:22, "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan." Pada kesempatan lain, Tuhan Yesus juga berkata dalam Matius 9:13; "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan."

Jadi jelas bahwa karakter seseorang yang memberikan persembahan atau pemberian sesungguhnya jauh lebih penting daripada kuantitas maupun kualitas dari apa yang diberikan. Memang menjadi seseorang dengan karakter yang baik merupakan proses yang amat panjang, selalu melakukan apa yang Tuhan kehendaki tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan seringkali kita terjatuh melakukan dosa. Tapi sesungguhnya Tuhan mengingatkan kita ketika Tuhan mengingatkan Kain dalam Kejadian 4:7; "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Sayang sekali Kain tidak mampu berkuasa atas dirinya, dan justru meresponi kemarahannya dengan membunuh saudaranya sendiri. Kita perlu sadar bahwa sesungguhnya bukan dosa yang menjerat kita, tapi kitalah yang memberikan diri untuk jatuh dalam dosa. Mengapa bisa seperti itu? Sebab pada dasarnya kita ini diciptakan oleh Tuhan dengan anugerah kehendak bebas! Terlebih kita yang sudah diberikan Roh Kudus sebagai penolong untuk memampukan kita dengan Kuasa yang datang dari Tuhan.

Di lain sisi, saya percaya bahwa apa yang menjadi ekspektasi Kain turut menentukan respon dari Kain. Saya tidak tahu apa yang dia harapkan, tapi setidaknya Kain pasti berharap bahwa apa yang ia berikan diterima sama baiknya dengan persembahan saudaranya. Kita sesungguhnya perlu mengingat kembali, apa alasan kita memberi. Tujuan utama kita memberi seharusnya adalah karena kita mengasihi pribadi yang kita beri. Karena kita mengasihi, sudah sewajarnya kita memberikan sesuatu tanpa ada pikiran untuk menerima timbal balik apapun dari pribadi yang kita beri, termasuk sebuah respon. Sama halnya ketika kita memberi persembahan kepada Tuhan, tidak perlu disertai dengan ekspektasi bahwa Tuhan akan memberkati kita di esok hari karena persembahan kita, lalu kemudian kecewa dan menjauh dari Tuhan karena berkat yang kita tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Tuhan Yesus sudah memberi teladan akan hal ini ketika Ia memberi diriNya untuk disalib. Apakah pemberian besarNya itu mendapat respon yang baik dari orang-orang yang Ia beri? Apakah karena respon buruk itu, Ia kemudian menjadi menyesal? 

Menurut saya pribadi, satu-satunya harapan yang boleh kita miliki ketika kita memberi adalah lewat pemberian/persembahan kita nama Tuhan dipermuliakan, dan oleh karena itu orang-orang dapat melihat karakter Kristus dipertunjukkan dari apa yang kita perbuat. Itulah sebenarnya taburan kita yang sesungguhnya. Percaya dengan iman, apa yang ditabur pasti akan dituai tepat pada waktu-Nya, sebab Tuhanlah yang berkuasa untuk memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3:6)

Maukah kita belajar untuk memberi dengan hati yang benar, hati yang tulus tanpa mengharapakan apapun? Maukah kita mengendalikan diri kita sepenuhnya sehingga kita merespon setiap hal yang terjadi di hadapan kita dengan benar sesuai dengan apa yang menjadi Firman Tuhan? Saya berdoa agar kita semua diberikan kemampuan melalui Roh Kudus yang ada bersama-sama dengan kita. Tuhan Yesus memberkati! (CBA)

Comments