Setiap manusia tentu memiliki identitas diri. Bahkan kita bisa saja memiliki beberapa identitas sekaligus. Identitas adalah sesuatu yang membedakan kita dengan orang lainnya. Begitu pentingnya identitas, kita tidak bisa hidup tanpa identitas. Ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita juga menerima identitas sebagai pengikut Kritus. Sayangnya banyak diantara kita yang taken for granted akan identitas yang diberikan kepada kita melalui kasih karunia ini. Kristus sendiri berkata dalam Yohanes 15:16, Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Mengapa saya berkata bahwa banyak diantara kita taken for granted akan identitas yang diberikan kepada kita? Karena banyak diantara kita yang mengenakan label identitas tapi lupa atau tidak mau membawa beban yang ada di balik identitas tersebut. Kita telah diselamatkan (Efesus 1:7), kita telah dibenarkan (2 Korintus 5:21), dan kita diangkat menjadi anak-Nya (Yohanes 1:12) semua dengan tujuan supaya nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan perbuatan kita (Yohanes 15:8), dan kita yang telah diangkat sebagai anak-Nya turut menerima kemuliaan tersebut pada akhirnya (Roma 8:17).
Pertanyaannya, sudahkah hidup kita mempermuliakan Tuhan? Ya, kita sudah berbuat baik, tapi bukankah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan juga berbuat baik? Apa yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan? Pada masa penciptaan, Musa mencatat pada Kejadian 1:4, Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Disini jelas Tuhan mau kita berbeda, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan (1 Tesalonika 5:5).
Yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan adalah kita terhubung dengan Tuhan, kita menjalani sebuah perjalanan pribadi dengan Tuhan, mengerjakan kehendak-Nya, dan berjalan dalam grand plan Tuhan. Tuhan sendiri berfirman: Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Kita sebagai anak-anakNya mempunyai akses untuk bertanya langsung kepada Tuhan, apa yang menjadi purpose of life yang Tuhan berikan secara khusus kepada kita. Tujuan akhir kita adalah menjalankan amanat agung (Matius 28:19-20) namun Tuhan memberikan kita perjalanan personal yang unik dan berbeda untuk tiap-tiap individu, sebagaimana kita diciptakan secara dahsyat dan ajaib oleh Tuhan (Mazmur 139:14).
Ada satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu ketika kita diminta berbeda dengan dunia, bukan berarti kita menjadi eksklusif. Kita harus menjadi pribadi yang berbeda namun inklusif sehingga kita bisa masuk dalam kehidupan orang lain dan menginsipirasi orang tersebut untuk turut belajar kepada Tuhan (menjadi murid).
Bagaimana menjadi inklusif? Dengan berbuah! Bayangkan ada sekumpulan buah apel, namun ada 1 apel yang begitu manis dan menarik dilihat sehingga menjadi pusat perhatian dan inspirasi. Buah yang manis dan menarik akan dapat dinikmati oleh siapapun tanpa terkecuali. Kristus berkata, perbedaan orang yang mengikut Kristus dengan sungguh-sungguh dengan pengikut palsu ada pada buahnya, sebab Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (Matius 7:16)
Buah apa saja yang sudah kita hasilkan? Semua berasal dari identitas kita, identitas kita adalah benih yang kita tabur, kemudian bertumbuh dan berbuah. Setiap orang yang menabur pasti akan menuai. Jika kita menabur dengan identitas yang benar maka kita akan menuai buah yang benar juga (anggur), dan jika kita menabur dengan identitas "palsu" maka kita menuai hasil yang buruk (semak duri) -- tidak berbuah. Dan kita tahu bahwa setiap ranting yang tidak berbuah dipotong untuk dibuang ke dalam api (Yohanes 15).
Sudahkah kita menghasilkan buah yang benar sesuai dengan identitas kita? Tuhan Yesus memberkati.
Comments