Pernahkah Anda merasa kesepian? Rasanya tidak ada orang yang mengerti akan beratnya masalah atau tantangan yang sedang kita hadapi? Minggu lalu, saya mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh gembala saya mengenai apa saja yang bisa kita lakukan ketika kita sedang sendirian. Tiba-tiba sebuah kata muncul dalam pikiran saya, yaitu "kesepian."
Perasaan kesepian bukan merupakan perasaan yang menyenangkan. Sekalipun saya merupakan seorang introvert yang menikmati keadaan yang tenang, tapi saya tidak mau kesepian. Kesepian merupakan sebuah keadaan di mana seseorang merasa hampa, sendirian, dan tidak diinginkan. Kesepian bukan masalah fisik, tapi masalah mental. Orang bisa saja berada di tengah-tengah keramaian orang, tapi tetap merasa kesepian. Entah mengapa, ketika membayangkan tentang kesepian, saya teringat tentang kisah Yesus sebelum ia ditangkap untuk disalibkan.
Kejadian yang paling diingat orang ketika membicarakan masa itu adalah perjamuan Paskah antara Yesus dengan murid-murid-Nya bukan? Saya mencoba meletakkan kaki saya pada sepatu Kristus, tentu karena saya bukan Kristus apa yang saya katakan setelah ini adalah murni perasaan saya saja. Pada titik tersebut tentu Yesus tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi (ditangkap dan disalibkan). Dan dari pembicaraan Yesus dengan murid-murid-Nya, Ia bahkan memberikan petunjuk-petunjuk kecil pada mereka.
Markus 14:18 mecatat: Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku." Disini Yesus memberi pesan bahwa akan ada salah seorang murid yang akan mengkhianatiNya, yang mana Yudas menjawab seperti yang tercatat dalam Matius 26:25, Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."
Apa rasanya dikhianati oleh orang-orang terdekat yang kita kasihi dalam hidup kita? Saya sebagai manusia biasa, kemungkinan besar akan mendadak merasa hampa. Tidak sampai disana, dalam perjamuan tersebut, murid-murid malah berdebat, seperti yang tercatat pada Lukas 22:24, Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Murid-murid malah berfokus pada diri mereka ketimbang pada Yesus, padahal itu adalah perjamuan terakhir dengan Kristus.
Kembali kepada pengkhianatan, Yesus pun tahu bahwa Petrus yang paling lantang berucap "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (Lukas 22:33) adalah orang yang sama yang akan menyangkalNya tiga kali sebelum pagi tiba (Lukas 22:34). Kalau Kristus bukanlah Kristus, mungkin sudah tawarlah hatiNya.
Kemudian Kristus dan murid-murid-Nya pun pergi ke taman getsemani dimana Kristus hendak berdoa. Kristus pun mengajak mereka untuk menemani. Dalam Matius 26:38 dan Markus 14:34 Kristus berkata, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Ia sendiri pun melangkah sedikit lebih jauh untuk berdoa seorang diri (Lukas 22:41, Matius 26:39, Markus 14:35). Kristus yang sangat ketakutan bahkan berdoa hingga Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Lukas 22:44). Apa yang terjadi? Murid-murid-Nya sedang tertidur. Kalau saya ada disana sebagai Kristus, pasti hati saya sangat bercampur aduk rasanya. Bahkan pada Matius 26:40, Kristus berkata "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" Tiga kali Kristus berdoa, dan tiga kali didapatinya mereka sedang tidur. Saya yang hanya membaca kisah itu saja, seketika merasa bahwa Yesus mungkin merasa kesepian. Murid-murid-Nya tidak mengindahkan Dia, Bapa seakan-akan tidak menjawabNya (Matius 27:46), dan tidak ada tempat bagiNya untuk berbagi kegundahan hatiNya. Diceritakan juga dalam Markus 14:50 bahwa ketika Yesus hendak ditangkap semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri!
Lalu apa yang dapat saya pelajari dari kisah tersebut? Saya melihat sebuah reaksi yang berbeda dari Kristus. Manusia biasa akan cenderung melakukan hal-hal yang diluar dugaan ketika berada dalam keadaan dengan tekanan tinggi seperti itu, namun Kristus tetap tenang, dan percaya akan apa yang menjadi rancangan Allah Bapa, seperti yang dikatakan Kristus dalam doaNya: "Jadilah kehendak-Mu!"
Kristus tidak mempertanyakan Bapa. [Sebelum ada yang berdebat dengan mengatakan bahwa Kristus berseru seperti tercatat dalam Matius 27:46, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" yang Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Menurut saya, Yesus sedang melantunkan Mazmur Daud yang tercatat pada Mazmur 22:2. Ingat bahwa kitab Mazmur berisikan nyanyian puji-pujian.] Ia tetap mengerjakan apa yang diajarkanNya, yaitu mengasihi. Yesus pun masih sempat menyembuhkan telinga hamba Imam Besar yang putus ditebas oleh salah seorang murid sebelumnya (Lukas 22:51). Sepanjang pengadilan yang tidak adil, Yesus tidak melawan. Ia memikul salibNya sampai akhir tanpa mengeluh. Bahkan ketika Ia disalib dan orang-orang memperebutkan pakaianNya, Ia masih berkata "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Ketika kita mengalami perasaan kesepian, apa yang hendak kita lakukan? Maukah kita belajar dari teladan Kristus, dan memiliki iman yang teguh akan apa yang sudah direncanakan dan ditetapkan oleh Bapa? Sebab sesungguhnya Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13). Tuhan memberkati!
Comments