Secara umum kita tahu bahwa Kristen dianggap sebagai sebuah 'agama.' Menariknya, di dalam Alkitab, tidak ada catatan mengenai terbentuknya sebuah agama. Pemahaman konsep gereja pada masyarakat umum pun dewasa ini sudah bergeser jauh dari makna sebenarnya yang tercatat di dalam Alkitab. Bahkan diantara sesama pengikut Kristus pun seakan-akan memiliki paham dan pendapatnya masing-masing akan Firman Allah.
Belakangan entah mengapa saya mendapatkan cukup banyak konten mengenai apologetika (Ilmu sistematis yang mempertahankan dan menjelaskan iman dan kepercayaan Kristen) dalam bentuk perdebatan-perdebatan antar agama, bahkan intra agama. Dari sana saya 'tergelitik' melihat betapa intensnya perdebatan ini bisa terjadi. Ditengah keseruan saya 'menikmati' konten serupa, Tuhan menaruh sesuatu di dalam hati saya beberapa hari yang lalu lewat sebuah perikop Alkitab yang tercatat pada Roma 14:1-12 yang secara tiba-tiba muncul untuk saya baca di hari tersebut dengan judul perikop "Jangan menghakimi saudaramu."
Saya mencoba merenungkan akan Firman ini dab sadar akan beberapa hal yang membuat saya lebih aware dengan hal-hal yang selama ini tidak saya perhatikan tentang iman saya. Pada ayat pertama, terjemahan The Message memberikan saya perspektif yang lebih jelas, dimana dikatakan: Welcome with open arms fellow believers who don’t see things the way you do. And don’t jump all over them every time they do or say something you don’t agree with—even when it seems that they are strong on opinions but weak in the faith department. Remember, they have their own history to deal with. Treat them gently. Terkadang wajar bahwa orang-orang yang berbeda imannya berdebat untuk saling mempertahankan imannya masing-masing, namun yang menjadi ironis adalah ketika orang-orang yang sama-sama mengaku percaya kepada Kristus yang sama memperdebatkan pandangannya dengan begitu kerasnya hingga seakan-akan kasih itu hilang diantara mereka. Begitu tajamnya kalimat yang dipergunakan hingga kadang secara eksplisit menuduh lawan pendapatnya sebagai penyebar kesesatan. Yang paling membuat saya tergeleng-geleng adalah ketika semua ini dapat dengan mudah dilihat oleh banyak orang karena dipublikasikan secara rutin dan sengaja di media sosial.
Paulus dalam suratnya ini memberi contoh perdebatan yang muncul pada waktu itu ditengah-tengah jemaat Kristus di kota Roma, yaitu perdebatan tentang makanan dan perdebatan tentang hari yang dikuduskan. Saya rasa apa yang terjadi di masa itu, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Yang membedakan adalah perdebatan 'internal' antar sesama orang percaya saat ini lebih mudah menjadi konsumsi publik, baik sesama orang percaya maupun orang-orang lain yang belum mengenal Tuhan. Bukankah tujuan utama kita sebagai orang percaya adalah memperdengarkan kabar baik Tuhan kepada semua orang di dunia? Bukankah Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 18:19-20, Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Namun dibanding sepakat, ada pihak-pihak yang mungkin lebih memprioritaskan menyampaikan 'kebenaran' yang mereka anggap benar dan membuktikan bahwa orang-orang di luar sana adalah salah. Menariknya, biasanya orang-orang yang 'dikoreksi' di media sosial adalah tokoh-tokoh pendeta yang terkemuka. Entah melalui perkatannya (yang kadang-kadang diambil dari potongan rekaman sehingga entah dengan sengaja atau tidak menghilangkan sebagian atau keseluruhan konteks yang ada), konsumsi pribadinya, maupun perbuatannya.
Saya mengerti bahwa setiap dari kita adalah manusia dan sangat mungkin berbuat salah dalam kesehariannya. Ada kalanya tercetus kalimat yang kurang bijak, atau mungkin melakukan perbuatan yang tidak bijak dilihat oleh publik karena satu dan lain hal. Hal-hal tersebut mungkin mengganggu beberapa orang yang merasa memiliki pemikiran atau pemahaman yang lebih baik sehingga berinisiatif untuk 'menegur' para tokoh-tokoh terkemuka ini. Seringkali saya temukan bahwa teguran-teguran yang disampaikan secara publik ini menggunakan berbagai ayat-ayat Alkitab. Hal ini menjadi sebuah keadaan yang 'lucu' bagi saya pribadi, karena jika memang para penegur ini begitu menguasai Alkitab, mengapa mereka melewatkan Firman yang berkata, Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. (Matius 18:15-17)
Saya cukup ragu bahwa para penegur ini pernah melakukan apa yang Yesus ajarkan dengan mengajak bicara tokoh-tokoh yang mereka 'tegur' secara empat mata, yang saya lihat adalah mereka langsung melewati tahapan-tahapan awal yang diajarkan dan langsung masuk kepada tahapan akhir dengan menyampaikannya kepada jemaat. Akan hal ini saya menjadi sedikit bertanya-tanya akan tujuan dan latar belakang sesungguhnya dari apa yang mereka lakukan selama ini. Kembali kepada kitab Roma, sekali lagi terjemahan The Message akan ayat ke empat menjadi sebuah kalimat yang tajam, dimana dikatakan bahwa Do you have any business crossing people off the guest list or interfering with God’s welcome? If there are corrections to be made or manners to be learned, God can handle that WITHOUT YOUR HELP.
Terkadang kita sebagai manusia cenderung suka memperhatikan 'detail-detail' yang tidak perlu dan membuat kasih Allah di tengah kita menjadi dingin. Pada ayat 6-9 (The Message) juga dikatakan bahwa What’s important in all this is that if you keep a holy day, keep it for God’s sake; if you eat meat, eat it to the glory of God and thank God for prime rib; if you’re a vegetarian, eat vegetables to the glory of God and thank God for broccoli. None of us are permitted to INSIST on our own way in these matters. It’s God we are answerable to—all the way from life to death and everything in between—NOT EACH OTHER. That’s why Jesus lived and died and then lived again: so that he could be our Master across the entire range of life and death, and free us from the petty tyrannies of each other. Semua yang saya tulis ini tentunya tidak ditujukan kepada para netizen penegur tersebut, namun kepada saya pribadi. Khususnya sebagai seorang yang diperintahkan untuk menjalankan amanat agung Kristus, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:19-20) Jangan sampai apa yang saya pikirkan, katakan, dan lakukan malah menjadi pengajaran yang salah kepada orang-orang yang Tuhan percayakan sebagai murid di sekeliling saya.
Sejatinya perdebatan itu bertujuan untuk mendiskusikan atau lebih tepatnya memutuskan masalah dan perbedaan atas sesuatu hal dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bukankah hal tersebut tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan seorang hakim? Tuhan Yesus sendiri mengajarkan dalam Matius 7:1-5 tentang hal menghakimi, Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. Hal ini benar-benar menjadi peringatan akan saya supaya jangan sampai saya masuk dalam kategori orang munafik yang Yesus ceritakan ini.
Gembala di gereja lokal dimana saya tertanam seringkali mengajarkan bahwa kita harus menempatkan relasi yang baik di atas pendapat kita. Pendapat, pemahaman, dan pemikiran kita boleh berbeda, tapi tidak boleh merusak relasi kita. Maka tepatlah perikop "Jangan menghakimi saudaramu" diatas diterjemahkan sebagai "Cultivating Good Relationships" dalam terjemahan The Message. Bukankah kasih sebagai salah satu hukum yang terutama mengajarkan bahwa Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus 13:5-7) Setidaknya saya mengerti bahwa perbuatan menegur orang di khalayak ramai itu adalah tindakan yang melukai perasaan dan tidak sopan. Apakah Kristus hanya mengajarkan kita untuk sopan dan berlaku kasih kepada orang yang kita anggap pantas menerimanya? Ingat bahwa kita sejatinya tidak pantas menerima kasih Kristus sejak awal! Sekalipun orang yang kita ingin tegur pantas mendapatkan teguran itu, janganlah kita menjadi serupa orang yang berhutang sepuluh ribu talenta itu (Matius 18).
Ingat bahwa Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. (Roma 14:12) Dan ayat 13 (The Message) berkata Forget about deciding what's right for each other. Wajar bila manusia memiliki penafsiran yang berbeda-beda akan firman Allah, jika pun ada seseorang yang mampu memahami firman tersebut dengan sebenar-benarnya tanpa menyimpang sedikitpun dalam segala konteks, hanya Tuhan seorang yang mampu. Belum tentu apa yang kita anggap benar itu benar di mata Tuhan. Jangan sampai ketika kita sudah merasa melakukan semua yang 'benar', pada akhirnya Tuhan sendiri berkata bahwa Ia tidak mengenal kita dan menyebut kita sebagai pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23) Semoga apa yang saya pelajari ini bisa menjadi sebuah hikmat yang memberkati juga bagi setiap pribadi yang berkesempatan membacanya. Tuhan memberkati! (CBA)
Comments