Skip to main content

Menjadi anggota Gereja yang bijaksana

Beberapa waktu belakangan, saya cukup sering menerima tautan-tautan tentang pembahasan di media sosial tentang "style" dari beberapa orang yang memiliki label hamba Tuhan, begitu banyak pro dan kontra tentang hal ini. Ada juga yang membahas tentang bagaimana seharusnya organisasi gereja dan hamba Tuhan berlaku, hal ini juga menimbulkan banyak pro dan kontra yang "panas." Hal ini membuat saya cukup merenung, akan apa yang diperdebatkan oleh para netizen tersebut.

Hal pertama yang saya renungkan, malah bukan tentang apa yang diperdebatkan oleh mereka. Justru saya merenungkan tentang perdebatan itu sendiri. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Titus, berkata: Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka. (Titus 3:9) Dalam versi terjemahan The Message, Titus 3:8-11 Rasul Paulus berkata demikian: I want you to put your foot down. Take a firm stand on these matters so that those who have put their trust in God will concentrate on the essentials that are good for everyone. Stay away from mindless, pointless quarreling over genealogies and fine print in the law code. That gets you nowhere. Warn a quarrelsome person once or twice, but then be done with him. It’s obvious that such a person is out of line, rebellious against God. By persisting in divisiveness he cuts himself off.

Adalah wajar bahwa penafsiran ayat Alkitab antara satu orang dengan yang lainnya bisa berbeda-beda, namun bagi saya, apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus tidak hanya terbatas pada hukum taurat saja, tapi akan apa yang ada dalam Alkitab, mengingat pada masa itu Alkitab mayoritas terisi dengan hukum taurat, tidak ada surat-surat perjanjian baru seperti yang ada dalam Alkitab modern saat ini. Dikatakan bahwa percekcokan dan pertengkaran itu tidak berguna dan sia-sia belaka. Namun yang saya lihat justru para netizen, setidaknya sebagian dari mereka begitu menikmati perdebatan dan pertengkaran itu, dan saling serang untuk menentukan siapa yang paling benar diantara mereka. Dikatakan juga bahwa semua pertengkaran itu gets you nowhere, artinya kita tidak menjadi lebih benar, tidak menjadi lebih dekat, dan tidak menjadi semakin serupa dengan Tuhan seperti kehendak-Nya.

Kemudian saya mencoba melihat lebih jauh, sebenarnya apa yang mereka perdebatkan? Sekali lagi, saya tidak ingin masuk kedalam perdebatan. Saya hanya mencoba menggali bagi diri saya pribadi, apa yang bisa saya pelajari dari sana. Salah satu topik yang paling "panas" untuk dijadikan perdebatan adalah tentang gaya hidup dari para hamba Tuhan. Ada kalangan yang memiliki pemahaman iman bahwa para hamba Tuhan seharusnya hidup dengan "sederhana," dan menggunakan segala miliknya untuk pekerjaan Tuhan dibandingkan mengenakan begitu banyak "kemewahan" dunia. Ada juga kalangan lainnya yang berpendapat kalau hamba Tuhan yang kelewat "sederhana" malah sebenarnya bermasalah, karena tidak mendapatkan berkat dari Tuhan. Sederhananya, ada 'aliran' berkat dan ada 'aliran' kesederhanaan. Saking panasnya perdebatan hingga meruncing pada pandangan bahwa jangan-jangan para hamba Tuhan yang penuh berkat menggunakan dana persembahan dan persepuluhan dari jemaatnya untuk kepentingan pribadinya.

Terkait hal ini, saya kemudian mencari tahu apa sih yang Firman Tuhan katakan? Dari yang saya coba baca dari berbagai sumber, dan membaca setiap referensi yang bersumber dari Alkitab, saya menemukan ada 2 fakta yang utama dan harus dipahami secara keseluruhan, tidak bisa hanya salah satunya. Fakta pertama adalah Tuhan begitu mengasihi kita sebagai anak-Nya, oleh karenanya Tuhan mau memberkati kita dengan hidup penuh kelimpahan. Salah satu ayat yang sering kita dengar adalah Yohanes 10:10 yang berkata Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Tentu disini yang disebut berkelimpahan adalah hidup, dan tidak terbatas hanya pada harta materi saja. Hidup itu memiliki banyak faktor, ada waktu, ada kesehatan, ada kebahagiaan, ada orang-orang yang mengasihi kita, ada kebijaksanaan, dan juga materi untuk menunjang kehidupan di dalamnya. Selain itu ada firman Tuhan dalam Ulangan 8:18 yang berbunyi, Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Ayat ini juga seringkali disandingkan dengan Galatia 3:29, Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Rasul Paulus juga memiliki pengalaman pribadi tentang kelimpahan ini, dalam Filipi 4:18-19 ia mengatakan Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Disini Paulus memberi referensi, bahwa berkat yang diberikan Tuhan atas keperluan kita diberikan Tuhan sesuai standar kekayaan dan kemuliaan Tuhan, bukan manusia. Kita tentu bisa menafsirkan sendiri ukuran kaya dan mulia Tuhan sebagai pemilik alam semesta. 

Fakta kedua, adalah Tuhan tidak menghendaki kita untuk mengumpulkan harta di bumi, salah satu Firman Tuhan yang juga sangat sering kita dengar adalah pada Matius 6:19-21 dimana Yesus berkata: Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Ada juga tentang perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh pada Lukas 12:16-21, dimana diceritakan oleh Tuhan Yesus: Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." Kedua Firman ini mengajak kita untuk memiliki fokus yang benar, yaitu menjadi kaya di hadapan Allah, bukan menghabiskan energi kita untuk mengumpulkan materi di bumi. Rasul Paulus juga berkata 1 Timotius 6:10, Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Jadi, apakah Tuhan kontradiktif dengan apa yang Ia sampaikan? Saya rasa Tuhan tidak pernah kontradiktif akan hal ini, namun Tuhan mau kita memiliki keseimbangan yang tepat dengan fokus yang benar! Saya akan mengutip perkataan yang ditulis oleh Agur bin Yake dari Masa (Amsal 30). Agur berkata dalam Amsal 30:8-9 seperti berikut: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.  Saya belajar bahwa bukan harta materi-lah yang Tuhan tidak sukai, tapi sifat egois manusia yang selalu ingin memperkaya diri sendiri-lah yang Tuhan tidak sukai. Tuhan tidak alergi dengan manusia kaya, tapi Tuhan tidak mau kita menjadi orang kaya yang bodoh sehingga tidak tahu prioritas yang benar! Kalau memang Tuhan menghendaki salah satu diantara hamba Tuhan diberkati dengan kekayaan materi yang berlimpah, siapakah kita yang mempertanyakan kehendakNya? Bukankah Yesus sendiri pernah berkata, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Tuhan juga tidak mau kita benar-benar tidak mempunyai apapun, hingga kita mencemarkan nama Tuhan di mata orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Ingat bahwa dalam amanat agung, Tuhan mau kita bisa masuk dalam hidup semua orang dan memberitakan kabar baik bagi mereka, sekaligus mengajar mereka tentang cara hidup Kristus. Bagaimana seorang hamba Tuhan bisa masuk dalam hidup mereka jika mereka tidak berada di ketinggian pandangan yang sama? Adakah orang di lereng gunung bisa berkomunikasi langsung dengan baik dengan orang yang berada di puncak gunung? Maka jangan kita menghakimi orang-orang yang memang Tuhan tempatkan pada titik kelimpahan yang berbeda dari kita dengan maksud menjangkau orang-orang yang ada di kalangan tersebut. 

Sekalipun Tuhan menaruh hati untuk melayani orang-orang miskin di hati kita, apakah menjadi sama miskinnya dengan mereka adalah jalan keluar paling tepat untuk menjangkau hati mereka? Salah satu cara mengetuk hati orang yang belum mengenal pribadi Tuhan adalah dengan menjawab kebutuhan mereka sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh peduli atas hidup mereka. Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt pernah berkata, People don't care how much you know until they know how much you care. Salah satu cara menunjukkan perhatian dan kasih kita adalah dengan memberi dari apa yang kita miliki untuk menjawab kebutuhan mereka. Jika mereka membutuhkan waktu, beri waktu. Jika mereka membutuhkan bantuan tenaga, beri tenaga. Jika mereka membutuhkan uang untuk hidup, beri uang. Jika kita tidak memiliki apapun, apa yang bisa kita beri?

Kalaupun para hamba Tuhan itu ternyata menyalah gunakan persembahan dan persepuluhan jemaat hanya untuk memperkaya dirinya, apakah urusannya dengan kita? Tuhan Yesus pada Matius 7:1 dengan tegas berkata Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Kecuali bahwa hal itu memang terbukti terjadi, maka dengan hikmat yang Tuhan berikan kepada kita, tentu kita bisa mengelola dengan baik untuk memberi persembahan dan persepuluhan di tempat yang tepat dimana kita bertumbuh dengan penggembalaan yang benar. Terkadang hanya karena si hamba Tuhan memiliki hikmat yang baik dalam mengelola keuangan pribadinya, tanpa bukti yang jelas maka ia dituduh menggunakan dana gereja untuk keperluan pribadinya, hal ini sesungguhnya sangat tidak bijaksana. Jika memang kita memiliki kekhawatiran akan penyalah gunaan dana gereja, saya percaya bahwa setiap gereja memiliki kewajiban untuk mempunyai laporan keuangan rutin yang harus dapat dipertanggung jawabkan kepada setiap orang yang meminta dengan terbuka, khususnya jemaat dan sinode.

Lalu tentang pendapat beberapa orang tentang memberi persembahan atau persepuluhan ke gereja-gereja kecil yang kelihatan lebih membutuhkan dibandingkan gereja-gereja besar yang sudah terkenal. Bagi saya pribadi, kita diberi kebebasan untuk menentukan sebuah rumah rohani dimana kita tertanam dan bertumbuh. Akan lebih bijaksana rasanya jika kita merasa bahwa ada organisasi gereja lain yang lebih membutuhkan kita, kita bisa sekaligus pindah kesana untuk tertanam dan berbuah disana, bukan cuma hanya uang kita saja yang ada disana. Saya percaya setiap organisasi gereja sudah memiliki pemimpin sendiri yang Tuhan ijinkan untuk berada disana, dan setiap pemimpin tentu memiliki kapasitasnya masing-masing. Tidak semua perkumpulan jemaat (gereja) memiliki ukuran yang sama. Gereja dengan ukuran yang berbeda memiliki kebutuhan dan beban pekerjaan pelayanan yang berbeda juga besarannya. Tidak mungkin Tuhan membebankan pelayanan untuk membangun gedung gereja bagi jemaat gereja di daerah lain yang membutuhkan kepada organisasi gereja yang hanya memiliki 100 jemaat, bukan? 1 Korintus 12:5 berkata, Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Rasul Paulus juga berkata pada ayat 17, Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Dan supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (Ayat 25-27)

Terus selidiki ketulusan hati dan motivasi kita, terutama dalam melayani dan memberi, sebab dikatakan: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7) Memberi persembahan atau persepuluhan janganlah karena merasa 'disuruh' oleh Firman Tuhan, tapi datang dari hati kita yang tulus bahwa apa yang kita miliki adalah milik Tuhan sepenuhnya, bahwa berapapun yang kita bisa berikan dengan hati yang tulus adalah besar signifikansinya di mata Tuhan. Itulah mengapa persembahan janda miskin yang dikatakan berasal dari kekurangannya (Markus 12:41-44) dianggap jauh lebih besar dibanding persembahan orang yang memberi hanya dari kelimpahannya. Bukan berarti pemberian orang yang kaya tidak berarti, namun disana Tuhan mengajari kita bahwa semua orang lebih mudah memberi dalam keadaan yang berlimpah, namun tidak semua orang memiliki hati yang tulus untuk memberi dalam rasa kekurangannya.

Saya percaya semua pihak yang berdebat tadi sebenarnya sama-sama memiliki hati untuk Kristus. Namun, jadilah pribadi yang bijak dalam mencerna Firman Tuhan. Renungkan secara tenang dengan fokus pada kehendak Tuhan maka sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan diantara manusia. Tuhan Yesus memberkati! (CBA)

Comments