Skip to main content

Mempergunakan penglihatan dan waktu dengan benar

Percaya atau tidak, banyak dari karakter dan kebiasaan yang kita miliki sekarang adalah hal yang diwariskan oleh orang tua kita. Hal ini identik dengan peribahasa bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Yang menarik, bukan apa yang diwariskan, namun bagaimana karakter dan kebiasaan itu diwariskan. Meskipun sebagian karakter tersebut diwariskan dari DNA, namun sebagian karakter dan hampir semua kebiasaan yang diwariskan ternyata diwariskan dengan 'tidak sengaja.'

Kita sering melihat bahwa ketika seorang teman kita adalah seorang pemarah, ada kemungkinan besar bahwa salah satu atau kedua orang tuanya juga adalah pemarah. Pertanyaannya, apakah mereka dengan sengaja mengajarkan anaknya untuk menjadi pemarah? Lalu darimana si anak 'mempelajari' karakter pemarah atau kebiasaan meluapkan emosinya dengan tidak terkendali? Menurut saya, hampir pasti karena si anak begitu sering melihat apa yang orang tuanya lakukan selama bertahun-tahun. Jadi dapat disimpulkan, apa yang sering kita lihat secara konsisten dan dalam jangka waktu yang panjang, dapat mempengaruhi hidup kita secara signifikan. Menariknya, pada zaman modern ini ada pengajar serupa yang secara tidak sadar sering kita lihat setiap hari. Ada suatu hal yang menyita perhatian kita dengan begitu luar biasanya dan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang secara sadar maupun tidak sadar kita lakukan secara terus menerus. Smartphone.

Jika kita terbiasa memeriksa smartphone kita tiga kali dalam satu jam, dan asumsikan secara rata-rata minimal kita menghabiskan lima menit dalam setiap kesempatan. Artinya rata-rata hingga 6 jam atau 25% dari satu hari sudah kita habiskan hanya untuk memperhatikan smartphone kita. Jika rata-rata manusia dapat hidup sampai usia 70 tahun, dan mengingat bahwa di masa ini balita pun sudah terbiasa menggunakan smartphone, maka dengan persentase yang sama artinya kemungkinan besar hampir 18 tahun dari umur kita, akan kita habiskan untuk memperhatikan smartphone yang kita miliki. Ini belum termasuk layar gadget lainnya yang terkoneksi pada internet. Signifikan bukan?

Jika kita aplikasikan konsep yang sama bahwa apa yang kita lihat secara konsisten dan dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi karakter dan kebiasaan kita, bayangkan jika sebenarnya mayoritas dari apa yang kita lihat di smartphone kita adalah hal-hal yang negatif. Kemungkinan besar apa yang kita lihat membuat kita seringkali merasakan emosi negatif seperti iri hati, kecemasan/ketakutan, dan memancing perkataan yang sia-sia. Hasil akhirnya, kita menjadi orang yang negatif juga.

Mungkin ada yang berargumentasi bahwa kita bisa selektif untuk melihat konten yang ada di internet. Tentu saya setuju, saya bahkan setuju bahwa smartphone memungkinkan manusia untuk melakukan hal-hal luar biasa yang sebelumnya sulit dilakukan. Namun masalahnya terkadang kita salah dalam menilai konten dunia. Ingat bahwa tidak semua hal yang positif mampu kita sikapi dengan benar. Konten yang mengajak kita untuk berinvestasi adalah hal yang positif, namun jika kita menghabiskan berjam-jam setiap harinya melihat konten seperti itu namun tidak melakukan apapun, apakah gunanya hal itu?

Kembali kepada signifikansi waktu yang kita habiskan, Rasul Paulus pernah berkata dalam Efesus 5:15-16, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Kata pergunakan waktu yang ada dapat diterjemahkan sebagai making the most of every opportunity (NIV Version) atau make every minute count (CEV Version). Ketika kita menghabiskan waktu kita dengan memperhatikan smartphone sedangkan ada hal-hal lain yang lebih perlu kita lakukan bukankah kita sudah keluar dari apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan kepada kita? Berapa banyak diantara kita yang seringkali memperhatikan smartphone hingga larut malam padahal kita perlu beristirahat dengan cukup? Yang pada akhirnya keputusan ini harus kita bayar dengan energi yang rendah ketika keesokan hari kita bangun pagi dan merasa ngantuk pada siang hari ketika seharusnya kita bekerja atau belajar dengan produktif?

Rasul Paulus pernah berkata di Roma 8:29-30, Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Jika kita ditentukan atau diharapkan untuk menjadi serupa dengan Kristus sebagai teladan kita, maka dengan pola pikir yang sama pula bahwa bentuk diri kita/karakter kita akan banyak dipengaruhi oleh apa yang kita lihat secara konsisten dalam jangka panjang, apakah kita sudah cukup banyak 'melihat' Kristus? Bagaimana 'melihat' Kristus? Firman Tuhan pada Yohanes 1:1 berkata, Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Manakah yang lebih sering kita lihat, Firman Tuhan yang memberi makan roh kita pada smartphone kita atau hal-hal dunia yang begitu menarik dan menyenangkan jiwa kita?

Tentu pilihan ini tidak mudah, sesuai dengan apa yang Kristus ajarkan dalam Matius 7:13-14, Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. Logika yang sama seharusnya membuat kita ingat bahwa semakin sering kita melihat dunia, semakin kita akan menjadi serupa dengan dunia, dimana diajarkan kepada kita: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2).

Firman ini menjadi teguran dan pengingat yang sangat relevan dengan kehidupan saya sehari-hari, terutama dalam hal mengelola waktu dengan baik ketika menggunakan smartphone, mengonsumsi materi yang benar lewat semua gadget yang saya miliki, serta mempraktekkan kebenaran yang sudah saya pelajari tersebut supaya tidak menjadi sia-sia. Saya percaya Tuhan bisa juga menggunakan gadget untuk berkomunikasi dengan kita, bukankah Dia Tuhan yang dapat melakukan apapun juga? Kuncinya adalah bagaimana kita lewat membangun hubungan yang dekat dengan-Nya mampu membedakan manakah kehendah Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna! Tuhan memberkati. (CBA)

Comments