Skip to main content

Kristen? Atau Pengikut Kristus?

Saya ingin memulai tulisan hari ini dengan dua pertanyaan, yang pertama adalah "Mengapa anda memutuskan untuk memeluk agama Kristen?" Dan yang kedua adalah "Mengapa anda memutuskan menjadi pengikut Kristus?" Saya titik beratkan pada kata memutuskan. Saya percaya bahwa para pembaca tulisan ini sudah cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu bagi diri kita sendiri secara independen.

Mungkin sebagian bingung dengan kedua pertanyaan yang kelihatannya serupa ini, tapi sebenarnya kedua hal ini adalah dua hal yang sejatinya sangat berbeda secara prinsip. Keputusan untuk memeluk sebuah agama sebenarnya adalah sebuah keputusan yang membuat kita masuk dalam kalangan komunitas tertentu. Ketika kita sudah masuk dalam komunitas itu, maka kita akan mendapatkan 'label' keanggotaan yang akan melekat pada diri kita, mungkin kita diberikan kartu keanggotaan, atau bisa jadi kita melakukan perubahan kecil pada Kartu Tanda Penduduk yang kita miliki. Setelahnya, kita berharap akan mendapatkan akses terhadap keuntungan-keuntungan yang ditawarkan atau dijanjikan oleh komunitas tersebut, misalnya berkat, damai sejahtera, calon pasangan hidup yang lebih baik, penghargaan, pengajaran, dan berbagai hal-hal positif lainnya. Tentu tidak ada yang salah dalam hal ini. Bukankah ini adalah pola pikir yang sama ketika kita memutuskan untuk mendaftar pada perguruan tinggi/sekolah tertentu? Hal yang sama ketika kita memutuskan untuk masuk dalam organisasi/club tertentu? Tentu untuk menjaga 'keanggotaan' dalam komunitas tersebut ada kewajiban untuk melakukan usaha 'minimal' untuk menjaga keaktifan, atau kita akan dikeluarkan dari keanggotaannya. Namun jika kewajiban tersebut kita rasa membebani dan mengganggu kenyamanan hidup kita, umumnya kita cenderung memiliki untuk keluar secara sukarela dari komunitas tersebut dan mencari komunitas lainnya yang menawarkan keuntungan serupa namun dengan kewajiban yang lebih mudah dilakukan.

Kata Kristen sebenarnya adalah sebuah kata yang disematkan oleh orang-orang Yunani di kota Antiokhia (Kisah Para Rasul 11:26) kepada Barnabas dan Saulus dari Tarsus (Paulus) dan kumpulan jemaat (orang-orang percaya) yang mereka ajar disana. Tentu artinya kata Kristen berasal dari bahasa Yunani Χριστιανός (Christianos), yang berarti "Pengikut Kristus." Saking berbeda dan berdampaknya kumpulan jemaat pada masa itu, hingga orang-orang Yunani di kota tersebut (saya berasumsi disini adalah masyarakat umum) memberi referensi khusus yang sebelumnya tidak pernah ada. Ini adalah bukti bahwa apa yang jemaat mula-mula lakukan secara NYATA begitu menyerupai apa yang selama ini Yesus Kristus lakukan semasa Ia hidup. Apa yang jemaat mula-mula lakukan pada saat itu tentu berdasarkan pada pengajaran yang diturunkan oleh para Rasul, dan tentu saja belum ada label keanggotaan pada jemaat mula-mula. Semua jemaat melakukan apa yang mereka anggap benar, bahkan tanpa keuntungan yang nyata. Ingat bahwa sesungguhnya apa yang jemaat mula-mula lakukan bersama-sama dengan para rasul ditolak dan dianiaya oleh sejumlah banyak orang (Kisah Para Rasul 8:1-3), dimana Stefanus mati dilempari batu (Kisah Para Rasul 7:57-58), dan Yakobus dibunuh untuk menyenangkan hati orang Yahudi (Kisah Para Rasul 12:2-3) Berulang kali para pengikut Kristus ini harus mengalami perburuan sadis dari para Kaisar Romawi yang tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, mulai dari jaman pemerintahan Kaisar Nero (54 - 68M) hingga Diocletian (284-305 M). Apa sebenarnya keseharian dari para jemaat mula-mula sehingga mereka dianggap begitu berbeda dan layak dianggap sebagai pengikut Kristus? Ada beberapa hal yang menjadi ciri para pengikut Kristus ini yang tercatat dalam Alkitab.

Pertama, mereka menjaga kedekatan relasi mereka lewat apa yang mereka lakukan bersama dengan sukacita dan penuh rasa syukur. Kisah Para Rasul 2:42 berkata bahwa Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Pada ayat 46-47 juga dikatakan bahwa Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Pada masa modern ini, setidaknya di ibukota dimana saya tinggal, tidak mudah rasanya menemukan pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh mempraktekkan ketekunan rohani ini dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Manusia modern cenderung asik dengan kesibukan mereka masing-masing, bahkan sering dikatakan bahwa manusia modern sekarang cenderung lebih individualis dan egois. Jemaat mula-mula saat itu tidak hanya penuh sukacita, tapi mereka begitu terbuka akan satu sama lain hingga dikatakan bahwa mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hatisambil memuji Allah. Menurut saya, para jemaat tentu memiliki latar belakang hidup dan finansial yang berbeda-beda bukan? Tapi mereka bisa mengunjungi rumah satu sama lain terlepas dari perbedaan tingkat kehidupan secara bergilir dengan gembira dan tulus hati menjadi sebuah hal yang begitu indah dalam bayangan pikiran saya. Bahkan mereka disukai oleh semua orang (termasuk orang-orang yang belum percaya). Berapa banyak sekarang orang yang berlabel 'Kristen' malah menjadi batu sandungan dan karena perbuatan yang tidak benar menjadi dibenci oleh orang-orang yang belum mengenal Kristus? Kekuatan relasi yang mereka bangun juga dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 5:12-13, diceritakan bahwa oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak. Saking 'berbeda'nya para jemaat tersebut, orang lain tidak berani menggabungkan diri. Sangat berbeda di masa ini, dimana justru orang-orang dengan label Kristen justru takut untuk menjadi 'berbeda' di mata dunia.

Kedua, mereka hidup saling berbagi dalam kasih dan kesehatian. Kisah Para Rasul 4:32-35 mencatat, Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Value saling memberi dan melayani ini adalah sebuah value utama yang membuktikan kasih, karena kita bisa saja memberi tanpa mengasihi, namun kita tidak mungkin mengasihi seseorang tanpa memberi apapun dari diri kita. Tentu pemberian ini tidak melulu bicara tentang materi namun juga berbicara tentang tenaga, waktu, dan perhatian. Juga dikatakan bahwa mereka semua hidup dalam kasih karunia, artinya satu sama lain tidak menimbang-nimbang, seberapa layak orang lain menerima pemberiannya.

Perhatikanlah bahwa kalimat-kalimat yang berbunyi "dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah 2:47), "Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan," (Kisah 5:14) diletakkan setelah menceritakan apa yang telah dilakukan para jemaat, bukan apa yang dilakukan para rasul secara khusus. Ini membuktikan bahwa para jemaat juga mempraktekkan apa yang Yesus perintahkan sebelum Ia terangkat, "... pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu..." (Matius 28:19-20) Dan jika kita membaca keseluruhan kitab Kisah Para Rasul, kita akan menemukan begitu banyak nama-nama baru diluar kedua belas rasul yang mula-mula dalam pekerjaan iman mereka. Jadi jika ada anggapan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memberitakan Injil, maka ini adalah sebuah pemikiran yang salah besar. Mustahil dengan hanya dua belas orang dapat mengubah begitu banyak orang dalam waktu sesingkat itu.

Jadi kembali kepada pertanyaan awal tadi, dimana saya mulai mengingatkan diri saya sendiri, apakah saya seorang dengan label Kristen semata, ataukah pribadi yang sungguh-sungguh hendak menjadi Pengikut Kristus? Semoga perenungan ini juga dapat memberikan dampak yang baik kepada pembaca. Tuhan memberkati! (CBA) 

Comments