Pernah gak sih kamu merasa bahwa hidup seakan-akan banyak masalah? Mulai dari rencana-rencana yang tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, adanya orang-orang yang menyusahkan kita, ditinggalkan orang yang kita kasihi, sakit penyakit, kesulitan keuangan, kesepian, perasaan tidak ada orang yang mengerti tentang kebutuhan kita, dan banyak hal-hal lainnya yang membuat kita merasa kesal, sedih, ataupun kecewa. Seringkali hal-hal tersebut membuat kita merasa kehilangan damai sejahtera, dan mulai bertanya-tanya, di mana sih Tuhan? Atau apa ya salah kita sehingga Tuhan menimpakan semuanya itu terhadap kita?
Yang paling mengesalkan, pada waktu kita butuh diperhatikan atau ditolong, justru ada orang-orang yang tidak peka yang menghujani kita dengan nasihat atau komentar menggurui yang membuat kita jadi semakin tidak nyaman dengan keadaan kita, apalagi kalau nasihat-nasihat yang diberikan disertai dengan ayat-ayat Firman Tuhan yang panjang lebar. Ujung-ujungnya kan kita menjadi malas untuk bertemu dengan orang lain dan memilih untuk menghabiskan waktu seorang diri saja. Kita juga akhirnya menjadi malas pergi beribadah, apalagi datang ke komunitas sel.
Manusia seringkali berharap ada pertolongan atau mujizat ketika mereka sedang menghadapi hal-hal sulit atau tidak menyenangkan. Mana lebih mudah, berharap batu penghalang di depan kita tiba-tiba menghilang atau memutuskan untuk berlatih memanjat batu yang ada di hadapan kita untuk melewatinya? Kita umumnya lebih sering mengharapkan ada perubahan yang terjadi di luar sana dibanding mengubah cara kita dalam beradaptasi terhadap masalah atau tantangan yang muncul di hadapan kita.
Kalau kita melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebenarnya apa yang kita anggap sebagai masalah atau tantangan yang harus kita hadapi bukanlah masalah sesungguhnya. Masalah sesungguhnya dari kita sebagai manusia, adalah respon kita terhadap hal-hal yang muncul di depan kita sebagai penghalang. Kita seringkali membiarkan emosi menguasai respon kita terhadap masalah tersebut.
Dalam keadaan di mana kita dikuasai oleh emosi, biasanya kita tidak menyadari dan bahkan mengabaikan semua pertolongan yang disediakan Tuhan. Kita seringkali punya ekspektasi sendiri tentang cara Tuhan menolong kita, padahal di dalam firman-Nya banyak sekali sebenarnya jalan keluar yang sudah Tuhan sediakan untuk segala keadaan. Misalnya ketika kita marah karena dijahati atau dicurangi oleh orang lain, Alkitab mencatat bahwa Daud dalam posisi yang sama berkata dalam Mazmur 37:7-8, Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Dalam keadaan kita menghadapi banyak kegagalan, firman-Nya sejak awal sudah berkata dalam Amsal 19:21, Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Jangan sampai ketika masalah terjadi, kita sibuk dengan apa yang kita rasakan dan justru melupakan Tuhan, padahal Petrus mengajarkan kita dalam 1 Petrus 4:7, Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Ketika kita kesal saat rencana-rencana kita gagal terwujud, Firman Tuhan seharusnya menjadi sebuah penyemangat sekaligus pengingat bahwa Tuhan belum mengijinkan keinginan kita terjadi sesuai yang kita mau, karena sesunguhnya Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari apa kita pikirkan, dimana dalam Yesaya 55:8-9 Tuhan berfirman, Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Nah, terlepas dari adanya mungkin beberapa orang-orang yang rasanya terlalu menggurui dan kurang menolong, kita sesungguhnya tetap membutuhkan banyak semangat dan dorongan yang positif dari orang-orang yang tepat pada komunitas yang benar, seperti yang Rasul Paulus ajarkan dalam Ibrani 10:24-25, Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Orang-orang yang tepat selalu akan berusaha menyemangati kita dengan benar, tidak malah membenarkan pemikiran-pemikiran kita yang penuh emosi negatif. Ingat bahwa proses melewati masalah itu sama seperti proses kita melewati ujian akhir kelulusan atau kenaikan kelas dulu, penuh ketegangan, membuat pikiran lelah, dan bahkan menguras tenaga.
Beberapa dekade yang lalu, diantara kalangan orang-orang percaya sempat muncul sebuah trend dengan tema "What Would Jesus Do?" Pada masa itu banyak orang mengenakan baju, gelang, atau aksesoris lainnya dengan tulisan seperti itu, tujuannya untuk mengingatkan mereka, ketika Tuhan Yesus mengalami hal yang sama dengan yang sedang terjadi di hadapan mereka, kira-kira apa yang akan Tuhan Yesus lakukan? Harapannya, kesadaran ini akan membuat kita berhenti sejenak sehingga memudahkan kita dalam menguasai diri sepenuhnya sebelum memberikan respon yang tepat terhadap segala hal yang dunia lemparkan kepada kita sesuai dengan teladan yang telah Yesus berikan.
Saya percaya bahwa masa-masa melewati ujian adalah pengalaman tidak mudah, terkadang kita perlu gagal dan mengulang kembali ujian yang sama berkali-kali hingga kita bisa mengerti kunci untuk melewatinya, namun jangan kita kecil hati dan menyerah akan keadaan. Amsal 24:16 berkata Sebab tujuh kali orang benar jatuh, tetapi ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Semakin lama dan berat tekanan dari proses yang perlu kita alami akan membawa kualitas kita semakin tinggi. Setiap zat karbon yang berhasil melewati tekanan tinggi dan panas dari inti bumi dalam waktu yang lama akan menjadi berlian dengan tingkat kekerasan terbaik dengan valuasi yang tinggi. Setiap pukulan-pukulan yang berhasil dilewati oleh sebongkah besi baja dalam panasnya perapian akan membuat kualitas pedang semakin murni, kuat dan tajam. Kalau dalam menempa pedang ada resiko di mana pedang akan patah jika gagal menerima tempaan, kita justru tidak perlu takut, sebab Tuhan sudah berjanji dalam 1 Korintus 10:13 bahwa Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Jadi, saat ini masalah apa yang sedang kamu hadapi? Mintalah tuntunan Tuhan agar kita dapat berespon dengan benar dalam menghadapi apapun yang sedang dan harus kita hadapi. Tuhan Yesus memberkati!
Yang paling mengesalkan, pada waktu kita butuh diperhatikan atau ditolong, justru ada orang-orang yang tidak peka yang menghujani kita dengan nasihat atau komentar menggurui yang membuat kita jadi semakin tidak nyaman dengan keadaan kita, apalagi kalau nasihat-nasihat yang diberikan disertai dengan ayat-ayat Firman Tuhan yang panjang lebar. Ujung-ujungnya kan kita menjadi malas untuk bertemu dengan orang lain dan memilih untuk menghabiskan waktu seorang diri saja. Kita juga akhirnya menjadi malas pergi beribadah, apalagi datang ke komunitas sel.
Manusia seringkali berharap ada pertolongan atau mujizat ketika mereka sedang menghadapi hal-hal sulit atau tidak menyenangkan. Mana lebih mudah, berharap batu penghalang di depan kita tiba-tiba menghilang atau memutuskan untuk berlatih memanjat batu yang ada di hadapan kita untuk melewatinya? Kita umumnya lebih sering mengharapkan ada perubahan yang terjadi di luar sana dibanding mengubah cara kita dalam beradaptasi terhadap masalah atau tantangan yang muncul di hadapan kita.
Kalau kita melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebenarnya apa yang kita anggap sebagai masalah atau tantangan yang harus kita hadapi bukanlah masalah sesungguhnya. Masalah sesungguhnya dari kita sebagai manusia, adalah respon kita terhadap hal-hal yang muncul di depan kita sebagai penghalang. Kita seringkali membiarkan emosi menguasai respon kita terhadap masalah tersebut.
Dalam keadaan di mana kita dikuasai oleh emosi, biasanya kita tidak menyadari dan bahkan mengabaikan semua pertolongan yang disediakan Tuhan. Kita seringkali punya ekspektasi sendiri tentang cara Tuhan menolong kita, padahal di dalam firman-Nya banyak sekali sebenarnya jalan keluar yang sudah Tuhan sediakan untuk segala keadaan. Misalnya ketika kita marah karena dijahati atau dicurangi oleh orang lain, Alkitab mencatat bahwa Daud dalam posisi yang sama berkata dalam Mazmur 37:7-8, Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Dalam keadaan kita menghadapi banyak kegagalan, firman-Nya sejak awal sudah berkata dalam Amsal 19:21, Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Jangan sampai ketika masalah terjadi, kita sibuk dengan apa yang kita rasakan dan justru melupakan Tuhan, padahal Petrus mengajarkan kita dalam 1 Petrus 4:7, Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Ketika kita kesal saat rencana-rencana kita gagal terwujud, Firman Tuhan seharusnya menjadi sebuah penyemangat sekaligus pengingat bahwa Tuhan belum mengijinkan keinginan kita terjadi sesuai yang kita mau, karena sesunguhnya Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari apa kita pikirkan, dimana dalam Yesaya 55:8-9 Tuhan berfirman, Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Nah, terlepas dari adanya mungkin beberapa orang-orang yang rasanya terlalu menggurui dan kurang menolong, kita sesungguhnya tetap membutuhkan banyak semangat dan dorongan yang positif dari orang-orang yang tepat pada komunitas yang benar, seperti yang Rasul Paulus ajarkan dalam Ibrani 10:24-25, Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Orang-orang yang tepat selalu akan berusaha menyemangati kita dengan benar, tidak malah membenarkan pemikiran-pemikiran kita yang penuh emosi negatif. Ingat bahwa proses melewati masalah itu sama seperti proses kita melewati ujian akhir kelulusan atau kenaikan kelas dulu, penuh ketegangan, membuat pikiran lelah, dan bahkan menguras tenaga.
Beberapa dekade yang lalu, diantara kalangan orang-orang percaya sempat muncul sebuah trend dengan tema "What Would Jesus Do?" Pada masa itu banyak orang mengenakan baju, gelang, atau aksesoris lainnya dengan tulisan seperti itu, tujuannya untuk mengingatkan mereka, ketika Tuhan Yesus mengalami hal yang sama dengan yang sedang terjadi di hadapan mereka, kira-kira apa yang akan Tuhan Yesus lakukan? Harapannya, kesadaran ini akan membuat kita berhenti sejenak sehingga memudahkan kita dalam menguasai diri sepenuhnya sebelum memberikan respon yang tepat terhadap segala hal yang dunia lemparkan kepada kita sesuai dengan teladan yang telah Yesus berikan.
Saya percaya bahwa masa-masa melewati ujian adalah pengalaman tidak mudah, terkadang kita perlu gagal dan mengulang kembali ujian yang sama berkali-kali hingga kita bisa mengerti kunci untuk melewatinya, namun jangan kita kecil hati dan menyerah akan keadaan. Amsal 24:16 berkata Sebab tujuh kali orang benar jatuh, tetapi ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. Semakin lama dan berat tekanan dari proses yang perlu kita alami akan membawa kualitas kita semakin tinggi. Setiap zat karbon yang berhasil melewati tekanan tinggi dan panas dari inti bumi dalam waktu yang lama akan menjadi berlian dengan tingkat kekerasan terbaik dengan valuasi yang tinggi. Setiap pukulan-pukulan yang berhasil dilewati oleh sebongkah besi baja dalam panasnya perapian akan membuat kualitas pedang semakin murni, kuat dan tajam. Kalau dalam menempa pedang ada resiko di mana pedang akan patah jika gagal menerima tempaan, kita justru tidak perlu takut, sebab Tuhan sudah berjanji dalam 1 Korintus 10:13 bahwa Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Jadi, saat ini masalah apa yang sedang kamu hadapi? Mintalah tuntunan Tuhan agar kita dapat berespon dengan benar dalam menghadapi apapun yang sedang dan harus kita hadapi. Tuhan Yesus memberkati!
Comments