Salah satu kesulitan yang dialami manusia selama hidupnya adalah tentang kekhawatiran. Hal tentang kekhawatiran itu mudah diberikan obatnya, namun sulit untuk disembuhkan.Hampir semua orang yang mengaku percaya kepada Yesus minimal pernah mendengar pengajaran tentang kekhawatiran. Salah satu pengajaran yang paling terkenal tentang kekhawatiran adalah khotbah Yesus di bukit.
Hal kekhawatiran sejatinya dapat dialami oleh siapapun, tidak terkecuali orang-orang yang berkecukupan, berpendidikan, maupun memiliki kekuasaan yang besar. Tidak ada seorangpun yang sesungguhnya dapat lari dari ujian ini. Kekhawatiran adalah beban paling besar yang membuat manusia kehilangan semangat positif, kekhawatiran akan mendorong kita untuk terus menebak-nebak hal negatif yang akan muncul di hadapan kita. Seperti yang dikatakan dalam Amsal 12:25, Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. Namun, yang membedakan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus adalah jalan keluarnya sudah diberikan kepada kita sejak saat kita mengaku percaya dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Bukankah Ia berkata, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28). Daud juga berkata dalam Mazmur 55:22, Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. Dan masih banyak sekali ayat-ayat Alkitab yang mengajarkan kita untuk tidak khawatir akan segala hal sebab Tuhan menyertai kita senantiasa.
Namun, ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut, tidak semua orang yang percaya kepada Tuhan bebas dari penyakit ini. Saya menemukan dalam Ayub 20:22,29 salah satu sahabat Ayub, Zofar berkata, Dalam kemewahannya yang berlimpah-limpah ia penuh kuatir; ia ditimpa kesusahan dengan sangat dahsyatnya..... Itulah ganjaran Allah bagi orang fasik, milik pusaka yang dijanjikan Allah kepadanya. Meskipun pada konteksnya ayat ini mensuratkan tuduhan Zofar kepada Ayub atas segala kemalangan yang dialaminya, saya merasa bahwa secara netral pola pikir yang disampaikan dalam ayat ini ini ada benarnya, hanya saja Zofar gagal memahami bahwa Ayub sebenarnya bukanlah orang fasik. Di sisi lain, Alkitab mencatat dimana Yesus juga berkata dalam Matius 13 tentang perumpamaan tentang seorang penabur, bahwa ada kategori tanah yang penuh dengan semak duri yang ciri-cirinya dinyatakan dalam Matius 13:22, Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Definisi yang Yesus berikan tentang orang yang mendengar firman namun tidak berbuah sesungguhnya sama dengan definisi orang fasik, yaitu orang yang mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Tuhan namun tidak melakukan kehendak Tuhan karena sulit meninggalkan praktek dosa (dunia), bahkan melakukan dosa dianggap adalah hal yang biasa, karena banyak orang lain melakukannya (walaupun mereka belum tentu melakukan dosa tersebut). Orang-orang dalam kategori ini tidak memiliki kedekatan dengan Tuhan, dan karena mereka jauh mereka lalu mudah khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara dunia. Mereka tidak mengenal siapa Tuhan dan tidak mengenal apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Bapa. Tuhan itu ada namun jauh.
Salah satu contoh yang ada dalam Alkitab adalah tentang Maria dan Marta. Pada Lukas 10 diceritakan bahwa Yesus mengunjungi rumah mereka, Maria duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Lukas 10:39) sedangkan Marta sibuk sekali melayani (Lukas 10:40). Tuhan Yesus sendiri berkata kepada Marta pada Lukas 10:41-42, "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Kedua jenis pribadi ini, pada perjalanan hidupnya tetap akan mendapatkan masalah dan kemalangan, namun memiliki hasil akhir yang berbeda. Yohanes 11 mengisahkan kejadian tersebut, dimana Lazarus, saudara dari Maria dan Marta sakit yang kelihatannya cukup berat hingga hampir mati, karena ketika penyakit menimpa Lazarus, Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus (Yohanes 11:3). Pada akhirnya Lazarus pun mati, dan ketika Yesus tiba di kota Betania, ia sudah dikuburkan selama empat hari lamanya. Saat Marta bertemu Yesus, kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." (Yohanes 11:21-22). Pada ayat 27 bahkan Marta berkata, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Ada perbedaan signifikan ketika Maria bertemu Yesus, meskipun kedua pertemuan itu diawali oleh percakapan yang kurang lebih sama, dimana Maria juga berkata "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." (Yohanes 11:32) respon yang Yesus berikan berbeda, yang menurut saya berasal dari perbedaan tingkat kedekatan Maria dimana Yesus "moved in spirit" dan ikut terharu dan menangis (Yohanes 11:33-35). Setelah itu Yesus pun tergerak untuk melakukan sesuatu. Ia pun mengunjungi kubur Lazarus dengan maksud untuk meminta Allah untuk membangkitkannya. Disinilah perbedaan Marta, sebab saat Yesus berkata: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." (Yohanes 11:39) Meskipun Marta berkata bahwa ia percaya, sesungguhnya karena ia tidak mengenal Yesus, ia tidak mengerti apa yang hendak dilakukan-Nya dan menilai segala sesuatu dengan pemikirannya sendiri, sehingga ia tidak berpikir bahwa Yesus hendak melakukan mujizat bagi dirinya. Bagi saya, ada unsur kekhawatiran dalam kalimat Marta, ia khawatir akan dampak negatif yang mungkin muncul saat pintu kubur Lazarus diangkat. Sedangkan Maria tidak tercatat mengatakan apapun atas inisiatif Yesus.
Jangan sampai kita masuk dalam jebakan kehidupan seperti Marta dan membangun tembok antara Tuhan dengan kita dalam relasi sehingga kita tidak dapat mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan atas hidup kita. Ketika kita tidak dapat mengerti Tuhan, otomatis kita tidak dapat mengerti kebesaran rancanganNya, seperti tertulis bahwa Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yesaya 55:8-9). Orang yang tidak mengerti rancangan Tuhan akan cenderung lebih mudah khawatir dan menebak-nebak apa yang akan terjadi di depannya. Iman orang semacam ini tidak akan bertumbuh, karena ia akan mengandalkan dirinya sendiri dan pemahamannya sendiri atas segala sesuatu. Maka kunci solusi atas kekhawatiran adalah senantiasa membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan seperti apa yang Maria lakukan. Tuhan memberkati! (CBA)
Comments