Skip to main content

Biar ini jadi viral!

Pada masa pandemi seperti saat ini dimana semua orang banyak beraktivitas di rumah, konsumsi paling tinggi terjadi pada penggunaan internet. Arus informasi yang begitu cepat membuat perkembangan trend masa kini menjadi begitu mudah tersebar luas. Akibatnya? Banyak orang berusaha untuk mengikuti setiap trend yang ada agar tidak terlihat “ketinggalan.” Makanya sekarang ada istilah viral. Sepertinya kalau kita tidak mampu mengikuti trend yang ada kita menjadi pribadi yang tidak menarik dan biasa-biasa saja. Pola pikir ini akhirnya menciptakan fenomena generasi ikut-ikutan. Tidak perduli apa yang diikuti itu sebenarnya benar atau tidak, bermanfaat atau tidak, pokoknya jangan sampai ketinggalan.

Ternyata, Tuhan sebenarnya mau kita tampil beda loh! Matius 5:16 berkata: Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Tuhan mau bukan kita yang ikutan viral, tapi justru kita yang menciptakan viral yang positif sebagai teladan bagi orang banyak!

Menjadi pribadi yang benar-benar berbeda memang bukan perkara yang mudah, maka kebanyakan orang mengambil pilihan yang lebih mudah yaitu menjadi mirip dengan orang yang berada di posisi yang lebih baik atau memiliki kualitas pribadi lebih tinggi. Maka tidak heran bahwa banyak orang mau menjadi mirip dengan orang yang menjadi teladan atau idolanya. Sayangnya kita seringkali salah mengambil teladan. Kita terkadang mengambil teladan dari orang-orang dunia yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Kali ini kita mau belajar dari salah satu pribadi yang tercatat di Alkitab yang berani tampil beda dengan benar, yaitu Daniel. Daniel dan ketiga temannya adalah salah satu hasil rampasan perang yang berasal dari kerajaan Yehuda yang kalah perang dari raja Babel Nebukadnezar. Mereka dipilih karena dianggap tidak memiliki sesuatu cela, berperawakan baik, memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu. Sederhananya mereka adalah orang-orang yang dinilai cakap untuk bekerja dalam istana raja. Disini kita melihat bahwa Daniel dan teman-temannya pada dasarnya sudah berhasil menjadi pribadi yang berbeda dibanding kebanyakan orang. Namun tidak sampai disana, Daniel ternyata tidak tanggung-tanggung dalam menjadi pribadi yang berbeda! Daniel 1:8 (Indonesian Literal Translation) berkata: Dan Daniel berketetapan dalam hatinya bahwa dia tidak akan menajiskan dirinya dengan santapan raja atau dengan anggur minuman raja. Dan dia meminta kepada kepala sida-sida istana supaya dia jangan menajiskan dirinya.

Mengapa Daniel berkeras untuk tidak makan dan minum dari apa yang sudah disediakan bagi mereka? Apalagi bekal yang diberikan berasal dari santapan raja dan anggur yang biasa diminum raja, artinya yang diberikan kepada mereka adalah makanan dan minuman dengan kualitas paling tinggi! Ternyata, makanan raja pada jaman itu biasanya adalah makanan yang sudah dipersembahkan kepada dewa-dewa sebagai ucapan syukur terlebih dahulu. Daniel menolak makanan ini karena dia tahu, bahwa hal ini bertentangan dengan hukum Allah sehingga akan menyebabkan dirinya menjadi najis. Anggur juga ditolaknya karena minuman beralkohol punya kecenderungan menyebabkan pikiran menjadi tumpul karena efek yang memabukkan, apalagi anggur yang diminum raja pasti bukan anggur murah dengan kadar alkohol yang rendah. Pernah membayangkan seberapa besar resiko yang harus ditanggung Daniel dan teman-temannya jika raja tahu bahwa mereka menolak apa yang dimakan dan diminum oleh raja dan memilih makan sayur dan minum air saja? Apalagi titah raja adalah sesuatu yang mutlak pada masa itu.

Karena Daniel tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan imannya, Tuhan juga tidak tanggung-tanggung dalam memberkati Daniel dan mengaruniakan kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana yang bertanggung jawab atas seluruh orang-orang muda yang direkrut oleh Raja Babel. Pada awalnya kepala istana takut jika Daniel justru akan kelihatan lemas, kurus, atau sakit karena tidak mendapat asupan yang berkualitas seperti orang-orang muda lain yang sebaya dengan mereka, apalagi mereka hanya memakan sayuran dan meminum air. Kenyataannya, bukannya menjadi lemas, atas penyertaan dan kasih karunia Tuhan, Daniel dan ketiga temannya justru menjadi yang paling unggul dihadapan raja dibandingkan dengan orang-orang muda lainnya dan akhirnya direkrut langsung oleh raja Nebukadnezar untuk bekerja baginya.

Daniel memilih utk tetap bersinar terang di tengah keadaan yang menghimpitnya. Dia tidak takut untuk menerapkan prinsip kebenaran yang dipegangnya dan tidak malu atau takut menunjukkan imannya sebagai seorang yang takut akan Tuhan. Daniel dan ketiga temannya memilih untuk lebih takut akan Tuhan daripada takut akan hukuman raja atau bahkan resiko kematian. Tidak cuma satu kali, namun secara konsisten mereka terus tampil beda, ingat ketika raja nebukadnezar menghendaki semua orang untuk sujud menyembah terhadap patung emas buatannya? Atau ketika raja darius membuat peraturan yang melarang semua orang berdoa dan memohon kecuali kepada raja? Perapian yang menyala-nyala dan gua singa sekalipun tidak membuat Daniel dan ketiga temannya menjadi serupa dengan dunia! Bahkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berpegang teguh pada imannya hingga membuat raja meluap dengan kegeraman dan melemparkan mereka ke perapian yang dibuat tujuh kali lebih panas dari biasanya! Dalam Daniel 3:17-18 mereka berkata: Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.

Sebagai anak Tuhan, seringkali ketika kita berada di tengah-tengah dunia yang cenderung "sama", kita takut jika kita menjadi kelewat berbeda. Kita takut disebut radikal. Seringkali Kita lebih memilih menyembunyikan iman kita dan mematikan terang kita daripada harus dimusuhi oleh dunia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 12:2, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam 1 Yohanes 2:6, Firman Tuhan juga berkata Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup! Jadi daripada kita berusaha keras untuk menjadi serupa dengan idola kita di dunia, bukankah kita justru diminta untuk menjadi serupa dengan Kristus dan meneladani semua perbuatan-Nya?

Ingat peringatan Tuhan dalam Wahyu 3:16 yang berkata, Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Jadi, karena kamu hangat, tidak panas ataupun dingin, Aku akan memuntahkanmu dari mulut-Ku. Saya berdoa bahwa pada saat kita bertemu dengan Tuhan kelak, kita tidak malah dimuntahkan-Nya dari surga karena kita mengambil keputusan saat ini untuk menjadi pribadi yang tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan terang yang bercahaya lewat perbuatan kita dan memuliakan Bapa kita yang di Sorga! Biar kita semua jadi viral yang memberkati! Tuhan Yesus memberkati. (HM)

Comments