Skip to main content

Benarkah kita sesungguhnya sudah dewasa?

Hari ini saya belajar banyak tentang sifat kekanak-kanakan dari anak saya yang berumur lima tahun. Saya begitu merasa kesal ketika ia mengabaikan akan apa yang sudah saya tetapkan dan bahkan melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang saya minta. Di tengah rasa kesal saya, Tuhan berbicara secara personal dalam perenungan saya.

Saya bertanya kepada Tuhan mengapa saya rasanya begitu kesal karena apa yang diperbuat oleh anak saya, dan mengapa anak saya sulit sekali untuk dapat melakukan apa yang saya minta padahal apa yang saya minta adalah untuk kebaikannya. Tuhan menjawab saya dengan sederhana, yang pertama karena saya bukan Bapa di sorga. Dan yang kedua, karena anak saya masih anak-anak. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:11 berkata, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Apa sih sifat kanak-kanak itu? Dari apa yang bisa saya perhatikan dari anak saya, dia biasanya sulit mengerti apa yang diputuskan oleh orang tua, dan akhirnya selalu bertanya "kenapa?" Anak-anak juga seringkali lupa dengan apa yang sudah dinasihati oleh orang tuanya, sehingga berkali-kali melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Sepertinya apa yang kita katakan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Anak-anak juga cenderung lebih menyukai pemberian-pemberian yang bersifat material seperti mainan, makanan, atau dibawa berjalan-jalan, mereka belum mengerti konsep pemberian non-material seperti waktu, perhatian atau kebersamaan. Anak-anak juga seringkali masih egois, mementingkan diri mereka sendiri dibanding orang lain, sehingga mereka sulit untuk berbagi. Kalau sering dinasihati atau dimarahi, anak-anak malah bisa berpikir bahwa kita tidak menyayangi dia, padahal karena kita menyayangi dan meperhatikan mereka lah kita menjadi menjadi khawatir dan menasihati dia. Amsal 13:24 berkata, Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.

Semakin saya merenungkan sifat kanak-kanak, malah saya jadi merasa bahwa terkadang saya masih bersikap seperti kanak-kanak di hadapan Tuhan. Dalam keadaan tidak nyaman, saya masih pernah bertanya "kenapa?" kepada Tuhan. Saya juga masih suka lupa apa yang dinasihati oleh Tuhan lewat firman-Nya sehingga berulang-ulang melakukan beberapa tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, misalnya saya masih beberapa kali mengandalkan kekuatan saya sendiri atau pertolongan orang lain ketika menyelesaikan masalah yang tiba-tiba muncul, padahal Tuhan berkata dalam Yesaya 2:22, Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap? Selain itu, saya juga belum konsisten dalam mengendalikan keegoisan diri saya, padahal apapun alasannya, Yesus sendiri berkata dalam Lukas 6:32-33, Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Ada kalanya juga saya juga belum dapat mengambil keputusan yang tegas untuk mengambil batasan yang tegas dengan dunia. Hal ini membuat saya terkadang terombang-ambing oleh keadaan. Padahal Rasul Paulus berkata dalam Efesus 4:14, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Kejadian ini membuat saya menyadari bahwa saya masih jauh dari menjadi serupa seperti Kristus dalam segala hal yang saya perbuat.

Ujung-ujungnya bukan saya yang menegur anak saya, tapi Tuhan menegur saya lewat anak saya. Saya jadi beryukur bahwa Bapa di Surga tidak seperti saya bapa di dunia. Daud sebagai pribadi yang dekat dengan Tuhan berkata dalam Mazmur 86:15, Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia. Bayangkan jika Tuhan tidak panjang sabar, mungkin keselamatan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada saya sudah lama Ia ambil kembali karena berkali-kali saya gagal menjadi anak yang taat di hadapanNya. Untuk menjadi dewasa artinya kita perlu meninggalkan semua sifat kanak-kanak tersebut dan perlu menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita dapat dengan konsisten melakukan semua kehendak-Nya dengan tulus hati dan dengan pengertian yang benar tanpa memiliki harapan-harapan yang tidak pada tempatnya. Dalam alkitab terjemahan Good News Translation, Yesus memberi teladan dalam Lukas 2:52 dimana dikatakan bahwa, Jesus grew both in body and in wisdom, gaining favor with God and people. Dunia boleh membingungkan kita dengan segala jenis konsep tentang kedewasaan versi dunia, namun Rasul Paulus dalam Efesus 4:15 mengajak kita untuk: (tetapi) dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Ternyata, mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan sesungguhnya bukan hal yang rumit yah! Lewat apa yang saya alami sehari-hari, saya malah diberi nasihat secara khusus oleh Tuhan. Saya diingatkan kembali bahwa Tuhan perduli dengan saya dan dapat berbicara kepada saya secara personal lewat apapun juga selama saya mau untuk peka serta membuka hati dan pikiran saya buat Tuhan. Wahyu 3:20 mencatat bahwa Tuhan berkata, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Menjadi tua adalah sebuah hal yang tidak dapat kita kendalikan, tapi menjadi dewasa adalah sepenuhnya pilihan kita. Mari kita sama-sama senantiasa mengevaluasi diri kita dan meninggalkan sifat kanak-kanak kita, supaya kita bisa semakin dewasa, serupa dengan Kristus. Dan hidup kita dapat sesuai dengan yang tertulis pada 1 Yohanes 2:6, Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Jangan kita menyia-nyiakan waktu kita yang terbatas di dunia ini, sebab waktunya sudah dekat. Tuhan Yesus memberkati!

Comments