Skip to main content

Mengenal Pribadi Tuhan

Ketika kita melihat sekeliling kita dan apa yang terjadi, seringkali kita bertanya-tanya mengapa Tuhan mengijinkan banyak hal yang terlihat tidak adil terjadi. Mengapa ada orang-orang yang jahat bebas berkeliaran, banyak orang yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, dan banyak kemalangan menimpa orang-orang yang sudah berlaku benar? Dari hal ini saya mencoba menguji ulang, tentang pengenalan saya tentang Tuhan.

Dari apa yang saya pelajari, ternyata Alkitab sudah menyebutkan bahwa sedari dulu dunia memang tempat yang tidak adil. Salomo dalam kitab Pengkhotbah berkali-kali menyebutkan tentang hal ini: 

  • Pengkhotbah 3:16 "Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan."
  • Pengkhotbah 4:1 "Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan."
  • Pengkhotbah 5:8 "Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka." Hal ini senada dengan Pengkhotbah 10:5-6, "Ada suatu kejahatan yang kulihat di bawah matahari sebagai kekhilafan yang berasal dari seorang penguasa: pada banyak tempat yang tinggi, didudukkan orang bodoh, sedangkan tempat yang rendah diduduki orang kaya."
  • Pengkhotbah 7:15 "Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya."
  • Pengkhotbah 8:14 "Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: "Inipun sia-sia!"
  • Pengkhotbah 9:11 "Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua."

Bisa saya simpulkan bahwa sebagian besar dari kitab Pengkhotbah berbicara tentang ketidakadilan yang terjadi disekitar kita. Sekali lagi, mengapa Tuhan mengijinkan semua hal ini terjadi?

Sebenarnya jika kita pikirkan lebih dalam, akar dari semua permasalahan ini adalah Pilihan. Tuhan memberikan kita kehendak bebas [Freedom to Choose], kita tidak diciptakan seperti hewan yang hidup tanpa jiwa sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan tidak dapat memutuskan apa yang benar dan baik bagi dirinya. Kita tidak diciptakan layaknya hewan yang hanya bertahan hidup dengan mengandalkan insting. Sejatinya, kehendak bebas menandakan bahwa kita adalah ciptaan yang spesial, yang segambar dan serupa Allah sendiri. Kabar buruknya, setiap pilihan yang kita ambil mempunyai konsekuensinya masing-masing. Seringkali konsekuensi dari pilihan buruk yang kita ambil tidak berdampak kepada diri kita sendiri, namun kepada orang lain yang mungkin tidak tahu apa-apa. Adalah mudah bagi Tuhan untuk menghapus semua ketidak adilan atau kejahatan dari muka bumi. Tuhan hanya perlu mengambil kehendak bebas kita, dan kita tidak akan pernah punya pilihan untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tidak seharusnya. Jika begitu, apa bedanya kita dengan robot tanpa jiwa bukan?

Dari sudut pandang yang lain, kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita juga merupakan sebuah ujian. Lewat ujian ini Tuhan akan melihat apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan? Karena tidak ada kasih lewat paksaan. Kasih hanya akan dinyatakan lewat pilihan-pilihan yang kita ambil. Ketika kita sebagai manusia yang cenderung egois dan mementingkan diri sendiri memilih untuk mengutamakan Tuhan diatas kepentingan pribadi kita, disanalah kasih akan Allah tercermin dengan tulus. Lantas apakah artinya Tuhan membiarkan ketidak adilan terjadi? Daud dalam Mazmur 11:7 berkata: Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya. Ingat bahwa apa yang kita alami saat ini bukanlah akhir dari cerita perjalanan kita dengan Tuhan. Salomo dalam Pengkhotbah 3:17 mengatakan: Berkatalah aku dalam hati: "Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya." Percayalah bahwa sekalipun kita tidak menerima bagian kita saat ini, selambat-lambatnya dalam titik akhir perjalanan kita akan menerima segalanya dengan lunas dari Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah berhutang kepada siapapun.

Lalu apa hubungannya kehendak bebas dan pilihan hidup kita dengan pengenalan akan pribadi Tuhan? Saya menemukan bahwa meskipun kita seakan-akan memilih pilihan yang 'benar' dalam hidup kita, kita tetap bisa ada dalam posisi yang salah! Yesus dalam Matius 7:21-23 berkata: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Orang-orang yang berseru KEPADA Tuhan, orang-orang yang bernubuat DEMI nama Tuhan, orang-orang yang mengusir setan DEMI nama Tuhan, dan mengadakan BANYAK mujizat DEMI nama Tuhan seakan-akan telah mengambil keputusan-keputusan yang 'benar' dalam hidup mereka. Sayangnya pada titik evaluasi akhir mereka hanya menemukan bahwa mereka tidak berada di posisi yang benar. Yang saya tangkap, adalah orang-orang ini melakukan apa yang benar menurut pengertian mereka, bukan kehendak Tuhan. Disinilah pengenalah akan Allah menjadi penting! Ketika kita mengenal siapa Allah yang sesungguhnya dan segala sifat-sifatNya, maka dengan sendirinya kita tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri maupun keingian hati kita semata. Ketika kita mengenal Tuhan, kita sadar bahwa Tuhan ingin kita memiliki hubungan yang dekat denganNya seperti teladan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus semasa Ia ada di dunia ini. Dari hubungan kita yang intim dengan Tuhan, kita jadi bisa mengetahui secara real-time apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan untuk kita lakukan/putuskan dari setiap pilihan yang muncul di hadapan kita.

Tuhan mengasihi kita, dan bahkan Tuhan ingin kita dapat menikmati kebahagiaan di dunia sebelum kita masuk ke Kerajaan-Nya. Namun hal ini tidak dapat kita capai dengan baik jika kita tidak mengenal siapa Tuhan dengan benar. Firman Tuhan berkata: Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yesaya 55:8-9).  Bersandarlah kepada Tuhan sepenuhnya Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Tuhan memberkati! (CBA)

Comments