Skip to main content

Kesabaran dengan standar Tuhan

Dalam keadaan yang tidak nyaman, salah satu saran yang sering kita terima adalah 'bersabar.' Bersabar merupakan sebuah inisiatf yang mudah disebutkan, namun sulit dipraktekkan. Seringkali hanya dalam sepersekian detik kita bisa meledak dengan semua tekanan yang mungkin selama ini kita tahan-tahan di dalam hati kita. Suatu hari saya mendengar sebuah siaran podcast dari Rick Warren, dimana ia mengupas tentang bagaimana Firman Tuhan mengajarkan kita tentang bersabar. Saya mencoba menceritakan ulang apa yang saya terima dari siaran tersebut, semoga bisa menjadi berkat.

Firman Tuhan yang diangkat dalam sharing kali ini berasal dari surat Yakobus 5:7-11 yang tertulis sebagai berikut: Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Dari sini saya belajar bahwa Tuhan memberi tiga standar kesabaran yang harus kita miliki sebagai pengikut Kristus. Dan ketika saya mencoba merenungkannya, saya menjadi sadar bahwa ketika saya mampu menerapkan apa yang tertulis disini, rasanya bersabar menjadi sebuah hal yang jauh lebih masuk akal untuk dilakukan dalam koridornya Tuhan. Mengapa kita harus belajar dari Tuhan tentang bersabar? Saya rasa tidak ada pribadi lain yang lebih qualified untuk mengajarkan tentang kesabaran selain Tuhan.

Daud sebagai salah satu pribadi yang dekat dengan Tuhan mengatakan dalam Mazmur 86:15, Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia. Sekali lagi Daud berkata dalam Mazmur 103:8, TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dan pada Mazmur 145:8, TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Dari sini kita bisa melihat, betapa Daud begitu mengalami kesabaran Tuhan, hingga Daud berkali-kali berkata bahwa Tuhan itu PANJANG SABAR. Artinya bukan hanya pada saat tertentu Tuhan sabar, namun kesabaran Tuhan seakan tidak berhenti maka disebut panjang sabar. Bahkan ketika Daud melakukan dosa pun, Tuhan menunjukkan kesabarannya kepada Daud dan memberi kesempatan bagi Daud untuk bertobat lewat teguran nabi Natan (2 Samuel 12).

Surat Yakobus mengajarkan kita tentang 3 aspek kesabaran yang harus kita miliki, yang pertama adalah kesabaran dalam kondisi yang tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya. Pada Yakobus 5:5b tertulis bahwa Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Petani menjadi standar sabar yang pertama dari Tuhan. Saat seorang petani menanam, ia tidak dapat berharap bahwa apa yang ia tanam akan berbuah dalam waktu singkat. Butuh waktu yang relatif panjang hingga apa yang ia usahakan menghasilkan buah yang matang dan siap panen. Tidak peduli seberapa banyaknya pengalaman seorang petani dalam menanam, dalam prosesnya banyak hal yang petani tidak mampu kendalikan, apalagi memastikan hasil akhir dari apa yang ia kerjakan. Petani tidak pernah akan tahu jelas, kapan hujan akan turun, berapa banyaknya hujan turun. Petani tidak bisa memastikan bahwa tidak akan ada wabah hama atau bencana lainnya yang mendadak dapat muncul.

Terkadang dalam melakukan sesuatu, kita punya dorongan untuk mau melihat hasil yang positif sesegera mungkin. Semakin lama kita perlu menunggu, semakin tinggi harapan kita terhadap hasil yang kita hendak terima. Jika harapan ini tidak dikelola dengan baik, maka ketika hasil yang diterima tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita menjadi marah atau kecewa. Menurut saya, kesabaran adalah alat untuk mengelola ekspektasi dengan baik. Dengan kita sabar, kita bisa dengan rasional menjaga tingkat harapan kita. Dengan kita sabar, kita mampu memberi ruang bagi diri kita untuk memberi respon pada hasil apapun yang muncul dengan benar. Hal ini memampukan kita untuk memiliki manajemen emosi yang lebih sehat.

Standar kesabaran kedua yang Tuhan ajarkan, pada ayat 10 dikatakan: Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Jika kita telusuri lebih jauh, tidak semua nabi memiliki pengalaman yang menyenangkan seperti nabi Natan yang hanya perlu menegur Daud satu kali dan melihat pertobatan terjadi. Ingatkah kita akan apa yang terjadi pada nabi Musa? Dalam Bilangan 12:2 dikatakan bahwa Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Namun pada titik tertentu Musa yang kehilangan kendali atas emosinya dan bertengkar dengan umat yang dipimpinnya (Bilangan 20:3). Hal ini menyebabkan Musa tidak diperkenankan Tuhan untuk masuk ke tanah perjanjian. Ingatkah betapa marahnya Musa ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas? (Keluaran 32:19-20) Terkadang ketika kita mencoba menasehati saudara, teman, rekan kita, atau pasangan kita, kita menjadi tidak sabar ketika mereka tidak berubah sesuai harapan kita. Justru disini Tuhan meminta kita untuk sabar, layaknya Rasul Paulus yang kerap kali menuliskan surat-surat kepada jemaat Allah di berbagai lokasi. Paulus yang dahulu adalah saulus adalah seorang pribadi yang sejatinya jauh dari kata sabar. Kita bisa lihat betapa saulus dulu begitu 'bersemangat' menganiaya dan membinasakan para jemaat Allah hingga ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. (Kisah 8:3).

Disini saya belajar untuk melatih kesabaran saya terhadap orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekeliling saya. Saya belajar bahwa saya bukanlah Tuhan Yesus, saya bukanlah juruselamat. Saya hanyalah sebuah alat atau saluran yang Tuhan pakai untuk memberitakan diriNya, atau FirmanNya. Kalau Tuhan saja sabar dengan orang itu, apa hak saya untuk menjadi tidak sabar? Rasanya saya tidak perlu menjalani apa yang dialami oleh nabi Yunus ketika ia kesal karena ia sebenarnya menolak untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang di niniwe yang ia anggap tidak layak (Yunus 4). Sebagaimana kita harus menjadi serupa dengan Kristus, perkataan "Kuduslah kamu sebab Aku Kudus" (1 Petrus 1:16) juga dapat kita tangkap sebagai "Sabarlah kamu sebab Aku sabar."

Standar ketiga yang Tuhan berikan adalah Ayub. Dimana saya belajar bahwa saya harus sabar dalam keadaan sulit yang bahkan saya tidak tahu mengapa harus saya alami. Ayub mengalami pencobaan yang begitu besar dalam hidupnya dimana anak-anaknya tiba-tiba habis terbunuh oleh bencana alam (Ayub 1:18-19), di waktu yang bersamaan seluruh hartanya habis terbakar dan direbut oleh bangsa lain (Ayub 1:16-17). Tidak cukup disana, Ayub pun tertimpa penyakit barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya (Ayub 2:7). Bagi saya, yang paling berat bagi Ayub adalah, ia tidak mengetahui sama sekali mengapa ia harus menjalani apa yang ia alami? Ayub adalah pribadi yang saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan! (Ayub 1:1).

Betapa sabarnya Ayub bahwa sampai akhirnya ia tidak mengutuk atau marah terhadap Allah. Ia sabar menanggung segala sesuatunya. Atas kesabaran Ayub, keadaannya dipulihkan dan ditambahkan satu kali lipat atas segala sesuatunya (Ayub 42:10). Terkadang kita bertanya-tanya mengapa kita harus mengalami tantangan yang bertubi-tubi dalam hidup kita, apalagi kalau kita merasa sudah melakukan segala yang terbaik buat Tuhan. Disinilah kesabaran kita diuji, disinilah kita bisa belajar kepada Ayub.

Sabar memang tidak mudah, tapi dari apa yang saya lihat dan pelajari kesabaran selalu memiliki happy ending, sedangkan ketidak sabaran membawa kita kepada akhir yang seringkali disesali. Semoga keadaan yang sedang kita alami saat ini membawa kita selangkah lebih baik dan lebih dekat kepada Tuhan. Jangan biarkan emosi kita mengendalikan hidup kita, namun kita yang memutuskan untuk mengambil kendali penuh atas emosi yang ada di dalam diri kita. Layaknya Tuhan mengajarkan bahwa kasih itu adalah hukum yang terutama (Matius 22), kita juga belajar bahwa Kasih itu Sabar (1 Korintus 13:4). Tuhan memberkati. (CBA)

Comments