Skip to main content

Hawa nafsu dan persahabatan dengan dunia

Salah satu hal yang kerap kali menjadi masalah harian buat saya pribadi selaku orang yang berusaha mengikuti jejak dan ajaran Kristus adalah mengendalikan diri saya. Saya rasa hawa nafsu seorang manusia adalah salah satu ganjalan paling besar dalam perjalanan kita menuju hidup terbaik yang sudah dipersiapkan bagi kita. Pagi ini saya mendapat sebuah perenungan akan pergumulan yang setiap hari kita alami ini. Hal ini mungkin terkesan berat dan dalam, namun semoga apa yang bisa saya bagikan dengan segala keterbatasan saya bisa menjadi berkat dan membuka pikiran kita lebih jauh dalam proses pengenalan kita akan Allah.

Perenungan yang saya dapat kali ini berasal dari surat Yakobus 4:1-10 dengan judul perikop "Hawa nafsu dan persahabatan dengan dunia." Demikian Firman Tuhan berkata: Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Apa sih hawa nafsu itu? Dari salah satu artikel yang saya baca, hawa nafsu dapat didefinisikan sebagai sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dalam terjemahan Alkitab bahasa inggris, hawa nafsu seringkali diterjemahkan sebagai selfish desires. Sebuah keinginan untuk melakukan sesuatu yang pada hakikatnya hanya untuk kepentingan kita sendiri tanpa mempedulikan orang lain.

Jelas sekali dikatakan pada Firman Tuhan diatas bahwa dalam SEGALA sesuatu yang kita lakukan (termasuk segala hal yang berlabel rohani sekalipun) dibawah pengaruh selfish desires pada akhirnya kita tidak memperolehnya, tidak mencapai tujuan, tidak memperoleh apa-apa, dan tidak menerima apa-apa. Tantangannya adalah, setiap hari kita seringkali tidak terlepas dari segala perbuatan yang tujuannya adalah pemenuhan atau pemuasan keinginan. Setiap dari kita memiliki preferensi masing-masing, jenis makanan yang kita sukai, bentuk pakaian yang kita sukai, tempat hiburan yang paling asik menurut kita, tontonan yang kita konsumsi, genre musik yang kita nikmati, public figure yang kita sukai, cara kita mengerjakan sesuatu, hingga penampilan lawan jenis yang kita kagumi. Kalau mau jujur, semuanya merujuk kepada pemuasan selfish desires dengan level yang beragam mulai dari yang level santai hingga level ekstrem bahwa pendapat/keinginan kitalah yang paling benar atau harus dituruti. Malah dalam kasus dengan level yang cukup ekstrem ada kelompok orang yang bisa menjauhi atau bahkan memusuhi dan melawan orang-orang yang memiliki preferensi yang berbeda. Kalau sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini, frasa Christ is enough for me, everything I need is in You jadi sulit untuk manusia pahami dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya.

Firman tentang hal ini termasuk cukup keras, dimana tertulis pada ayat 4: Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. Jika persahabatan diartikan sebuah tindakan saling mendukung atau bekerja sama antara dua entitas atau lebih, maka persahabatan dengan dunia artinya kita mendukung hal-hal yang duniawi (berlawanan dengan apa yang Tuhan kehendaki atau tidak membawa kita lebih dekat kepada Tuhan). Alkitab mencatat dalam 1 Yohanes 2:16-17, Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Surat Paulus kepada jemaat di Galatia menjabarkan dengan jelas mengenai keinginan daging, dimana Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Sekali lagi ditegaskan bahwa dalam lingkaran ini, kita tidak akan mendapat bagian.

Keinginan mata memang terkadang tidak terasa 'jahat' bukan? Kalau hanya melihat masakah kita dianggap berdosa? Seperti kita memilih warna yang kita inginkan, makanan yang kita inginkan, penyanyi yang kita sukai, aktor yang kita kagumi, dan masih banyak lagi. Apakah semua itu dianggap kita melakukan keinginan mata? Dalam perenungan saya, saya mendapatkan pengertian bahwa bukan tindakan melihat yang menjadi masalahnya, namun ketika kita melihat dan tidak mampu mengendalikan diri kita atasnya, dimana keputusan dan tindakan kita justru dikendalikan oleh apa yang kita lihat, kita menciptakan dosa! Tidak percaya? Apa yang tercatat pada Kejadian 3:6 menjadi sebuah real-life example dari kasus ini: Perempuan itu MELIHAT, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. LALU ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Apa yang Hawa lihat mengendalikan pemikirannya dan akhirnya membuatnya bertindak. Tindakan inilah yang menciptakan dosa pertama bagi manusia. Tidak masalah jika apa yang kita lihat menjadi salah satu dasar kita bertindak, tapi pilihan itu tidak hanya karena penglihatan semata namun disertai dengan pemikiran yang rasional dan sejalan dengan kehendak Tuhan sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ingat, konsekuensi dari pilihan yang buruk karena menyalah gunakan kehendak bebas yang Tuhan berikan bisa menimpa dan merugikan orang lain tanpa kita sadari.

Lalu tentang keangkuhan hidup, dimana kita terjebak dalam sebuah kondisi dimana kita MERASA sanggup melakukan atau menyelesaikan sesuatu karena pengalaman kita, karena kemampuan kita, atau karena talenta dan sumber daya lainnya yang kita rasa miliki. Saat kita tidak mengakui kelemahan kita, dan ketidak berdayaan kita sebagai manusia disitulah kita sudah bersikap angkuh. Ayat 6 dari surat Yakobus mengutip Firman Tuhan bahwa "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Dan pada ayat-ayat selanjutnya dikatakan: Karena itu TUNDUKLAH kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! MENDEKATLAH kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! SADARILAH kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. RENDAHKANLAH dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. Kita diminta untuk meninggalkan keangkuhan kita dan berjalan mendekat kepada Tuhan dan mengenali Dia dengan sungguh-sungguh sehingga kita mampu mengetahui apa yang Ia kehendaki untuk kita lakukan. Paulus berkata dalam 2 Korintus 12:9: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab JUSTRU dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Inilah bagi saya dasar dari frasa Christ is enough for me.

Apa yang Rasul Paulus katakan tentang kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan kita adalah jawaban atas pergumulan kita dengan hawa nafsu. Tanpa Tuhan, mustahil bagi kita untuk melawan hawa nafsu, seperti yang Paulus katakan di dalam suratnya pada Roma 7:21-25Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Jadi saat kita merasa tidak mampu melawan hawa nafsu, artinya kita perlu mengarahkan diri kita lagi kepada perintah Allah, TUNDUKLAH kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Jangan kita malah terjerumus jatuh dan berkubang di dalamnya, Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali , tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana (Amsal 24:16). Bahkan seharusnya, waktu sebelum pergumulan itu terjadi, Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Matius 26:41). Inilah mengapa kita sering diajar untuk berdoa di pagi hari sebelum melakukan aktivitas apapun, bahkan Yesus memberi teladan serupa (Markus 1:35).

Tentu menjalankan hal ini tidaklah mudah, ketika kita memutuskan untuk mengadopsi pola pikir untuk tidak bersahabat dengan dunia, PASTI kita akan mengalami banyak inconveniences. Mulai dari yang level rendah seperti sindiran dan cibiran hingga yang level tinggi seperti dijauhi orang-orang yang selama ini dekat dengan kita hingga kehilangan peluang-peluang tertentu yang kita inginkan. Semua tantangan ini bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik (BETTER) atau orang yang penuh kepahitan (BITTER) sesuai dengan respon yang kita berikan. Better dan Bitter hanya memiliki perbedaan pada 1 huruf saja yaitu huruf [e] dan [i], saya melihat huruf [e] sebagai eksternalisasi, artinya kita menolak hal-hal atau perlakuan buruk dari luar untuk masuk ke dalam hati kita, sedangkan huruf [i] sebagai internalisasi, dimana kita mengijinkan hal-hal tersebut masuk ke dalam hati kita.  Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Tuhan memberkati! (CBA)

Comments