Skip to main content

Mengucap Syukurlah dengan Utuh!

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18). Berulang kali Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengucap syukur, terlepas apapun kondisi yang kita alami, karena dibalik apapun yang kita alami, semuanya itu dijadikan Tuhan sebagai proses bagi kita untuk semakin serupa dengan Kristus. Sayangnya, meskipun hal ini begitu sering diajarkan, tidak banyak yang benar-benar mempraktekkan syukur dengan utuh.

Jika kita melihat sejarah yang tercatat dalam Alkitab, praktek mengucap syukur sesungguhnya tidak hanya merupakan ucapan "saya bersyukur" ketika kita sedang berdoa kepada Tuhan. Ada elemen syukur yang pada masa ini seringkali kita lewatkan tanpa sadar, yaitu KORBAN SYUKUR. Firman Tuhan dalam Yeremia 33:11 berkata, Bersyukurlah kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!, sambil mempersembahkan korban syukur di rumah TUHAN. Sebab Aku akan memulihkan keadaan negeri ini seperti dahulu, firman TUHAN.

Pada masa perjanjian lama, khususnya pada kitab taurat tata cara memberi korban syukur diatur dalam kitab Imamat. Beberapa kali tercapat bahwa ada kalanya juga korban syukur diadakan berupa persembahan bakaran atau sembelihan kepada Tuhan. Mungkin akan ada yang berargumen bahwa praktek korban di perjanjian lama sudah tidak lagi relevan di masa ini, namun Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:17Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Dari apa yang saya pelajari, korban syukur sebenarnya memiliki makna sebagai tanda bukti bahwa kita sungguh-sungguh telah bersyukur kepada Tuhan. Di masa modern ini menurut saya hal ini ekuivalen dengan praktek sehari-hari dimana saat kita benar-benar berterima kasih kepada seseorang yang telah membantu kita dengan luar biasa, untuk menunjukkan kesungguhan hati (sincerity) kita kita biasanya menyertakan berbagai hadiah saat mengucapkan terima kasih bukan? Saat seseorang benar-benar menolong kita, kita dapat merasa bahwa sekedar ucapan terima kasih saja tidaklah cukup. Kalau terhadap manusia kita bisa seperti itu, apalagi terhadap Tuhan yang telah begitu baik dan setia menyertai dan menolong kita, bahkan mengangkat kita sebagai anakNya?

Lalu bagaimana tentang praktek korban syukur ini setelah digenapi Kristus? Firman Tuhan dalam Ibrani 13:15 berkata, Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Sebenarnya tidak banyak perubahan dalam konteks ini, karena pada hakikatnya dari sejak dahulu korban syukur diadakan untuk berterima kasih dan  memuliakan Tuhan. Pemazmur pun berkata: Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai! (Mazmur 107:21-22)

Inilah alasan mengapa saya berkata bahwa mengucap syukur dalam doa kita saja tidaklah cukup. Rasul Paulus pun mengajarkan hal yang sama, dimana dalam suratnya kepada jemaat di Kolose ia berkata: Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:16-17)

Kita perlu menunjukkan korban syukur kita lewat tindakan nyata kita tidak hanya untuk menunjukkan ketulusan hati kita kepada Tuhan, namun supaya dunia bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup orang percaya. Bukankah Yesus berkata bahwa Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Matius 5:14-15)

Saya pribadi cukup terkejut bahwa konsep korban syukur ini sebenarnya begitu terintegrasi dengan banyak pengajaran-pengajaran Firman Tuhan. Ingat cerita dimana Yesus mengucap syukur atas tujuh roti dan menjadikan roti itu sebagai makanan yang cukup untuk empat ribu orang dan menyisakan tujuh bakul potongan roti? (Markus 8:6-9) Memang tidak ada catatan apapun tentang korban syukur disana, namun jika kita menilik kembali bahwa korban syukur ada untuk memuliakan Tuhan bukankah peristiwa itu sudah menjadi mujizat yang memuliakan nama Tuhan? Ketika Yesus mengucap syukur atas roti dan anggur pada perjamuan makan yang terakhir, diriNya sendirilah yang menjadi korban syukur dan disalibkan untuk kemuliaan Tuhan. Setiap kali Yesus mengucap syukur dan melakukan sesuatu, nama Allah dipermuliakan.

Ada hal penting mengenai korban syukur yang tidak boleh kita lewatkan. Karena korban syukur adalah salah satu bentuk persembahan kita kepada Tuhan, maka Tuhan mau semuanya itu dilakukan dengan tulus hati, sebab Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7) Daud sendiri pun berkata dalam mazmurnya: Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, bersyukur sebab nama-Mu baik, ya TUHAN. (Mazmur 54:8)

Yang terakhir namun tidak kalah pentingnya, proses mengucap syukur dan memberi korban syukur haruslah dengan sikap hati yang benar. Yesus mengajarkan dalam perumpamaan tentang orang-orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14), dimana orang Farisi bersyukur kepada Allah dengan sikap hati yang tidak benar: Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Pada akhir perumpamaan Yesus berkata bahwa orang Farisi itu tidak dibenarkan Allah. Bukankah artinya semua yang telah ia lakukan menjadi sia-sia belaka? Saya tidak ingat apakah saya pernah melakukan kesalahan yang sama, namun saya berdoa bahwa saya tidak pernah melakukan apa yang orang Farisi tersebut lakukan, setidaknya saat ini saya mengambil keputusan untuk bertobat dan menjaga hati saya dengan waspada agar tidak melakukan hal tersebut kedepannya. Adalah baik saya mendapatkan teguran Tuhan ini sebelum semuanya terlambat.

Saya belajar banyak dari perenungan saya akan korban syukur ini, semoga apa yang bisa saya bagikan dengan segala keterbatasan yang saya miliki bisa menjadi sesuatu yang berdampak. Mari kita sama-sama belajar untuk mengucap syukur dengan utuh dan benar di hadapan Allah. Tuhan memberkati! (CBA)

Comments