Ada sebuah waktu saat perjamuan makan yang terakhir antara Tuhan Yesus dengan murid-muridnya (Yohanes 14). Pada saat itu Yesus sedang mengajar tentang Rumah Bapa. Saat Yesus mengajar, beberapa murid-Nya mulai bertanya, salah satunya adalah Filipus. Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
Filipus adalah salah satu murid Yesus yang banyak melihat bagaimana Yesus melakukan banyak perkara luar biasa, mengajar, dan melakukan mujizat. FIlipus juga merupakan salah satu murid Yesus yang Ia panggil secara pribadi (Yohanes 1:43). Filipus adalah murid yang Yesus cobai sebelum melakukan mujizat lima roti jelai dan dua ikan yang kita sering dengar. Saat itu Filipus dimintai pendapatnya untuk menyediakan makanan bagi orang-orang yang banyak tersebut (Yohanes 6). Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."
Dari percakapan ini, saya merasa bahwa Filipus adalah seorang yang memiliki logika yang kuat. Ketika sebuah masalah atau tantangan datang, Filipus cenderung berpikir dan mencari solusi secara praktis. Pada Injil Markus, tidak lama setelah kejadian Yesus memberi makan lima ribu orang (Markus 6:30-44), Yesus kembali melakukan mujizat yang serupa dengan memberi makan empat ribu orang (Markus 8:1-10). Meskipun tidak dijelaskan dengan detail, kemungkinan besar Filipus juga bersama-sama dengan Yesus pada kejadian kedua dan menjadi salah satu dari murid-murid-Nya yang berkata, "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Seorang teolog bernama Alban Butler juga mengatakan bahwa ada kemungkinan besar bahwa Filipus juga hadir ketika Tuhan Yesus mengadakan mujizat mengubah air menjadi anggur saat Ia hadir pada perkawinan di Kana.
Saya pribadi sering melihat bahwa saya dan Filipus memiliki karakter yang mirip dalam hal ini. Setiap kali masalah yang besar datang atau tantangan menghadang, saya punya kecenderungan akan secara spontan berpikir dengan logika yang saya miliki dan berusaha menganalisa dengan panjang lebar, tanpa melibatkan faktor Tuhan dalam perhitungan saya. Hal ini terkadang masih saya lakukan meskipun saya telah mengalami berbagai pengalaman bersama Tuhan, dan melihat bagaimana Ia melakukan banyak perkara dan mengubahkan banyak hal dalam kehidupan saya.
Apa yang menjadi jawaban Yesus atas pertanyaan Filipus mengenai Bapa pada Injil Yohanes 14 menggambarkan hal ini lebih lanjut. Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri."
Saat ini Indonesia sedang mengalami banyak penyesuaian akibat pandemi COVID-19. Sektor ekonomi menjadi salah satu sektor yang banyak mengalami dampak yang signifikan. Saya yang pada awalnya masih tenang-tenang saja, mulai bergejolak akhir-akhir ini. Saya mulai kembali berfokus pada fakta dan logika. Saya mulai kehilangan optimisme bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kondisi mental seperti ini tentu membuat performa dan produktivitas saya tidak maksimal, mulai ada blunder yang saya lakukan dalam pekerjaan saya. Rasa takut atas ketidakpastian ini pun muncul perlahan.
Ketika Firman ini datang kepada saya, saya merasa pertanyaan yang sama yang Tuhan Yesus lontarkan kepada Filipus diberikan kepada saya. Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Percayalah, pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang sangat tidak nyaman buat saya, apalagi saya ditugaskan juga sebagai pemimpin di kelompok rohani kecil dalam gereja lokal dimana saya tertanam.
Saya bersyukur bahwa Tuhan yang kita miliki adalah Tuhan yang membangun bukan menjatuhkan. Ia adalah kasih, tegas namun lembut dalam mengajar. Apa yang dikatakan Yesus selanjutnya dalam Firman tersebut mengajarkan saya apa yang harus saya lakukan dan membangkitkan iman saya. Kata Yesus: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.
Firman ini membuat saya tenang seketika, seakan-akan membuat saya siap menghadapi semua yang harus saya hadapi. Semua konsekuensi yang mungkin muncul akibat blunder saya, kondisi ekonomi negara yang memerlukan banyak penyesuaian, masa depan yang kelihatannya belum pasti, semuanya menjadi tidak signifikan. Hal ini serupa lirik salah satu lagu rohani yang berbunyi: It may look like I'm surrounded, But I'm surrounded by You.
Tidak sampai disana, Yesus bahkan mempersiapkan dengan baik setiap hari-hari kita kedepannya dengan memberikan penolong. Yesus berkata: Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.
Betapa baiknya Tuhan bagi saya, bahkan lewat Firman Ia berkata: Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Inilah yang membuat kita berbeda, inilah yang memampukan kita menjadi terang dan garam, inilah yang membuat saya mengerti betapa Tuhan mengasihi kita dan setia, bahkan pada saat-saat dimana kita mungkin jauh dari Tuhan, saat-saat dimana kita mungkin tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang seharusnya kita lakukan. Ini pengalaman yang membuat saya menghidupi Firman Tuhan yang berkata: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. (Matius 11:28-30)
Saya berharap apa yang menjadi pengalaman saya bersama Tuhan juga menginspirasi setiap yang membaca, dan saya berdoa agar setiap dari kita terus menerus mengalami pengalaman pribadi bersama Tuhan kita yang hidup, tidaklah cukup hanya mendengar dan melihat pengalaman yang dirasakan oleh orang lain. Tuhan memberkati! (CBA)
Comments